Lho, jadi nggak perlu "membangkitkan" mayat Suharto atau menunggu Prabowo jadi 
presiden untuk hidupkan kembali Dwifungsi ABRI, dong!!!???? Ya memang justru di 
jaman Jokowi ini para penganggur militer akan berbondong-bondong disalurkan dan 
menjabat di bidang sipil!! Apa nggak heibaat tuh presiden kalian, para 
pendukung Jokowi???!!









Bagaimana Jokowi Khianati Reformasi dengan Hidupkan Dwifungsi ABRI



Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Panglima TNI Marsekal TNI Hadi 
Tjahjanto (kiri) dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian (tengah) bersiap 
memberikan pengarahan kepada siswa Sesko TNI dan Sespimti Polri di Istana 
Negara, Jakarta, Kamis (23/8). Presiden Joko Widodo memberikan arahan secara 
langsung kepada 212 siswa Sekolah Staf dan Komando TNI dan peserta Sekolah Staf 
dan Pimpinan Tinggi Polri tahun 2018. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/ama/18
Oleh: Rio Apinino - 7 Februari 2019

tirto.id - "Cabut dwi-fungsi ABRI!" adalah salah satu slogan yang paling banyak 
dikumandangkan di jalanan oleh para pemuda-mahasiswa sebelum Soeharto jatuh 
hingga periode awal reformasi. Itu adalah satu dari beberapa amanat gerakan 
reformasi, yang, sayangnya, belum betul-betul terealisasikan meski presiden 
telah berganti berkali-kali. 

Alih-alih mengembalikan tentara ke barak, yang terjadi justru sebaliknya: 
pimpinan sipil, termasuk Joko Widodo, malah secara sadar menarik kembali mereka 
ke tengah-tengah kita. Upaya ini terjadi di tengah seringnya Jokowi bicara soal 
netralitas aparat. Ia mengatakan soal netralitas ini, misalnya, saat memberikan 
pengarahan kepada ribuan babinsa di Balai Prajurit di Makassar, 29 Juli tahun 
lalu. 

Gagasan utama dwifungsi adalah keikutsertaan angkatan perang dalam politik. 
Konseptornya adalah Jenderal (Purn.) Abdul Haris Nasution ketika menjabat 
Kepala Staf Angkatan Darat. Nasution memperkenalkan konsep "jalan tengah" yang 
jadi embrio dwifungsi. Jalan tengah membuka jalan bagi militer untuk 
berpolitik, bahkan mencampuri urusan sipil atas nama "stabilitas nasional" di 
kemudian hari.

Jika pengertian soal dwifungsi ini yang dipegang, maka kita bisa menyebut 
beberapa kasus yang mengindikasikan kembalinya dwifungsi itu di era Jokowi. 
Kita juga bisa menyebut beberapa harapan Jokowi ke tentara yang sebetulnya sama 
sekali di luar tugas utama mereka—berperang dan menjaga teritori negara. 

Beberapa contoh adalah pelibatan tentara dalam proyek swasembada beras hingga 
menertibkan demo dan mogok buruh.

Pelibatan tentara untuk 'mencetak sawah' dilakukan dengan dasar perjanjian 
kerja sama antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Jenderal (Purn.) 
Gatot Nurmantyo pada Januari 2015. Sementara pelibatan tentara menertibkan 
demo/mogok adalah berdasarkan nota kesepahaman antara Polri dan TNI pada awal 
tahun 2018. 

Yang paling baru, keinginan Jokowi untuk mengatasi masalah perwira nonjob di 
internal TNI dengan menciptakan 60 pos baru. Rencana ini kemudian diterjemahkan 
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, salah satunya dengan mendistribusikan 
para perwira itu ke kementerian. Hadi bahkan mewacanakan penempatan ini diatur 
dan dimasukan dalam revisi UU TNI.

