https://tirto.id/klaim-tahu-kuburan-aktivis-agum-jangan-permainkan-keluarga-korban-djey
<https://tirto.id/q/politik-bpt>
Klaim Tahu Kuburan Aktivis: Agum
Jangan Permainkan Keluarga Korban
Ketua Umum DPP Pepabri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar (keempat kanan)
bersama sejumlah purnawirawan TNI dan Polri menyampaikan keterangan
kepada wartawan usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kantor
Presiden, Jakarta, Selasa (25/7). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
<https://tirto.id/klaim-tahu-kuburan-aktivis-agum-jangan-permainkan-keluarga-korban-djey>
Ketua Umum DPP Pepabri Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar
(keempat kanan) bersama sejumlah purnawirawan TNI dan Polri
menyampaikan keterangan kepada wartawan usai bertemu dengan
Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa
(25/7). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Oleh: Felix Nathaniel - 12 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
/Komnas HAM menyarankan agar Agum Gumelar melapor ke Kejagung bila
mengetahui soal aktivis yang hilang, karena keluarga korban telah lama
menunggunya./
tirto.id <https://tirto.id/> - Klaim Agum Gumelar yang mengatakan
dirinya tahu nasib para aktivis 1998 yang disebut dihilangkan secara
paksa oleh Tim Mawar Kopassus mendapat sorotan dari Komnas HAM. Ia
didesak melaporkan hal itu ke Kejaksaan Agung karena keluarga korban
sudah lama menunggu.
Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara berharap Agum tak hanya
menjadikan kasus hilangnya aktivis untuk kepentingan Pilpres 2019
semata. Beka menyarankan agar Agum melapor atau memberi keterangan
kepada Kejaksaan Agung.
Hal ini, kata Beka, karena berkas penyelidikan Komnas HAM sudah
diserahkan pada Kejaksaan Agung. Menurut dia, bila memang ada informasi
baru, maka seharusnya langsung disampaikan daripada hanya membangun
harapan kosong di media.
“Siapa pun yang punya informasi baru mengenai peristiwa itu silakan
laporkan kepada Kejaksaan Agung," kata Beka saat dikonfirmasi reporter
/Tirto.
/
Pernyataan Beka ini sebagai respons atas klaim Agum soal nasib aktivis
yang hilang jelang reformasi 1998. Agum bahkan menunjuk nama salah satu
biang kerok peristiwa itu, yakni Prabowo Subianto yang kala itu menjadi
Ketua Tim Mawar dan saat ini sebagai capres pada Pilpres 2019.
“Ketika dari hati ke hati dan mereka [tim Mawar], di sinilah saya tahu
bagaimana matinya orang-orang itu, di mana dibuangnya. Saya tahu," ujar
Agum seperti dikutip /cnnindonesia.com
<https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190311111817-32-376144/agum-gumelar-klaim-tahu-detail-seputar-penculikan-aktivis-98>./
Karena itu, Beka menyarankan agar Agum melaporkan ke Kejagung. Sebab,
kata Beka, Indonesia adalah negara hukum. Artinya, jika memang Agum
mengetahui dan berniat menyelesaikan masalah, maka seharusnya tidak
perlu berkoar-koar di media menjelang Pilpres 2019.
“Supaya tidak melebar menjadi politisasi, maka langsung saja berikan
keterangan resmi. Karena ini menyangkut keluarga dan korban itu
sendiri,” kata Beka.
Hingga kini, keluarga aktivis yang hilang itu memang masih menunggu
kabar mereka. Salah satunya adalah Dyah Sujirah alias Sipon, istri Wiji
Thukul. Dalam film /Istirahatlah Kata-Kata/
<https://tirto.id/menghidupkan-thukul-melalui-film-chmF> yang dirilis
2017, misalnya, Sipon mengisahkan betapa berat beban yang ia derita saat
suaminya hilang.
Baca juga:Menghidupkan Thukul Melalui Film
<https://tirto.id/menghidupkan-thukul-melalui-film-chmF>
Sipon juga berharap ada kabar pasti terkait nasib suaminya. “Kalau masih
hidup, di mana tinggalnya. Kalau sudah meninggal, di mana kuburannya.
Ada juga orang yang bilang Wiji Thukul sudah kaya raya dan punya istri
banyak. Tapi saya tidak percaya kalau tidak melihat dengan mata kepala
sendiri,” kata dia, seperti dikutip /tempo.co/
<https://nasional.tempo.co/read/1088921/20-tahun-reformasi-derita-keluarga-aktivis-yang-hilang/full&view=ok>,
tahun lalu.
Wiji Thukul adalah satu dari 13 aktivis yang menghilang pada peristiwa
kerusuhan Mei 1998. Satu kemungkinan, semuanya sudah meninggal dunia.
Hanya saja, sampai saat ini mereka dinyatakan hilang karena jenazah tak
pernah ditemukan.
Sipon mungkin masih terbilang beruntung karena masih hidup hingga saat
ini. Beberapa keluarga korban aktivis yang menghilang lainnya malah
sudah dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum mengetahui nasib keluarganya
yang "diculik".
“Lambat laun keluarga korban penculikan pada mati, seperti Mami Koto dan
Bu Nur Hasanah (ibu Yadin Muhyidin). Aku melihat langsung penderitaan
mereka, sudah enggak bisa lagi nahan sakit hatinya sampai mati," kata
Sipon
<https://nasional.tempo.co/read/1088921/20-tahun-reformasi-derita-keluarga-aktivis-yang-hilang>.
