https://tirto.id/benarkah-timses-prabowo-kondisi-ekonomi-bikin-milenial-jomblo-dgbC
Periksa Data
Benarkah Timses Prabowo; Kondisi
Ekonomi Bikin Milenial Jomblo?
Header Periksa Data Ekonomi dan Jomblo. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/benarkah-timses-prabowo-kondisi-ekonomi-bikin-milenial-jomblo-dgbC>
Header Periksa Data Ekonomi dan Jomblo. tirto.id/Sabit
Oleh: Irma Garnesia - 7 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Di Indonesia, alih-alih diancam persoalan jomblo nasional, generasi
milenial dibayangi kasus pernikahan dini./
tirto.id <https://tirto.id/> - “Terkait pernyataan saya 'Banyak milenial
jomblo karena kondisi ekonomi.’ Buat yang kemarin mencela pernyataan itu
dengan sadis dan mengatakan tidak ada hubungan antara ekonomi dengan
jomblo, ini beberapa penelitian yang mendukung pernyataan saya. Semoga
mencerahkan.”
Cuitan juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Gamal
Albinsaid, diunggah pada akun Twitter-nya
<https://twitter.com/Gamal_Albinsaid/status/1091575778842558466> pada 1
Februari 2019 pukul 21.55 WIB. Dalam cuitan tersebut, Gamal menyertakan
tiga poster penelitian yang mendukung pernyataan tersebut dan gambar
portal berita
<https://www.liputan6.com/pilpres/read/3882001/timses-prabowo-banyak-milenial-jomblo-karena-kondisi-ekonomi>
yang melaporkan pernyataan tersebut. Dari berita tersebut, terlihat
bahwa Gamal menilai alasan anak muda jomblo adalah sulitnya kondisi ekonomi.
Menelaah Rujukan Ekonomi dan Jomblo
Untuk menguatkan pernyataan mengenai hubungan antara jomblo dan status
ekonomi, Gamal mengutip Jonathan E. Monroe (PDF
<https://downloads.frc.org/EF/EF15J56.pdf>) (2015) dalam penelitian yang
berjudul "Millennials: Hard to Pin Down, Yet Ripe for Conversion".
"Milenial mengklaim bahwa persoalan menunda perkawinan disebabkan oleh
kesulitan ekonomi atau preferensi pribadi. Mereka juga ingin mengamankan
karier dan mencapai stabilitas ekonomi sebelum menikah," demikian
isinya. Poster ini menggarisbawahi ‘stabilitas ekonomi’ (/economic
stability/) dengan huruf warna merah.
Poster kedua menampilkan penelitian Martin, et.al (PDF
<https://www.urban.org/sites/default/files/publication/22586/413110-Fewer-Marriages-More-Divergence-Marriage-Projections-for-Millennials-to-Age-.PDF>)
(2014) dengan judul "Fewer Marriages, More Divergence: Marriage
Projections for Millennials to Age 40." Gamal mengutip Martin, “Ada
kekhawatiran terjadinya penurunan tajam angka pernikahan pada generasi
milenial karena guncangan ekonomi pada saat resesi. Tren angka
pernikahan pun tidak meningkat secara signifikan pasca resesi ekonomi.”
Guncangan ekonomi (/economic shock/) menjadi frasa yang diberi
/highlight/ merah.
Gamal juga mengutip penelitian dari Benjamin Gurrentz (PDF
<https://www.urban.org/sites/default/files/publication/22586/413110-Fewer-Marriages-More-Divergence-Marriage-Projections-for-Millennials-to-Age-.PDF>)
(2018) "Millennial Marriage: How Much Does Economic Security Matter to
Marriage Rates for Young Adults?" Pada bagian ini, Gamal meminjam
referensi studi Gurrentz dari American Community Survey periode
2012-2016. Studi tersebut menemukan bahwa, secara nasional, beberapa
indikator seperti pendapatan, kemiskinan, dan tempat tinggal (harga
rumah dan perabotan) berhubungan dengan tren pernikahan milenial.
Ketiga penelitian tersebut memang membahas pernikahan milenial. Namun,
milenial yang dibicarakan adalah milenial Amerika Serikat. Jika ingin
mencari perbandingan, perlu mempertimbangkan negara yang punya kemiripan
budaya, misalnya Malaysia dan Filipina. Perbandingan Indonesia dengan
India juga bisa dilakukan atas dasar populasi penduduk muda yang tinggi
dan tingkat perekonomian.
Penting juga melihat periode riset untuk mengecek aktualitas penelitian.
Penelitian Monroe dipublikasikan pada 2015 dengan referensi survei Pew
Research (PDF
<http://www.pewresearch.org/wp-content/uploads/sites/3/2011/03/millennials-marriage.pdf>)
pada 2010. Sementara itu, penelitian Martin, et.al dirilis pada 2014,
setahun lebih awal dari Monroe. Penelitian yang paling aktual berasal
dari Gurrentz yang dipublikasikan pada 2018.
Persoalan karier dan kesulitan ekonomi bukanlah satu-satunya alasan
milenial dalam menunda perkawinan. Sementara itu, stabilitas ekonomi
yang digarisbawahi Gamal konteksnya tidak merujuk stabilitas ekonomi
negara, melainkan stabilitas finansial secara pribadi.
Namun, meski karier dan stabilitas finansial dianggap penting, hal
tersebut bukanlah faktor utama dalam pernikahan. Cinta menjadi alasan
utama dalam pernikahan (88 persen), sedangkan stabilitas finansial
merupakan faktor kesekian dalam memilih pasangan.
