ANALISIS
Kerentanan Politisasi Isu Agama di Salat Jumat Prabowo
CNN Indonesia | Jumat, 15/02/2019 09:24 WIB
Kerentanan Politisasi Isu Agama di Salat Jumat PrabowoIlustrasi salat
Jumat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden nomor urut 02*Prabowo
Subianto<https://www.cnnindonesia.com/tag/prabowo-subianto>*sempat
terganjal penolakan saat berencana salat Jumat di Masjid Agung Kauman
Semarang, Jumat (15/2). Pengurus Masjid tak berkenan, lantaran rencana
Prabowo <https://www.cnnindonesia.com/tag/prabowo-subianto> terindikasi
ada mobilisasi massa, sehingga bermuatan politis.
Ketua Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman) KH Hanief Ismail
menyampaikan keberatan atas rencana Prabowo Salat Jumat berjamaah di
Masjid Kauman.
"Kami para nadlir atau takmir Masjid Kauman merasa keberatan dengan
rencana Jumatan Prabowo. Tolong sampaikan ke Bawaslu (Badan Pengawas
Pemilu) agar mengambil tindakan yang perlu sesuai aturan hukum," ucap
Hanief dalam keterangan tertulis yang diterima/CNNIndonesia.com/, Kamis
(14/2).
Isu salat jumat bukan hal baru bagi kedua capres ini. Beberapa kali,
tagar terkait salat jumat pun kerap muncul di lini masa Twitter.
Beberapa kali juga tagar itu sempat menjadi/trending topic/di jagat
Twitter Indonesia.
Lihat juga:
Pidato Kebangsaan di Semarang, Prabowo Bawa Tema Debat Kedua
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190215075351-32-369473/pidato-kebangsaan-di-semarang-prabowo-bawa-tema-debat-kedua/>
Kerentanan Politisasi Isu Agama di Salat Jumat PrabowoPrabowo Subianto.
(CNN Indonesia/Andry Novelino)
Pengamat Politik dari Universitas Al-Ahzar, Ujang Komarudin menyebut
salat Jumat semestinya tak dipolitisasi. Kata dia, semua umat Islam tak
terkecuali Prabowo maupun Jokowi berhak menjalankan salat Jumat, di mana
pun berada.
"Ambil hikmahnya saja. Jika ada penolakan, kan harus di dekati
pengurusnya. Kalau Jokowi dia memang Muslim. Jika dia salat Jumat bukan
pencitraan tapi kewajiban. Sama halnya dengan Prabowo. Jika Prabowo
salat Jumat bukan bagian dari pencitraan," kata Ujang, Kamis malam.
Meski begitu, Ujang tak mau mempermasalahkan penolakan dari pihak
pengurus Masjid Kauman terhadap Prabowo untuk melaksanakan salat di
masjid tersebut.
"Terkait penolakan dari pengurus Masjid Kauman mereka yang berhak atas
itu. Mungkin sudah mempertimbangkan banyak hal dan tidak mau
dipolitisasi," kata Ujang.
Lihat juga:
Masjid Kauman Ijinkan Prabowo Sholat Jumat Tanpa Atribut
<https://www.cnnindonesia.com/tv/20190215082509-400-369478/masjid-kauman-ijinkan-prabowo-sholat-jumat-tanpa-atribut/>
Lebih lanjut, dikatakan Ujang saat ini isu agama memang merupakan isu
yang paling mudah ditarik ke dalam isu politik. Sebab, kata dia, agama
merupakan isu yang cukup sensitif mengingat umat Islam termasuk umat
yang cukup militan dalam menjaga agama mereka.
"Makanya, jika ada yang memanfaatkan dan menggunakan isu agama, langsung
menjadi/viral/," kata dia.
Meski begitu, menurut Ujang, sebaikanya terkait ibadah ini tak harus
ditarik-tarik ke ranah politik. Apalagi salat Jumat. Sebab, ibadah
merupakan kegiatan yang suci dan tak ada sangkutannya dengan kepentingan
duniawi.
"Jadi beragama harus dengan hati dan pikiran yang suci dan bersih. Bukan
malah dipolitisir," katanya.
Lihat juga:
Doa & Dukungan Terus Mengalir Untuk Kesehatan Ani Yudhoyono
<https://www.cnnindonesia.com/tv/20190215082506-400-369483/doa-dukungan-terus-mengalir-untuk-kesehatan-ani-yudhoyono/>
Hal senada juga diungkapkan oleh Pengamat Politik dari Populi Center,
Rafif Pamenang Imawan. Dia pun menyayangkan sikap kedua kubu capres yang
justru ikut menggoreng isu tersebut.
"Menurut saya seharusnya pendukung kedua belah kubu tidak perlu membawa
isu ini ke publik, mengingat salat adalah urusan privat, bahkan untuk
calon presiden sekalipun," kata Rafif.
Dia menilai politik tidak seharusnya disangkutkan dengan atribut
keimanan seseorang, apalagi capres yang mestinya lebih fokus dibahas
adalah visi dan misinya untuk membangun bangsa saat terpilih kelak.
Rafif kemudian menarik asal muasal politisasi agama ini semakin gencar
diangkat hingga digoreng kedua kubu. Dari hasil survei Populi kata dia,
isu religiusitas capres dan cawapres justru menjadi poin kuat dalam
perbicangan di masyarakat.
"Keduanya terpaksa berebut atribut ke-Islaman, apabila identitas ini
terus diproduksi oleh kedua belah pihak. Suka tidak suka, maka isu Islam
akan terus menjadi isu dominan," kata dia.
"Tapi meski begitu, semestinya kedua kubu tidak perlu membawa isu salat
ini ke dalam kontes politik," katanya.
Lihat juga:
Tim BPN Bantah Upaya Pengerahan Massa Dengan Sebar Pamflet
<https://www.cnnindonesia.com/tv/20190215082505-400-369480/tim-bpn-bantah-upaya-pengerahan-massa-dengan-sebar-pamflet/>
*(tst/ain)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com