Sekedar mengingatkan saja....tapi masih ada yang terus ngotot Jokowi tidak 
didukung Oligarki!!
Taipan di balik Jokowi: Salim Group Terus Moncer
Submitted by redaksi2 on Kamis, 26 Mar 2015 - 00:10
KONFRONTASI-Perihal dukungan pengusaha – pengusaha besar dibalik Jokowi ini 
sudah menjadi rahasia umum. Sejumlah pengusaha besar yang diketahui berada di 
belakang Jokowi adalah Anthony Salim, James Riady, Robert Budi Hartono dan 
Edward Soeryadjaya. Dukungan para pengusaha besar ini pada bukanlah “gratis”, 
berikut kepentingan cukong – cukong Jokowi bila dirinya terpilih menjadi 
Presiden. Dalam artikel ini saya akan membahas lebih mendalam mengenai Sang 
cukong terbesar, Anthony Salim.

Anthony Salim adalah pemilik PT Indofood yang memonopoli pangsa pasar sejumlah 
produk pangan seperti gandum. Nilai impor gandum saat ini sangat besar, sekitar 
80 persennya dikuasai oleh Indofood. Sejatinya monopoli pangan seperti sudah 
tidak diperbolehkan dan di atur dalam undang – undang. Namun impor gandum ini 
dipertahankan karena harganya lebih murah padahal Indonesia bisa menanam gandum 
sendiri. Karena punya kuasa atas impor gandum tersebut, pengusaha yang lain 
tidak bisa melakukan produksi pangan sejenis. Selain itu, Di BCA pun kini 
Anthony Salim memiliki saham sebesar 1,76 persen.. Namun, Anthony masih 
mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari Flour Millsn sebagai 
tombak bisnisnya. Bisnis taipan Tionghoa terus moncer, sementara pribumi kian 
keteter. Teranyar, Antony Salim terus membenahi bisnis Grup Salim. Salim tetap 
ingin dihormati oleh para pelaku bisnis di Asia.

Liem Sioe Liong alias Sudono Salim boleh mati, tapi tidak dengan bisnisnya. Di 
tangan Antony Salim, puteranya, Grup Salim terus berbenah setelah sempat 
mengalami kemunduran akibat krisis ekonomi 1998. Penambahan sahamnya dari 20% 
menjadi 30% di Bank Ina dan aksi korporasi yang lain, menandakan kebangkitan 
itu.



Sebelum krisis, Group Salim merupakan konglomerat terbesar di Indonesia dengan 
aset mencapai US$ 10 miliar. Majalah Forbes bahkan pernah menobatkan Sudomo 
Salim alias Liem Sioe Liong, pendiri Grup Salim, sebagai Orang Terkaya di Asia 
Tenggara.

Krisis 1998 memang telah merontokkan beberapa perusahaan kebanggaan Grup Salim. 
Sebut saja Bank Centra Asia (BCA). Bank swasta terbesar di Indonesia ini hampir 
kolaps gara-gara masyarakat, yang panik melihat penutupan belasan bank oleh 
pemerintah, beramai-ramai menarik tabungannya. Antrean panjang mengular di tiap 
pojok anjungan tunai BCA di seluruh Indonesia. BCA pun terjerat kredit macet 
raksasa milik nasabahnya, termasuk yang dikucurkan ke grup sendiri.

Untuk menyelamatkan permodalan BCA, pemerintah mengucurkan dana Bantuan 
Likuiditas Bank Indonesia senilai Rp 52 triliun. Sebagai gantinya, Salim harus 
menyerahkan 108 perusahaannya ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional selaku 
wakil pemerintah.

Dari sinilah, satu per satu "permata" Salim lepas. Salim tak lagi menjadi 
pemilik mayoritas di sejumlah perusahaan yang dulu menjadi tambang uangnya. 
Sebut saja PT Indocement Tunggal Prakarsa dan PT Indomobil Sukses 
Internasional. Yang paling menyakitkan, Salim harus kehilangan BCA, yang hampir 
sepenuhnya jatuh ke tangan Grup Djarum dan Farallon Capital (Amerika Serikat).

Namun Antony tetap mempertahankan PT Indofood Sukses Makmur dan PT Bogasari 
Flour Mills.

Di tengah kontroversi yang tak pernah reda, Salim akhirnya mengantongi surat 
keterangan lunas dari pemerintah Megawati Soekarnoputri pada Maret 2004. 
Berbekal itu, Anthony pun perlahan-lahan kembali tampil ke panggung bisnis 
nasional.

