http://www.balipost.com/news/2019/02/15/68896/Bali-Menolak,Komisi-VII-DPR...html
Bali Menolak, Komisi VII DPR RI Tawarkan
Hidupkan Geothermal
Jumat, 15 Februari 2019 | 10:56:21
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F02%2F15%2F68896%2FBali-Menolak%2CKomisi-VII-DPR...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Bali+Menolak%2C+Komisi+VII+DPR+RI+Tawarkan+Hidupkan+Geothermal&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F02%2F15%2F68896%2FBali-Menolak%2CKomisi-VII-DPR...html&via=balipostcom>
*
*
Peta proyek geothermal Bali. (BP/dokumen)
DENPASAR, BALIPOST.com – Bali sejatinya sudah cukup tegas menolak
proyek geothermal di Bedugul. Namun, pemerintah pusat rupanya masih
belum menyerah untuk menghidupkan lagi geothermal. Meski dengan
mengorbankan kesucian dan kawasan hutan lindung.
Kali ini lewat Komisi VII DPR RI dengan dalih Bali akan menghadapi
persoalan besar yakni defisit energi pada 2024 jika tidak ada pembangkit
baru. “Disampaikan oleh PLN tadi tentu menganalisis pertumbuhan dari
listrik di Bali yang cukup besar, tetapi pasokannya terbatas,” ujar
Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu saat melakukan kunjungan
kerja ke Pemprov Bali, Kamis (14/2).
Rombongan Komisi VII awalnya diterima langsung oleh Gubernur Bali Wayan
Koster di Ruang Rapat Gabungan DPRD Bali. Namun di pertengahan, gubernur
harus menghadiri acara lain sehingga digantikan oleh Wakil Gubernur
Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati didampingi Sekda Provinsi Bali,
Dewa Made Indra.
Kendati sudah ada interkoneksi Jawa-Bali, Gus Irawan menyebut pasokan
listriknya masih terbatas di 350 MW. Solusi yang disiapkan PLN pun masih
bersifat jangka pendek seperti mobile power plant dan marine power
plant. Sementara untuk mewujudkan geothermal, terkendala masalah budaya.
Padahal menurutnya, suatu proyek besar secara umum pasti memunculkan pro
dan kontra. “Sama juga di kampung saya sudah produksi 330 MW. Itupun ada
penolakan, pasti, sampai sekarang pun masih ada orang yang merasa tidak
puas,” kata Politisi Gerindra Dapil Sumatera Utara 2 ini.
Gus Irawan juga menyebut Bali tidak memiliki banyak alternatif energi
baru terbarukan. Menolak geothermal bahkan disebut menyia-nyiakan rahmat
Tuhan.
Namun pihaknya tidak memaparkan secara detail mengenai hasil kajian
terkait geothermal, terutama dari aspek lingkungan. Gus Irawan hanya
menyebut geothermal tidak merusak hutan, tapi sebaliknya memberi
kewajiban bagi korporasi untuk merawat hutan. “Kalau soal kajian secara
ekonomis sudah pasti banyak untungnya. Memanfaatkan sesuatu yang hari
ini tidak bermanfaat apa-apa menjadi bermanfaat, dan Bali sangat butuh,”
imbuhnya.
Diwawancara terpisah, Wakil Gubernur Bali Tjok Oka Artha Ardhana
Sukawati dengan tegas menyatakan Bali tidak akan mengorbankan alam dan
budaya dengan menghidupkan lagi geothermal. Mengingat, Bali hanya
memiliki potensi alam dan budaya yang selama ini menjadi kekuatan
pariwisata.
Potensi sumber daya energi memang terbatas. Namun, memaksakan geothermal
hanya akan menjadi paradoks. “Kalau kita ikuti kebutuhan listrik kita,
maka budaya kita akan terkorbankan. Oleh sebab itu, harus dicari win-win
solusinya apa. Apa tidak ada upaya-upaya lain, di satu sisi sumber
budaya kita tidak terganggu, disisi lain listrik ini terpenuhi,” ujarnya.
Baca juga: AQUA Mambal Peduli Keseimbangan Ekosistem
<http://www.balipost.com/news/2017/03/23/3250/aqua-mambal-peduli-keseimbangan-ekosistem.html>
Bertolak belakang dengan Komisi VII, Wagub yang akrab disapa Cok Ace ini
justru menyebut Bali banyak memiliki potensi energi baru terbarukan.
Diantaranya, energi matahari dan angin. Untuk memenuhi kebutuhan listrik
minimal di 2024, Pemprov saat ini juga sudah mengupayakan pembangkit
listrik tenaga gas dan energi listrik dari mengolah sampah.
Pihaknya meyakini, Bali akan menemukan teknologi lain kedepan untuk
memenuhi pasokan listrik. “Ini (geothermal) paradoks sekali. Keyakinan
masyarakat akan terganggu. Oleh sebab itu, biarlah yang sudah jalan ini,
artinya energi dari sampah, kemudian mengganti batubara menjadi gas,”
tandasnya.
Sebelum menghadiri acara lain, Gubernur Bali Wayan Koster sempat
menyampaikan kepada Komisi VII DPR RI bahwa Bali hanya memiliki kekayaan
berupa adat istiadat, tradisi, seni, dan budaya. Inilah aset utama Bali
yang mendatangkan kesejahteraan lewat pariwisata. Itu sebabnya sejak
dilantik menjadi gubernur, pihaknya ingin menjaga keharmonisan alam Bali
beserta isinya dengan budaya sebagai haluan sesuai visi yang diusung.
“Di Bali, kami sedang menyiapkan regulasi berupa perda dan pergub untuk
melakukan konservasi alam yaitu pantai, laut, danau, sungai dan sumber
mata air lainnya agar tidak tercemar dan tidak diberdayakan secara
berlebihan,” ujarnya.
Terkait energi, lanjut Koster, harus berorientasi pada energi yang
menjaga lingkungan alam dan menjamin keberlanjutan pembangunan itu
sendiri. Itu sebabnya, pembangkit listrik di Celukan Bawang yang sudah
beroperasi dengan bahan bakar batubara agar diganti dengan gas.
Kalaupun tidak bisa diganti, paling tidak dilakukan perbaikan agar lebih
sehat dan tidak terlalu tinggi polusinya. Untuk rencana pembangkit baru,
harus memakai bahan bakar gas atau akan dicabut ijinnya.
Hal sama berlaku pula pada pembangkit lain seperti di Pesanggaran dan
Gilimanuk. Selain itu, mendorong pembangkit listrik dengan energi baru
terbarukan seperti tenaga surya dan air. “Sejalan dengan energi baru
terbarukan, kami juga ancang-ancang regulasi baru penggunaan sepeda
motor listrik. Kami menunggu Perpres-nya selesai untuk ditindaklanjuti
dengan Perda supaya di Bali menggunakan kendaraan bermotor ramah
lingkungan,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)