Kwik Kian Gie Bongkar Faktor Penyebab Banyaknya Kendaraan Enggan Lewat Jalan Tol


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Kwik Kian Gie Bongkar Faktor Penyebab Banyaknya Kendaraan Enggan Lewat J...

Dampaknya, banyak kendaraan, khususnya kendaraan berat, yang kemudian memilih 
untuk tidak menggunakan jalan tol....
 |

 |

 |



Rabu, 6 Februari 2019 17:06

 
Warta Kota/YouTubeKwik Kian Gie bongkar tarif tol selangit yang harus dibayar 
rakyat. 

 
Sosok ekonom Indonesia, Kwik Kian Gie membongkar tarif jalan tol mahal, yang 
dampaknya sangat dirasakan masyarakat bukan terjadi tanpa sebab.
Tarif jalan tol itu mahal terjadi karena baru di pemerintahan ini, investor 
asing diundang sebesar-besarnya untuk melakukan investasi.


"Pak Jokowi, Presiden Indonesia kan mengundang foreign investor, come to 
Indonesia, Anda bisa membuat untung di Indonesia," katanya dalam dialog Jaya 
Suprana Show yang diunggah di YouTube dan sejumlah media sosial.


 
Video ini pun menjadi salah satu video viral yang banyak disaksikan masyarakat 
dan mendapatkan banyak komentar.
Menurut Kwik Kian Gie, para investor asing itu akan bisa membuat untung di 
Indonesia.
"Dengan infrastruktur dapat membuat untung loh," katanya, menirukan gerakan 
mengajak yang dilakukan saat Presiden mengundang investor asing masuk ke 
Indonesia untuk melakukan investasi.
Jalan tol Jokowi mahal Ini ulasan Kwik Kian Gie


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Jalan tol Jokowi mahal Ini ulasan Kwik Kian Gie

Jalan tol Jokowi mahal Ini ulasan Kwik Kian Gie
 |

 |

 |


Kegiatan itu, dinilai Kwik Kian Gie, memang berdampak terhadap investor untuk 
melakukan investasi yang sebesar-besarnya di Indonesia.
Karena investasi itu harus menghasilkan untung, otomatis harus cepat, maka yang 
terjadi kemudian dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

 Truk dan kendaraan berat memilih untuk menggunakan jalan pantura, yang memicu 
kepadatan dan kemacetan luar biasa, setiap harinya. (Tribun Jateng)
 
Akibatnya, sebagian besar pengemudi truk dan kendaraan berat enggan menggunakan 
jalan tol, khususnya jalan tol terpanjang di Pulau Jawa yang menghubungkan 
Jakarta sampai Surabaya.
Dampaknya, banyak kendaraan, khususnya kendaraan berat, yang kemudian memilih 
untuk tidak menggunakan jalan tol.
Akhirnya keberadaan jalan tol tidak dirasakan manfaatnya untuk masyarakat 
bahkan kemacetan melanda jalan-jalan arteri.

 Kwik Kian Gie juga menjelaskan, situasi ini dampak dari pemodal asing disuruh 
membuat untung dari infrastruktur.
"Kan hanya mungkin kalau tarif infrastruktur dinaikkan," katanya.
Jadi, kata Kwik Kian Gie, rakyat Indonesia yang menggunakan jalan raya bebas 
hambatan atau jalan tol harus membayar mahal.
"Mereka yang menggunakan hal-hal penting bagi negara itu harus membayar tarif 
yang tingginya mencukupi untuk memberi keuntungan bagi pemodal asing, nah ini 
kalau presiden mengatakan begitu, bagaimana," katanya.

 Sementara itu, terungkap dari berita Tribun Jateng, pengendara kendaraan roda 
empat dan lebih mulai beralih memilih menggunakan Jalan pantai utara (Pantura) 
Jawa dikarenakan mahalnya tarif Ruas Tol Trans Jawa.
Seperti diketahui, tarif tol untuk kendaraan Golongan I dari Jakarta menuju 
Semarang mencapai Rp 334 ribu, dan untuk kendaraan berat, 2 kali tarif Golongan 
I.
Dan bagi mereka, tarif tersebut terlalu membebani.
Terutama bagi sopir kendaraan angkutan barang seperti truk yang harus 
menanggung biaya perjalanan.
Hasanudin (43) contohnya, sopir truk asal Kabupaten Kendal lebih memilih 
menggunakan jalur reguler karena tidak kuat membayar tarif jika harus masuk tol.
“Dari Semarang ke Jakarta berjarak tempuh 3 hari untuk pergi-pulang, paling 
uang saku yang diberikan perusahaan tinggal Rp 400 ribu,” jelasnya saat 
berbincang dengan Tribunjateng.com di Jalan Pantura Pekalongan-Batang, Jumat 
(25/1/2019).
 Dia menjelaskan, uang saku yang diberikan perusahaan mencapai Rp 3,6 juta 
untuk jalur Semarang-Jakarta.
“Solar Rp 1,6 juta, biaya bongkar Rp 300 ribu, dan membayar kernet Rp 600 ribu. 
Kalau ditotal sudah Rp 2,5 juta, itu belum termasuk makan bersama kernet selama 
3 hari,” jelasnya.
Hasanudin berucap, adanya Tol Trans Jawa sebenarnya memang mempercepat waktu, 
tetapi tarifnya terlalu memberatkan bagi sopir.
“Kalau tarifnya mahal nanti keluarga saya makan apa, karenanya saya lebih 
memilih lewat Pantura. Walaupun lebih lama,” ujarnya.
 Sama halnya Hasanudin, Ugik Setiawan, sopir truk asal Cirebon Jawa Barat pun 
mengeluhkan mahalnya tarif tol yang diberlakukan mulai 21 Januari 2019 itu.
“Kalau terlalu mahal ya ditinggalkan, karena banyak yang beralih melewati 
Pantura. Kami berharap tarif dikaji ulang agar kebih murah,” tambahnya. (Budi 
Susanto)















Kirim email ke