Hanya selang tiga bulan, Anthony mengambil alih kendali PT Indofood Sukses 
Makmur dari tangan Eva Riyanti Hutapea. Ia muncul di hadapan wartawan dan 
pemegang saham dengan sejumlah rencana besar untuk menggenjot kinerja produsen 
mi instan terbesar di dunia ini. Termasuk melebarkan sayap ke mancanegara, 
dengan mencatatkan saham anak perusahaannya di bidang kelapa sawit dan minyak 
goreng, PT Salim Ivomas Pratama, di Singapura.

Untuk mendongkrak penjualan Indofood, Antony menggandeng Nestle S.A. Keduanya 
sepakat untuk memperlebar pangsa pasar Indofood dan Nestle. Deal bisnis antara 
dua kerajaan makanan dan minuman ini berujung pada pendirian PT Nestle Indofood 
Citarasa Indonesia. Perusahaan berstatus PMA ini menyedot dana Rp 50 miliar, 
dengan masing-masing pihak menyetor 50%.

Anthony percaya reputasi yang dimiliki kedua perusahaan setidaknya bisa 
mendongkrak nilai tambah bagi masyarakat dan pemegang saham. Perusahaan 
tersebut akan bergerak di bidang manufaktur, penjualan, pemasaran, dan 
distribusi produk kuliner. Mulai April 2005, pada botol kecap merek Piring 
Lombok sudah ditemukan “cap” perusahaan patungan tersebut.

Ke depan, Indofood masih akan memberi lisensi penggunaan merek produk kuliner 
kepada Nestle-Indofood. Indofood sendiri memiliki kekuatan pada profil produksi 
rendah biaya, jangkauan distribusi yang luas, dan kecepatan menjangkau konsumen 
melalui anak perusahaannya, PT Indosentra Pelangi, yang menjadi pemain utama di 
bidang industri bumbu penyedap makanan.

Sementara itu, Nestle bergerak di bidang produksi dan penjualan berbagai produk 
makanan dan minuman, termasuk mi instan dan bumbu penyedap makanan di seluruh 
dunia. Kekuatan perusahaan asal Swiss itu ada pada riset dan pengembangan yang 
kuat dalam memproduksi makanan dan nutrisi.

Sejak empat tahun lalu PT Indofood Sukses Makmur memiliki anak usaha bernama PT 
Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. Perusahaan terakhir ini adalah penggabungan  
empat perusahaan di bawah bisnis Grup Salim.

Empat perusahaan itu adalah PT Indosentra Pelangi, PT Gizindo Primanusantara, 
PT Indobiskuit Mandiri Makmur, dan PT Ciptakemas Abadi. Proses penggabungan 
empat perusahaan itu mulai dilakukan sejak September 2009 dan tuntas 17 Maret 
2010.

Perusahaan-perusahaan yang bergabung tersebut bubar demi hukum, tanpa dilakukan 
likuidasi lebih dahulu. Penggabungan perusahaan ke dalam Indofood CBP itu 
dilakukan melalui metode penyatuan kepentingan (pooling of interest) sesuai 
standar akuntasi keuangan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Salim juga kembali membangun bisnis gula, setelah Sugar Group miliknya di 
Lampung beralih tangan ke Gunawan Jusuf, bos Grup Makindo, yang membelinya dari 
Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Tiga pabrik gula dibangunnya di Ogan 
Komering Ulu, Muara Enim, dan Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Semua ini memberikan sinyal bahwa setelah krisis, Salim kembali mengarahkan 
fokus bisnisnya ke industri makanan dan produk konsumen. Inilah satu dari tiga 
sektor bisnis yang sejak awal menjadi bisnis inti Grup Salim. Kalaupun sebelum 
krisis Salim menggarap sektor lain seperti pertambangan dan elektronik, itu 
karena tuntutan membantu program pemerintah menggenjot sektor ekspor dan 
menyediakan lapangan pekerjaan.

Dengan fokus seperti ini, gurita bisnis Salim, yang semula tersebar dalam 12 
lini, mengkerut. Kalaupun di dalam negeri bisnisnya menciut, aset Salim di luar 
negeri dikabarkan justru membengkak.

Di luar negeri, bisnis Salim pun kian berkibar lewat bendera First Pacific, 
yang merambah pasar Filipina, Thailand, Hongkong, dan China. Antony juga 
melebarkan sayap bisnisnya ke India sejak tiga tahun lalu. Ia berniat menyulap 
kawasan Benggala Barat menjadi kawasan industri maju dengan nilai investasi US$ 
10 miliar.

Dengan sederet langkah besar itu, Salim tetap menjadi magnet bagi para pelaku 
bisnis di Asia.  Tapi anehnya, nama Antony tidak masuk dalam daftar 22 orang 
terkaya Indonesia tahun 2015 versi Majalah Forbes. Padahal, tahun lalu namanya 
masuk dalam lima besar. Apa yang terjadi? Apakah kekayaannya menguap? Wallahu 
a’lam.

Kirim email ke