https://news.detik.com/berita/4424839/beda-dari-sindiran-fadli-begini-cerita-petruk-dadi-ratu-versi-umum
Selasa 12 Februari 2019, 15:23 WIB
Beda dari Sindiran Fadli, Begini Cerita 'Petruk
Dadi Ratu' Versi Umum
Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Share *0*
<https://news.detik.com/berita/4424839/beda-dari-sindiran-fadli-begini-cerita-petruk-dadi-ratu-versi-umum#>
Tweet
<https://news.detik.com/berita/4424839/beda-dari-sindiran-fadli-begini-cerita-petruk-dadi-ratu-versi-umum#>
Share *0*
<https://news.detik.com/berita/4424839/beda-dari-sindiran-fadli-begini-cerita-petruk-dadi-ratu-versi-umum#>
0 Komentar
<https://news.detik.com/berita/4424839/beda-dari-sindiran-fadli-begini-cerita-petruk-dadi-ratu-versi-umum#>
Beda dari Sindiran Fadli, Begini Cerita Petruk Dadi Ratu Versi Umum
Fadli Zon (Grandyos Zafna/detikcom)
*Jakarta* - Wakil Ketua DPR yang juga Waketum Gerindra, Fadli Zon
<https://www.detik.com/tag/fadli-zon>, kembali menyitir lakon pewayangan
'Petruk Dadi Ratu' seraya menyindir capres petahana Jokowi
<https://www.detik.com/pemilu/profil-calon/jokowi-maruf>. Sementara
sosok Petruk dalam sindiran Fadli dicitrakan tak berkapasitas jadi raja,
pada versi umum dalam dunia pewayangan rupanya itu berbeda.
"Petruk kemudian menjadi ratu karena ingin membangun, mendandani,
memperbaiki moral bangsa, memperbaiki akhlak, perilaku manusia, perilaku
melenceng," ungkap pengajar sastra Jawa UI Darmoko saat berbincang
dengan *detikcom*, Selasa (12/2/2019).
*Baca juga: *Fadli Zon Kembali Sindir Jokowi dengan 'Petruk Dadi Ratu'
<https://news.detik.com/read/2019/02/12/123355/4424486/10/fadli-zon-kembali-sindir-jokowi-dengan-petruk-dadi-ratu>
Fadli menyebut Petruk bisa menjadi raja karena mendapat 'wahyu
keprabon'. Sedangkan dalam cerita wayang, Petruk bisa menjadi raja
(dalam Basa Jawa disebut 'ratu') karena menggunakan pusaka Jamus Kalimasada.
"/Wahyu keprabon/ itu biasanya turun-temurun, didapatkan oleh yang
berhak. Misalnya didapatkan oleh tokoh Abimanyu, Arjuna. Meskipun
Abimanyu gugur di medan perang, tapi kan menurun ke anaknya, Parikesit,"
ujar Darmoko.
Sementara itu, Jamus Kalimasada jika diterjemahkan ke dunia nyata
berarti 'dua kalimat syahadat'. Darmoko memaknai pusaka Jamus Kalimasada
sebagai kedekatan dengan Tuhan.
*Baca juga: *Lakon 'Petruk Jadi Raja' yang Berbeda dari Puisi Fadli Zon
<https://news.detik.com/read/2018/11/19/112053/4307978/10/lakon-petruk-jadi-raja-yang-berbeda-dari-puisi-fadli-zon>
"Petruk sebagai simbol rakyat kecil ingin mencoba kedigdayaannya (Jamus
Kalimasada), ternyata dia bisa menjadi penguasa. Kalau Petruk
orientasinya positif, kalau yang merasa ada dampak negatifnya memang
mereka yang lawan-lawan dari Petruk yang berusaha menjatuhkan," tutur
Darmoko.
