/http://mediaindonesia.com/read/detail/222531-lambatnya-kesadaran
/
//
//
/*Lambatnya Kesadaran*/
Penulis: *Mudji Sutrisno SJ Guru Besar STF Driyarkara, Dosen
Pascasarjana UI, dan Budayawan.* Pada: Rabu, 13 Mar 2019, 02:45 WIB
Opini <http://mediaindonesia.com/opini>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/222531-lambatnya-kesadaran>
<http://twitter.com/home/?status=Lambatnya Kesadaran
http://mediaindonesia.com/read/detail/222531-lambatnya-kesadaran via
@mediaindonesia>
Lambatnya Kesadaran
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/03/28b55a71b678b9a3e71e4fe2f8db9066.jpg>
/MI/Duta/
BARU setelah mengalami dengan hati dan budi dua kali perang dunia yang
menghancurkan kemanusiaan serta derita manusia, kesadaran bersama
bangsa-bangsa bertemu dan mengental untuk menjaga agar harkat manusia,
siapa pun ia tidak dikoyak-koyak lagi dalam Deklarasi Universal piagam
hak asasi manusia 10 Desember 1948.
Hanya, hitunglah proses kesadaran bersama itu dengan waktu. Dibutuhkan
1948 untuk deklarasi sepakat bahwa manusia itu bermartabat. Bila setiap
tahun memuat 12 bulan, berapa bulan diperlukan untuk menyadari sesama
manusia tidak boleh diperalat, apalagi 'dibunuh' atas nama politik apa pun.
Bila 1 bulan berisi 30 hari, mari menghitung berapa lama, berapa hari
ditapaki kesadaran bersama yang dibutuhkan untuk 10 Desember 1948
merumuskan tertulis betapa anak manusia yang adalah khalifatullah Allah
dan citra Allah itu harus dihormati. Itu pun baru tahap sadar bersama
untuk deklarasi, yang masih butuh kesadaran lagi untuk setiap negara
memberi rumusan legal formal dalam konstitusi masing-masing, seperti
misalnya di UUD 1945 dalam Pasal 28, 29, dan seterusnya.
Betapa 'lambat kesadaran' berproses. Maka dari itu, tatkala Republik
Indonesia diproklamasikan pada 17-8-1945, loncatan politik lebih cepat
daripada proses kesadaran kultural (baca: sikap hidup dan mentalitas
untuk menghormati yang baik, benar, suci, indah dalam hidup yang
didalamnya beradalah manusia-manusia, ternyatalah masih lambat). Oleh
karena itu, Bung Hatta menaruh perlunya proses 'mencerdaskan kehidupan
bangsa' untuk siap menjadi sikap hidup dan mentalitas bangsa ini, untuk
bernegara hukum dan bersistem hidup bersama karena fakta kemajemukan
suku dan religi dalam demokrasi.
Pendidikan karakter dan nilai yang menjadi salah satu proses kesadaran
berbangsa, lalu menghayati (baca: menghidupi dalam penghayatan
sehari-hari) pembukaan konstitusi alinea 4-nya dalam nilai-nilai
fundamental berbangsa dan bernegara, yaitu nilai-nilai Pancasila.
Masalah lambatnya kesadaran ini, juga langsung terbukti dalam masalah
kognisi (pengetahunan tentang nilai versus penghayatannya dalam
internalisasi.
Muncul antagonisme antara pendekatan pintas (mau segera hasilnya) versus
pendekatan proses. Ini berarti hasil cepat sebagai orientasi pendidikan
kesadaran hanyalah jalan pintas pragmatisme yang tidak belajar membaca
jalan kehidupan yang selalu berintikan proses.
Lihatlah analogi proses mendidik dalam tahap-tahap masih ulat, maka di
sana 'kotoran', dan wajah buruk ulat harus disabari ranahnya dan diberi
ruang sampai ulat (contoh bagus: ulat sutra) itu mulai mengeluarkan
ludah rajut liurnya untuk 'menenun kepompongnya'. Ketika tahapan sudah
menjadi kupu-kupu, warna-warni kupu-kupu itu menjadi hasil pemandangan
indah. Namun, kepompong pun sebagai 'sarang', menjadi bakal
benang-benang sutra bila diproses. Juga lahirnya manusia, ia tidak bisa
dikarbit atau dipercepat. Bayi dalam rahim ibu (kita-kita ini berasal
dan berhutang hidup dari ibu-ibu kita), butuh proses dikandung,
dinutrisi 9 bulan. Inilah proses kehidupan.
