Jangan-jangan memang sudah tidak bisa....? Pada tanggal Sen, 11 Feb 2019 pukul 23.06 Sunny ambon <[email protected]> menulis:
> "Tak Menikah karena Merasa Tak Perlu Menikah", bukan berarti menolak > menikmati kenikmatan surga dunia langit ke tujuh. hehehehehe > > On Mon, Feb 11, 2019 at 10:53 PM kh djie [email protected] [GELORA45] < > [email protected]> wrote: > >> >> >> Yang jelas kondisi ekonominya Prabowo, tidak bikin Prabowo jadi jomblo ? >> Jadi apa yang bikin Prabowo jadi jomblo ? >> Kok kalah dengan BTP saja ? >> >> Pada tanggal Sen, 11 Feb 2019 pukul 21.43 'j.gedearka' >> [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: >> >>> >>> >>> >>> >>> https://tirto.id/benarkah-timses-prabowo-kondisi-ekonomi-bikin-milenial-jomblo-dgbC >>> >>> Periksa Data Benarkah Timses Prabowo; Kondisi >>> Ekonomi Bikin Milenial Jomblo? >>> [image: Header Periksa Data Ekonomi dan Jomblo. tirto.id/Sabit] >>> <https://tirto.id/benarkah-timses-prabowo-kondisi-ekonomi-bikin-milenial-jomblo-dgbC> >>> Header Periksa Data Ekonomi dan Jomblo. tirto.id/Sabit >>> Oleh: Irma Garnesia - 7 Februari 2019 >>> Dibaca Normal 3 menit >>> *Di Indonesia, alih-alih diancam persoalan jomblo nasional, generasi >>> milenial dibayangi kasus pernikahan dini.* >>> tirto.id - “Terkait pernyataan saya 'Banyak milenial jomblo karena >>> kondisi ekonomi.’ Buat yang kemarin mencela pernyataan itu dengan sadis dan >>> mengatakan tidak ada hubungan antara ekonomi dengan jomblo, ini beberapa >>> penelitian yang mendukung pernyataan saya. Semoga mencerahkan.” >>> >>> Cuitan juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Gamal >>> Albinsaid, diunggah pada akun Twitter-nya >>> <https://twitter.com/Gamal_Albinsaid/status/1091575778842558466> pada 1 >>> Februari 2019 pukul 21.55 WIB. Dalam cuitan tersebut, Gamal menyertakan >>> tiga poster penelitian yang mendukung pernyataan tersebut dan gambar portal >>> berita >>> <https://www.liputan6.com/pilpres/read/3882001/timses-prabowo-banyak-milenial-jomblo-karena-kondisi-ekonomi> >>> yang melaporkan pernyataan tersebut. Dari berita tersebut, terlihat bahwa >>> Gamal menilai alasan anak muda jomblo adalah sulitnya kondisi ekonomi. >>> >>> Menelaah Rujukan Ekonomi dan Jomblo Untuk menguatkan pernyataan >>> mengenai hubungan antara jomblo dan status ekonomi, Gamal mengutip Jonathan >>> E. Monroe (PDF <https://downloads.frc.org/EF/EF15J56.pdf>) (2015) dalam >>> penelitian yang berjudul "Millennials: Hard to Pin Down, Yet Ripe for >>> Conversion". >>> >>> "Milenial mengklaim bahwa persoalan menunda perkawinan disebabkan oleh >>> kesulitan ekonomi atau preferensi pribadi. Mereka juga ingin mengamankan >>> karier dan mencapai stabilitas ekonomi sebelum menikah," demikian isinya. >>> Poster ini menggarisbawahi ‘stabilitas ekonomi’ (*economic stability*) >>> dengan huruf warna merah. >>> >>> Poster kedua menampilkan penelitian Martin, et.al (PDF >>> <https://www.urban.org/sites/default/files/publication/22586/413110-Fewer-Marriages-More-Divergence-Marriage-Projections-for-Millennials-to-Age-.PDF>) >>> (2014) dengan judul "Fewer Marriages, More Divergence: Marriage Projections >>> for Millennials to Age 40." Gamal mengutip Martin, “Ada kekhawatiran >>> terjadinya penurunan tajam angka pernikahan pada generasi milenial karena >>> guncangan ekonomi pada saat resesi. Tren angka pernikahan pun tidak >>> meningkat secara signifikan pasca resesi ekonomi.” Guncangan ekonomi >>> (*economic >>> shock*) menjadi frasa yang diberi *highlight* merah. >>> >>> Gamal juga mengutip penelitian dari Benjamin Gurrentz (PDF >>> <https://www.urban.org/sites/default/files/publication/22586/413110-Fewer-Marriages-More-Divergence-Marriage-Projections-for-Millennials-to-Age-.PDF>) >>> (2018) "Millennial