Baca juga:   
   - Dwifungsi ABRI dan Jalan Terbuka Politik Tentara

Usulan ini dianggap masalah lantaran mengkhianati agenda reformasi. "Itu jelas 
masalah. Kita harus ingat UU TNI sebagai pedoman jelas mengatur batasan bagi 
TNI untuk beraktivitas di luar tugas pokoknya. Pemerintah harus hati-hati jika 
merevisi UU TNI melawan semangat reformasi karena itu akan sangat 
mengecewakan," kata peneliti militer dari Institute for Security and Strategic 
Studies (ISESS) Khairul Fahmi kepada reporter Tirto, Kamis (7/2/2019).

Pun demikian dengan pengamat militer sekaligus dosen FISIP UPN Veteran Jakarta, 
Beni Sukardis. Beni bilang, wacana ini seperti seperti langkah mundur. "Itu, 
kan, kembali ke dwifungsi ABRI. Kurang tepat kalau dia [TNI] masuk ke dalam 
lembaga-lembaga sipil lagi," katanya. 

Agar dapat menempatkan para perwira itu, UU TNI mesti direvisi. Bagi Direktur 
Imparsial Al Araf, jika aturan itu jadi diubah demi memuluskan langkah menyerap 
tentara di instansi sipil, nama Jokowi sebagai presiden sipil dan bukan bagian 
dari Orde Baru akan tercoreng.

"Masyarakat akan menolak karena menganggap itu kemunduran reformasi TNI," 
katanya, juga kemarin. 


Jadi 'Humas' Presiden Hingga Fasilitator BNPB

Selain (akan) terlibat dalam pelbagai urusan sipil, tentara era Jokowi juga 
dipergunakan layaknya humas. 

Ini terlihat, misalnya, ketika Jokowi meminta tentara terlibat 
mensosialisasikan program dan kerja pemerintah. Permintaan ini disampaikan saat 
pidato di hadapan perwira Sekolah Staf dan Komando TNI dan Sekolah Staf dan 
Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri di Istana Negara, Jakarta, Kamis, 23 Agustus 
2018.

"Yang berkaitan dengan program-program pemerintah... yang telah banyak kita 
lakukan, saya titip agar seluruh perwira juga ikut mensosialisasikan," kata 
Jokowi.

Baca juga:   
   - Abdul Haris Nasution Si Penggagas Dwifungsi ABRI


Ia juga meminta para babinsa—struktur terendah di tentara—membantunya menangkal 
hoaks PKI. Para babinsa diminta menjelaskan ke masyarakat kalau dia sama sekali 
tak punya kaitan dengan partai yang telah dilarang sejak 1966 itu. Yang 
terbaru, rencana pelibatan 5.000 babinsa sebagai fasilitator BNPB tahap 
pascabencana.

Bagi Wakil Direktur Imparsial Ghufron Mabruri, apa yang dilakukan Jokowi adalah 
bentuk abuse of power: memerintahkan aktor keamanan di luar tugas pokoknya. 
Ghufron menganggap Jokowi telah melanggar regulasi yang sudah ada sebab kondisi 
objektif yang mendukung pelibatan TNI belum ada.

"Enggak bisa sekonyong-konyong pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi 
mendorong pelibatan tentara di luar tugas pokoknya," katanya.

Mabes TNI membantah tengah berupaya kembali ke dwifungsi—posisi yang jelas 
menguntungkan mereka. Kepala Puspen TNI Mayor Jenderal Sisriadi mengatakan 
sejarah dwifungsi telah selesai ketika Soeharto jatuh pada 1998 lalu. 

"Saat reformasi kami mengalami transformasi. Jadi kalau kembali ke sana 
[dwifungsi] kami bingung caranya bagaimana," katanya, Rabu (6/2/2019) kemarin.
Baca juga artikel terkait DWIFUNGSI TNI atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik) 

Reporter: Dieqy Hasbi Widhana
Penulis: Rio Apinino

Kirim email ke