*Kesadaran*
Ada dua mata baca untuk menyadari lambatnya kesadaran. Yang pertama,
mata baca fisik yang membaca huruf-huruf dan laporan-laporan plus
data-data 'hanya sebagai data-data fisik'. Misalnya, data ancaman
bencana katastropik di Jawa (Kompas, 8/1, hal 1) bisa dibaca 'hanya
fisik paparan kalimat-kalimat kajian terbaru sesar lembang' sebagai
informasi saja tanpa dimaknai atau dihidupi dengan mata baca lain.
Akibatnya, informasi itu (meski dipapar setelah tsunami dan bencana
Sunda serta Lampung) selesai di depan mata fisik. Maka dari itu, butuh
mata baca kedua, yaitu mata baca budi. Perannya adalah menganalisa
dengan budi cerdas, mengkalkulasi kebencanaan yang bakal terjadi serta
akal budi yang merancang persiapan, penanggulangan sampai ke hitungan
memperkecil korban kemanusiaan. Lambatnya kesadaran makin bisa kita
tunjuk di sini, yaitu mata baca 'sekilas' indrawi informasi yang tidak
dibawa ke kesadaran budi untuk diproses. Lambatnya kesadaran juga
dikonstruksi mata baca pintas, sekilas (just a glance) karena konstruksi
percepatan mata baca digitalisasi dengan ambil judul-judul dan
keingintahuan sekilas, lalu lupa dalam sekejap karena tidak dibatinkan,
tidak diolah dalam kesadaran budi yang memikir dan mengurai nalar
sehingga mudah dilupakan.
Dua mata baca di atas harus melalui proses lebih 'batin' lagi bila
kesadaran mau masuk kesadaran nurani yang mengetuk, bersuara bahkan
menggugat dalam mata baca nurani: siapakah sesamaku yang jadi 'korban'
kebencanaan? Bila kita semua, melalui pendidikan kesadaran mau sedikit
'berubah' tidak mudah lupa setelah peristiwa-peristiwa duka, bencana,
dan derita, mengapa; alat deteksi gempa Gunung Merapi beberapa tahun
yang lalu dan alat tanda peringatan tsunami Selat Sunda dan Lampung
tidak berfungsi sejak 2012?
Dengan demikian, tidak sempat memberi peringatan dini? Mengapa tidak
berfungsi? Perawatan alat mahal atau kelalaian? Mata baca nurani akan
terus menggugat bila 'fakta data' lambatnya kesadaran sudah diakui
dahulu dengan rendah hati di tingkat universal (dalam hal Deklarasi HAM
Universal 10 Desember 1948). Kemudian tingkat nasional Indonesia dalam
satu gumpalan tajam gugatan kesadaran mata baca nurani yang menyeruak
tanya, di saat peristiwa-peristiwa bencana terjadi, kita ramai, hiruk
pikuk berwacana, membahas dalam analisis-analisis media cetak atau media
elektronik sosial. Tetapi sesudah itu dilupakan’ dan seakan 'tidur'
dalam kesadaran kita.
Mengapa pula setiap kali mata baca budi ramai dalam ruang 'pasca
kejadian'? Heboh dalam panggung post factum? Tidak menggugah ke
kesadaran untuk siap-siap dan preventif antisipasi berdasar data
situs-situs sesar, yang dalam bacaan informatif saja membuat decak kaget
bahwa butuh 700 juta untuk kajian peta seperti diungkap saudara Mudrik
peneliti geologi pusat Geoteknologi LIPI (Op.cit, Kompas, 8/1).
Semogalah mata baca kita tidak hanya fisik indra mata, tidak hanya akal
budi rasional, kritis tetapi pula mata baca nurani lantaran 'lambatnya
kesadaran' terang benderang berada diproses mencerdaskan kehidupan bangsa.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/222531-lambatnya-kesadaran>
<http://twitter.com/home/?status=Lambatnya Kesadaran
http://mediaindonesia.com/read/detail/222531-lambatnya-kesadaran via
@mediaindonesia>