Marriage: How Much Does Economic Security Matter to >>> Marriage Rates for Young Adults?" Pada bagian ini, Gamal meminjam referensi >>> studi Gurrentz dari American Community Survey periode 2012-2016. Studi >>> tersebut menemukan bahwa, secara nasional, beberapa indikator seperti >>> pendapatan, kemiskinan, dan tempat tinggal (harga rumah dan perabotan) >>> berhubungan dengan tren pernikahan milenial. >>> >>> Ketiga penelitian tersebut memang membahas pernikahan milenial. Namun, >>> milenial yang dibicarakan adalah milenial Amerika Serikat. Jika ingin >>> mencari perbandingan, perlu mempertimbangkan negara yang punya kemiripan >>> budaya, misalnya Malaysia dan Filipina. Perbandingan Indonesia dengan India >>> juga bisa dilakukan atas dasar populasi penduduk muda yang tinggi dan >>> tingkat perekonomian. >>> >>> Penting juga melihat periode riset untuk mengecek aktualitas penelitian.. >>> Penelitian Monroe dipublikasikan pada 2015 dengan referensi survei Pew >>> Research (PDF >>> <http://www.pewresearch.org/wp-content/uploads/sites/3/2011/03/millennials-marriage.pdf>) >>> pada 2010. Sementara itu, penelitian Martin, et.al dirilis pada 2014, >>> setahun lebih awal dari Monroe. Penelitian yang paling aktual berasal dari >>> Gurrentz yang dipublikasikan pada 2018. >>> >>> Persoalan karier dan kesulitan ekonomi bukanlah satu-satunya alasan >>> milenial dalam menunda perkawinan. Sementara itu, stabilitas ekonomi yang >>> digarisbawahi Gamal konteksnya tidak merujuk stabilitas ekonomi negara, >>> melainkan stabilitas finansial secara pribadi. >>> >>> Namun, meski karier dan stabilitas finansial dianggap penting, hal >>> tersebut bukanlah faktor utama dalam pernikahan. Cinta menjadi alasan utama >>> dalam pernikahan (88 persen), sedangkan stabilitas finansial merupakan >>> faktor kesekian dalam memilih pasangan. >>> >>> [image: Infografik Periksa Data Ekonomi dan Jomblo] >>> >>> >>> Tak Menikah karena Merasa Tak Perlu Menikah Monroe (2015) juga >>> menuliskan bahwa milenial melihat urusan *parenting* lebih penting >>> ketimbang status pernikahan. Sebanyak 52 persen milenial menyatakan menjadi >>> orangtua yang baik lebih penting dan hanya 30 persen yang menganggap >>> sebaliknya. >>> >>> Pembaca juga perlu memahami konteks budaya Amerika Serikat: pernikahan >>> bukanlah prasyarat mempunyai anak. Ini adalah salah satu alasan tren >>> pernikahan menurun. Pembahasan Monroe perihal pernikahan milenial juga >>> lebih luas dari persoalan ekonomi semata. Ia melihat bahwa milenial mulai >>> meninggalkan tradisi pernikahan yang dianggap usang dan mulai memilih >>> kohabitasi (tinggal bersama tanpa menikah). >>> >>> Milenial juga dianggap mendukung pernikahan antar-budaya (*interracial*) >>> dan pernikahan sesama jenis. Kemudian pada penelitian Martin, Gamal >>> menggarisbawahi bahwa penurunan angka pernikahan terjadi akibat >>> permasalahan ekonomi. >>> >>> Padahal, menurut penemuan Martin, tren tersebut menurun sejak era >>> milenium, pada 2000-an sebelum resesi ekonomi Amerika Serikat terjadi pada >>> 2008. Analisis Martin juga menjabarkan penurunan tren pernikahan pada etnis >>> minoritas, hispanik, dan kulit hitam, juga mereka yang berpendidikan SMA ke >>> bawah. >>> >>> Penurunan ini terjadi karena etnis minoritas dan mereka yang >>> berpendidikan rendah terkena dampak ekonomi dan perubahan sosial yang cukup >>> besar pada dekade 2000-an, termasuk ketika mencapai usia dewasa pada resesi >>> ekonomi 2008. Sulit bagi mereka untuk memperbaiki kondisi ekonomi >>> pasca-resesi. >>> >>> Secara keseluruhan, Martin menyarankan perlunya kebijakan untuk >>> mengakomodasi generasi minoritas yang tidak menikah dan *single-parents*. >>> Kebijakan tersebut termasuk bantuan sosial, jaminan sosial, dan peraturan >>> mengenai pajak. Martin juga menekankan perlunya langkah pemerintah agar >>> program ini mampu mencapai kedua kelompok tersebut. >>> >>> Penelitian ketiga dari Gurrentz (2018) memang mengafirmasi poin-poin >>> Gamal. Gurrentz (2018) menjelaskan bahwa keadaan ekonomi memainkan peran >>> dalam penurunan tren pernikahan. Gurrentz meneliti beberapa faktor seperti >>> pekerjaan, pendapatan, kemiskinan, dan kepemilikan rumah, yang dianggap >>> sebagai indikator kemapanan. >>> >>> Gurrentz memaparkan bahwa milenial berpatokan pada keadaan finansial >>> mereka, termasuk empat indikator tersebut, sebelum memutuskan untuk >>> menikah. Ia juga menekankan pentingnya stabilitas finansial sebelum >>> memutuskan untuk berumah tangga. >>> >>> Pernikahan dalam Konteks Indonesia Laporan BPS >>> <https://www.bps.go.id/publication/2017/12/25/b8eb6232361b9d8d990282ed/perkawinan-usia-anak-di-indonesia-2013-dan-2015-edisi-revisi.html> >>> (2017) mengenai perkawinan usia dini di Indonesia menyatakan adanya >>> kecenderungan pernikahan dini yang berhubungan dengan tingkat kesejahteraan >>> yang lebih rendah. >>> >>> Laporan tersebut menyebutkan pada 2015, terdapat 28,28 persen perempuan >>> usia 20-24 tahun dalam kelompok 20 persen rumah tangga termiskin (Q1) yang >>> pernah menikah sebelum usia 18 tahun. Sementara pada kelompok 20 persen >>> rumah tangga terkaya (Q5), angka menikah sebelum usia 18 tahun hanya 12,57 >>> persen. >>> >>> Tabel ini menunjukkan peningkatan pendapatan paling rendah (Q1) ke >>> paling tinggi (Q5) memiliki berbanding terbalik dengan jumlah pernikahan >>> dini. Semakin rendah pengeluaran, semakin tinggi persentase tingkat >>> pernikahan dini. >>> >>> [image: Infografik Periksa Data Ekonomi dan Jomblo] >>> >>> >>> Orang Desa Lebih Banyak Menikah Dini Selain pendapatan, tempat tinggal >>> juga mempengaruhi maraknya pernikahan dini. Data Susenas menunjukkan >>> tingkat pernikahan dini di perdesaan yang jauh lebih tinggi dibanding >>> perkotaan. Pada 2013 dan 2015, selisihnya mencapai kurang lebih 10 persen. >>> >>> [image: Infografik Periksa Data Ekonomi dan Jomblo] >>> >>> >>> >>> Telaah ini menyimpulkan bahwa hubungan antara kondisi ekonomi dan jomblo >>> tidaklah sesederhana yang dilontarkan Gamal. Tiga penelitian yang >>> dikutipnya tidak serta-merta mengerucut pada sebab-akibat linier antara >>> kondisi ekonomi dan milenial jomblo. >>> >>> Penelitian Monroe (2015) menunjukkan pandangan milenial terhadap >>> institusi pernikahan dan menyimpulkan perubahan pandangan soal pernikahan >>> dari generasi orangtuanya. >>> >>> Sementara itu, penelitian Martin, et.al (2014) fokus pada peningkatan >>> kelompok yang tidak menikah dan orangtua tunggal yang akan memasuki usia >>> senja. Hanya penelitian Gurrentz (2018) yang menjawab hubungan antara >>> stabilitas finansial terhadap keputusan untuk menikah. >>> >>> Selain itu konteks ekonomi, budaya dan wilayah juga perlu diperhatikan. >>> Tingkat kesejahteraan dan lokasi tempat tinggal memiliki pengaruh >>> signifikan terhadap maraknya pernikahan dini. Di Indonesia, alih-alih >>> diancam persoalan jomblo nasional, generasi milenial dibayangi kasus >>> pernikahan dini. >>> >>> Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 >>> <https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword> >>> atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia >>> <https://tirto.id/author/irmagarnesia?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor> >>> (tirto.id - Politik) >>> >>> >>> Penulis: Irma Garnesia >>> Editor: Maulida Sri Handayani >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >>> >> >