Sementara dalam sindiran Fadli sosok Petruk terungkap wujud aslinya
karena 'wahyu keprabon' hilang, menurut Darmoko, justru Petruk terungkap
oleh orang dekatnya sesama Ponokawan atau yang kemudian dikenal
kebanyakan orang dengan Punokawan. Sedangkan gelar Petruk ketika menjadi
raja memang 'Prabu Kantong Bolong' sesuai dengan yang disebut Fadli.
Hanya, Fadli kurang lengkap menyebutkannya, seharusnya 'Prabu Kantong
Bolong Welgeduwelbeh'.
"Kantong bolong jika diartikan bebas memang boros, selalu tidak
tersimpan segala sesuatu, artinya dalam menyimpan segala sesuatu harta
segala sesuatu terus habis. (Tapi) dalam konteks ini (Petruk Dadi Ratu)
dalam hal-hal ilmu pengetahuan, dia bisa menguasai yang lebih luas.
Karakteristiknya Petruk memang lebih pintar ketimbang Gareng maupun
Bagong, mempunyai pengetahuan, pintar mendeskripsikan rinci dibanding
dengan yang saudara-saudaranya. Gelar ini dibangun secara stereotip oleh
masyarakat Jawa, memang 'kantong bolong' dibangun ciri Petruk sendiri,
ada sisi positifnya ada sisi negatifnya," papar Darmoko.
Beda dari Sindiran Fadli, Begini Cerita 'Petruk Dadi Ratu' Versi
UmumTokoh wayang kulit Petruk. (Foto: Tropenmuseum via Wikimedia Commons)
Sementara itu, 'Welgeduwelbeh' dalam gelar Petruk, menurut Darmoko,
hanya kiasan. Gelar itu menggambarkan sosok Petruk yang berasal dari
desa, rakyat jelata, kemudian bisa menjadi raja.
*Lakon Petruk Dadi Ratu*
Darmoko pernah mengirimkan esai tentang lakon 'Petruk Dadi Ratu'
kepada*detikcom*. Kala itu dia berkomentar tentang puisi Fadli Zon yang
juga menyitir lakon tersebut.
"Petruk dengan kekuasaan yang dimiliki berusaha menegakkan keutamaan,
kebenaran, dan keadilan bagi rakyat di nagara Loji Tengara, mengingatkan
para kasatria Pandawa yang lupa diri, silau terhadap kekuasaan, dan
memperbaiki sikap Pandawa yang tidak peduli terhadap rakyat," tutur
Darmoko kala itu.
Berikut ini ringkasan cerita Petruk Dadi Ratu versi Darmoko:
/Prabu Bumiloka, raja Ima Imantaka, yang didukung oleh adiknya,
Mustakaweni dan begawan Mustakaraja (perubahan wujud dari Aji Gineng,
pusaka prabu Niwata Kawaca, ayah Prabu Bumiloka) ingin menguasai jimat
kalimasada dengan cara menyamar sebagai orang-orang Pandawa. Demikian
pula orang-orang Pandawa tidak kalah untuk menunjukkan kedigjayaannya
dengan berubah wujud sebagai orang-orang Ima Imantaka. Dalam adu
kesaktian saling menunjukkan kedigjayaan dalam upaya penguasaan terhadap
jimat kalimasada, akhirnya jimat kalimasada dapat dikuasai oleh Bambang
Priyambada, anak Arjuna. Bambang Priyambada (kemudian menjadi kekasih
Mustakaweni), menyerahkan jimat kalimasada kepada Petruk untuk
dititipkan. Bambang Priyambada bersama Mustakaweni bergabung dengan para
Pandawa di Saptaarga, sementara Petruk meninggalkan Amarta menuju ke
suatu tempat yang jauh agar tidak tertangkap dari kejaran orang-orang
Ima Imantaka./
*(bag/fjp)*
pilpres 2019 <https://www.detik.com/tag/pilpres-2019/> fadli zon
<https://www.detik.com/tag/fadli-zon/> jokowi
<https://www.detik.com/tag/jokowi/> wayang
<https://www.detik.com/tag/wayang/>