http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1459-presiden
/*Presiden*/
Penulis: *Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group* Pada: Sabtu, 02 Mar
2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1459-presiden>
<http://twitter.com/home/?status=Presiden
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1459-presiden via
@mediaindonesia>
Presiden
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/03/49f8bf5d09c3dff37ef841d6e817b16a.jpg>
POLITIK dan bangsa Amerika Serikat terguncang. Michael Cohen, mantan
pengacara pribadi Presiden Donald Trump, ‘melemparkan bom’ ketika
memberikan testimoni di depan Komite Pengawasan Kongres AS. Ia menilai
Presiden Trump sebagai pemimpin yang rasis, penipu, dan pembohong.
Selama enam jam, Rabu lalu, Cohen melampirkan bukti-bukti yang
menguatkan pernyataannya itu. Anggota Kongres dari Partai Republik
mencoba mematahkan tuduhan Cohen dengan berbagai pertanyaan yang
berupaya menggambarkan bahwa mantan pengacara Trump itu sebagai orang
yang tidak pantas dipercaya. Namun, Cohen mampu mematahkan tuduhan itu
dan mengatakan, “Saya memang pernah berbohong, tetapi saya bukan
pembohong. Saya pernah berbuat buruk, tetapi saya bukanlah ‘bad man’,”
kilah Cohen.
Orang yang pernah 13 tahun mendampingi dan bekerja untuk kepentingan
Trump, masih akan dua kali lagi memberikan testimoni di depan Kongres.
Kemarin malam ia diminta memberikan keterangan di depan Komite Intelijen
Kongres.
Cohen membuka semua kebohongan yang pernah dilakukan Trump. Mulai soal
hubungannya dengan Rusia, soal pembocoran e-mail Hillary Clinton,
penggelapan pajak, affairs-nya dengan bintang film porno, hingga sikap
rasis kepada kelompok kulit hitam. Trump dinilai bukan bekerja untuk
kepentingan membangun Amerika yang hebat, melainkan sekadar untuk
kepentingan kekuasaan dan kekayaan pribadinya.
Pengakuan Cohen pasti akan berdampak kepada perpolitikan AS. Orang mulai
mengaitkan dengan apa yang dulu dihadapi Presiden Richard Nixon. Ketika
itu Nixon terlibat dalam kasus pembobolan kantor Partai Demokrat. Kasus
Watergate itu membawa Nixon mundur dari jabatannya.
Cohen tidak memikirkan langkah politik yang akan dilakukan politisi AS.
Ia hanya mengingatkan pentingnya rakyat Amerika untuk tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Pemimpin jangan hanya dilihat dari penampilan luar
yang seakan-akan peduli kepada kepentingan negara, tetapi sebenarnya
kekuasaan itu hanya diperuntukkan bagi dirinya sendiri.
Pernyataan penutup Cohen pantas untuk menjadi kesadaran kita semua yang
sekitar 50 hari lagi akan memilih pemimpin. Kita harus melihat rekam
jejak dari para calon pemimpin dan melihat apa yang selama ini pernah
mereka kerjakan untuk bangsa dan negara.
Kita tidak pernah bosan untuk mengingatkan, demokrasi yang kita sedang
bangun bukan untuk mengejar kekuasaan semata. Demokrasi itu alat untuk
menciptakan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tanggung jawab pemimpin untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan
segenap warga bangsa bisa melakukan kegiatan yang produktif. Ada jaminan
bagi warga untuk bisa melakukan kegiatan usaha, ada kemudahan untuk
mendapat dukungan pendanaan, ada infrastruktur yang memadai untuk
membawa masuk dan keluar produk, serta ada sistem pasar yang adil.
Tugas pemimpin membuat aturan main yang berlaku sama untuk setiap warga.
Tidak boleh ada yang namanya nepotisme, apalagi yang namanya kolusi dan
korupsi. Negara ini sudah ditetapkan untuk dijalankan dengan sistem
ekonomi kekeluargaan, bukan untuk kepentingan keluarga-keluarga pemegang
kekuasaan saja.
Kita sudah merasakan kondisi yang lebih baik sekarang ini. Indonesia
sudah masuk kelompok negara ‘layak investasi’. Pengakuan yang diberikan
perusahaan pemeringkat membuat ‘risiko negara’ kita semakin menurun.
Akibatnya, biaya uang untuk berinvestasi bisa lebih murah dari masa
sebelum ini.
Menariknya ekonomi Indonesia tecermin dari tingginya aliran modal masuk
ke negeri kita. Dalam dua bulan terakhir ini setidaknya lebih dari Rp50
triliun aliran modal dari luar negeri masuk Indonesia. Ini tentunya bisa
menjadi modal bagi kita untuk maju.
Beberapa kali kita sampaikan, Indonesia akan bisa menjadi kekuatan
ekonomi yang luar biasa karena modal sosial dan ekonomi yang kita miliki
begitu luar biasa. Bonus demografi membuat jumlah orang produktif di
Indonesia jauh lebih tinggi dari yang tidak produktif. Kelas menengah
Indonesia juga memiliki daya beli yang besar.
Apabila kita melihat Pulau Jawa, kita pantas takjub dengan potensi
ekonomi yang kita miliki. Dengan produk domestik bruto sekitar US$600
miliar, ekonomi Jawa lebih besar dari Taiwan ataupun Argentina.
Sementara itu, dengan PDB sekitar US$250 miliar di Jabodetabek, ekonomi
di wilayah ini sama besarnya dengan negara Cile, dan bahkan lebih besar
dari Finlandia atau Vietnam.
Untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik, kita tidak boleh asal
memilih pemimpin. Kita harus memilih presiden yang sungguh-sungguh mau
berkorban untuk membangun bangsa dan negara ini. Kita butuh pemimpin
yang asketis karena ia pasti tidak akan silap oleh silaunya harta dan
menggodanya kekuasaan itu. Mari kita belajar dari kesalahan bangsa Amerika.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1459-presiden>
<http://twitter.com/home/?status=Presiden
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1459-presiden via
@mediaindonesia>