Jelang Pilpres 2019, Sipon dan keluarga korban lainnya seperti mendapat
angin segar soal kabar aktivis yang hilang. Meski debat pilpres seputar
HAM sudah usai, salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Agum
Gumelar mengaku tahu detail peristiwa penculikan aktivis itu.
*Jangan Permainkan Keluarga Korban*
Anggota Divisi Pemantauan Impunitas Kontras, Dimas Agus Arya Saputra
angkat bicara soal klaim Agum Gumelar. Menurut dia, jika memang dia
mengetahui nasib dari korban penculikan aktivis itu, maka segera buka
mulut. Sebab, selama ini keluarga korban selalu menunggu tanpa kepastian.
Aksi Kamisan yang mendesak kejelasan peristiwa itu pun menemui jalan
buntu. Meski aksi Kamisan bisa mencatatkan diri di rekor Muri, tetap
saja keberadaan para aktivis yang hilang menjelang reformasi 1998 itu
masih tak jelas.
Karena itu, kata Agus, Kontras meminta Agum tidak hanya membual dan
harus menyelesaikan masalah itu lewat jalur hukum. Sebab, kata dia,
selama ini banyak yang mengatakan tahu, tapi hasilnya nihil. Menurut
dia, kalau memang Agum berniat, maka dia bisa saja memberikan informasi
kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
“Kalau punya jiwa kesatria dan Pak Agum tahu atau menguasai letak
beberapa korban langsung saja diberitahu kepada keluarga daripada hanya
melempar /statement/ ke media," kata Agus saat dihubungi reporter
/Tirto/, Selasa (12/3/2019).
*Basi dan Politis*
Pernyataan Agum Gumelar soal aktivis ini keluar kurang lebih satu bulan
jelang pencoblosan Pilpres 2019. Agum juga bukan satu-satunya orang yang
menebar kabar “manis” tentang keberadaan aktivis yang hilang pada Mei 1998.
Pada 2014 lalu, misalnya, Mayor Jenderal (purn) TNI Kivlan Zen juga
mengucap hal serupa. Dalam sebuah diskusi di televisi, Kivlan
<https://m.merdeka.com/peristiwa/kivlan-zen-mengaku-tahu-di-mana-wiji-thukul-dkk.html>
menyatakan dia tahu di mana 13 aktivis itu dihilangkan.
"Yang menculik dan hilang, tempatnya saya tahu di mana, ditembak,
dibuang," kata Kivlan kala itu.
Keesokan harinya, Jenderal (purn) TNI Luhut Binsar Panjaitan pun turut
angkat bicara. Dia mendesak Prabowo untuk mengklarifikasi soal hal itu.
Dia juga mengharapkan Kivlan tak usah banyak bicara, karena sejak lama,
anak Wiji Thukul sudah menunggu kepastian lokasi ayahnya.
"Saya kira tidak perlu soal bicara HAM atau tidak HAM, yang paling
penting, ke mana orang yang hilang itu? Seperti si Wiji Thukul, anaknya
itu tanya sampai hari ini, kalau dia mau ngisi siapa bapaknya dan di
mana bapaknya, itu selalu dia mau nangis. Karena dia tidak tau
bapaknya," ujar Luhut
<https://m.detik.com/news/berita/2613821/luhut-prabowo-harus-menjelaskan-di-mana-para-aktivis-yang-hilang>.
"Kalau sudah mati, ya diberi tahu. Tapi jangan seperti ini. Itu yang
saya pikir sedih. Pak Prabowo harus bertanggung jawab itu," tegasnya lagi.
Jika dilihat dari waktunya, ada satu kesamaan di mana isu soal
keberadaan aktivis hilang ini kembali mencuat dari kalangan pensiunan
tentara. Apalagi, selain memiliki afiliasi politik pada capres tertentu,
isu ini juga selalu bergulir jelang pencoblosan.
Kivlan, misalnya, mengeluarkan pernyataan yang sama pada acara ILC
kurang lebih satu bulan sebelum hari coblosan pada 2014.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin mengatakan
isu ini memang menjadi bahan untuk mengamankan dukungan di Pilpres 2019.
Padahal kalau dilihat dari waktunya, debat masalah HAM sudah dibahas
pada debat pertama.
Namun, Ujang merasa ucapan Agum Gumelar sebenarnya sudah basi. Menurut
dia, di balik ucapan Agum, sebenarnya ada pesan lain, yaitu untuk
mendelegitimasi Prabowo. Padahal, KPU sudah jelas menilai Prabowo tidak
masalah menjadi calon presiden.
Sebab, kata Ujang, jika Prabowo tahu seharusnya dibuka saja ke publik,
daripada hanya merugikan capres nomor urut 02 itu. Apalagi isu ini juga
tidak menguntungkan bagi keluarga korban.
“Ya harusnya dibuka saja kalau memang tahu. Menurut saya ini memang Agum
memberikan pernyataan itu hanya politisasi saja,” kata Ujang kepada
reporter /Tirto.
/
“Ini isu lama yang dibuka kembali dan [padahal] tidak besar pengaruhnya
bagi [elektabilitas] Prabowo,” kata Ujang.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
<https://tirto.id/author/felix?utm_source=Tirtoid&utm_medium=Lowauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Abdul Aziz
Klaim Agum Gumelar soal aktivis yang hilang dinilai basi dan politis