Infografik Periksa Data Ekonomi dan Jomblo
Tak Menikah karena Merasa Tak Perlu Menikah
Monroe (2015) juga menuliskan bahwa milenial melihat urusan /parenting/
lebih penting ketimbang status pernikahan. Sebanyak 52 persen milenial
menyatakan menjadi orangtua yang baik lebih penting dan hanya 30 persen
yang menganggap sebaliknya.
Pembaca juga perlu memahami konteks budaya Amerika Serikat: pernikahan
bukanlah prasyarat mempunyai anak. Ini adalah salah satu alasan tren
pernikahan menurun. Pembahasan Monroe perihal pernikahan milenial juga
lebih luas dari persoalan ekonomi semata. Ia melihat bahwa milenial
mulai meninggalkan tradisi pernikahan yang dianggap usang dan mulai
memilih kohabitasi (tinggal bersama tanpa menikah).
Milenial juga dianggap mendukung pernikahan antar-budaya (/interracial/)
dan pernikahan sesama jenis. Kemudian pada penelitian Martin, Gamal
menggarisbawahi bahwa penurunan angka pernikahan terjadi akibat
permasalahan ekonomi.
Padahal, menurut penemuan Martin, tren tersebut menurun sejak era
milenium, pada 2000-an sebelum resesi ekonomi Amerika Serikat terjadi
pada 2008. Analisis Martin juga menjabarkan penurunan tren pernikahan
pada etnis minoritas, hispanik, dan kulit hitam, juga mereka yang
berpendidikan SMA ke bawah.
Penurunan ini terjadi karena etnis minoritas dan mereka yang
berpendidikan rendah terkena dampak ekonomi dan perubahan sosial yang
cukup besar pada dekade 2000-an, termasuk ketika mencapai usia dewasa
pada resesi ekonomi 2008. Sulit bagi mereka untuk memperbaiki kondisi
ekonomi pasca-resesi.
Secara keseluruhan, Martin menyarankan perlunya kebijakan untuk
mengakomodasi generasi minoritas yang tidak menikah dan
/single-parents/. Kebijakan tersebut termasuk bantuan sosial, jaminan
sosial, dan peraturan mengenai pajak. Martin juga menekankan perlunya
langkah pemerintah agar program ini mampu mencapai kedua kelompok tersebut.
Penelitian ketiga dari Gurrentz (2018) memang mengafirmasi poin-poin
Gamal. Gurrentz (2018) menjelaskan bahwa keadaan ekonomi memainkan peran
dalam penurunan tren pernikahan. Gurrentz meneliti beberapa faktor
seperti pekerjaan, pendapatan, kemiskinan, dan kepemilikan rumah, yang
dianggap sebagai indikator kemapanan.
Gurrentz memaparkan bahwa milenial berpatokan pada keadaan finansial
mereka, termasuk empat indikator tersebut, sebelum memutuskan untuk
menikah. Ia juga menekankan pentingnya stabilitas finansial sebelum
memutuskan untuk berumah tangga.
Pernikahan dalam Konteks Indonesia
Laporan BPS
<https://www.bps.go.id/publication/2017/12/25/b8eb6232361b9d8d990282ed/perkawinan-usia-anak-di-indonesia-2013-dan-2015-edisi-revisi.html>
(2017) mengenai perkawinan usia dini di Indonesia menyatakan adanya
kecenderungan pernikahan dini yang berhubungan dengan tingkat
kesejahteraan yang lebih rendah.
Laporan tersebut menyebutkan pada 2015, terdapat 28,28 persen perempuan
usia 20-24 tahun dalam kelompok 20 persen rumah tangga termiskin (Q1)
yang pernah menikah sebelum usia 18 tahun. Sementara pada kelompok 20
persen rumah tangga terkaya (Q5), angka menikah sebelum usia 18 tahun
hanya 12,57 persen.
Tabel ini menunjukkan peningkatan pendapatan paling rendah (Q1) ke
paling tinggi (Q5) memiliki berbanding terbalik dengan jumlah pernikahan
dini. Semakin rendah pengeluaran, semakin tinggi persentase tingkat
pernikahan dini.
Infografik Periksa Data Ekonomi dan Jomblo
Orang Desa Lebih Banyak Menikah Dini
Selain pendapatan, tempat tinggal juga mempengaruhi maraknya pernikahan
dini. Data Susenas menunjukkan tingkat pernikahan dini di perdesaan yang
jauh lebih tinggi dibanding perkotaan. Pada 2013 dan 2015, selisihnya
mencapai kurang lebih 10 persen.
Infografik Periksa Data Ekonomi dan Jomblo
Telaah ini menyimpulkan bahwa hubungan antara kondisi ekonomi dan jomblo
tidaklah sesederhana yang dilontarkan Gamal. Tiga penelitian yang
dikutipnya tidak serta-merta mengerucut pada sebab-akibat linier antara
kondisi ekonomi dan milenial jomblo.
Penelitian Monroe (2015) menunjukkan pandangan milenial terhadap
institusi pernikahan dan menyimpulkan perubahan pandangan soal
pernikahan dari generasi orangtuanya.
Sementara itu, penelitian Martin, et.al (2014) fokus pada peningkatan
kelompok yang tidak menikah dan orangtua tunggal yang akan memasuki usia
senja. Hanya penelitian Gurrentz (2018) yang menjawab hubungan antara
stabilitas finansial terhadap keputusan untuk menikah.
Selain itu konteks ekonomi, budaya dan wilayah juga perlu diperhatikan.
Tingkat kesejahteraan dan lokasi tempat tinggal memiliki pengaruh
signifikan terhadap maraknya pernikahan dini. Di Indonesia, alih-alih
diancam persoalan jomblo nasional, generasi milenial dibayangi kasus
pernikahan dini.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
<https://tirto.id/author/irmagarnesia?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Irma Garnesia
Editor: Maulida Sri Handayani