Tidak ada yang baru dari nyanyian Agum ini selain mengulang lagu lama pilpres 
2014. Kalau betul dia tahu di mana orang-orang itu dibunuh dan dibuang, ya 
sebutkan saja tempatnya. Mosok kasus pembunuhan diselesaikan cuma dengan 
pemberhentian dari jabatan. Waraskah ini?

Sekarang, mumpung Wiranto menantang bicara dengan dasar temuan TGPF dan Komnas 
HAM ya dibuka saja hasil temuan itu ke masyarakat. Bila perlu buka sekalian 
hasil temuan Komnas Perempuan tentang isu perkosaan "massal" Mei '98 berikut 
hasil Pansus Trisakti dan Semanggi I & Semanggi II. Buka semua supaya tidak ada 
lagi dusta dan bangsa ini bisa mulai membangun pemerintahan yang relatif bersih 
dari kebohongan. 

Mosok sejak Gestok sejarah bangsa ini ditulis pihak asing, sedangkan pemerintah 
cuma bisa bikin sejarah sumpah pocong. Waraskah kita?

   --- SADAR@... wrote:
Nyanyian Agum Gumelar Soal Penculikan 1998 dan Pemecatan Prabowo
   Reporter:  
Budiarti Utami Putri
  Editor:  
Juli Hantoro
Rabu, 13 Maret 2019 09:54 WIB
29-agum-gumelar  
TEMPO.CO, Jakarta - Jenderal TNI (purn) Agum Gumelar menghebohkan media sosial 
dengan ucapannya yang beredar lewat sebuah video baru-baru ini. Anggota Dewan 
Pertimbangan Presiden Joko Widodo ini membeberkan kesalahan calon presiden 
Prabowo Subianto sebagai pelaku pelanggaran HAM berat.
 
Baca juga: 2 Purnawirawan Jenderal Merapat ke Istana, Jokowi: Bagus Kan?
 
Agum waktu itu menjadi salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira yang ikut 
menyidangkan Prabowo Subianto. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus 
sebelum Prabowo ini mengaku bicara dari hati ke hati dengan anggota Tim 
Mawar--tim yang diduga melakukan penculikan dan penghilangan paksa aktivis 
1997/1998, yang merupakan bekas anak buahnya.
 
"Ketika dari hati ke hati dengan mereka, di situlah saya tahu di mana matinya 
orang-orang itu, di mana dibuangnya, saya tahu detail," kata Agum dalam sebuah 
video yang diunggah Ulin Niam Yusron di akun Facebooknya, Ahad, 10 Maret 2019.
 
Saat dikonfirmasi, Ulin tak menjawab di mana dan dalam acara apa video itu 
diambil. "Nah itu dia," kata Ulin melalui pesan singkat, diikuti emoji 
tersenyum.
 
Berikut isi ucapan Agum Gumelar dalam video tersebut.
 
Baca juga: Anggota Wantimpres Agum Gumelar, Kiprahnya di Militer dan Sipil
 
(Terpotong di bagian awal) Subagyo HS waktu itu KSAD, anggotanya ada tujuh 
orang, letjen-letjen bintang-bintang tiga, karena yang diperiksa bintang tiga. 
Termasuk di dalamnya almarhum Letjen Arie J. Kumaat, Letjen Yusuf Karta 
(Kartanegara), Letjen Djamari Chaniago, Letjen Fachrul Razi, Letjen Susilo 
Bambang Yudhoyono, Letjen Agum Gumelar. Itulah anggota DKP. Tugasnya adalah 
memeriksa kasus ini, kasus pelanggaran HAM berat.
 
Berjalanlah DKP, bekerjalah DKP sebulan lebih memeriksa yang namanya prabowo 
subianto. periksa. Dari hasil pemeriksaan ternyata didapat fakta bukti nyata 
bahwa dia telah melakukan pelanggaran HAM berat. Saya di samping anggota DKP 
saya mantan Danjen Kopassus. Tim Mawar yang melakukan penculikan itu bekas anak 
buah saya semua itu. Saya juga pendekatan dari hati ke hati dengan mereka, di 
luar kerjaan DKP, karena dia bekas anak buah saya toh.
 
Ketika dari hati ke hati dengan mereka, di sinilah saya tau di mana matinya 
orang-orang itu, di mana dibuangnya saya tahu detail, gitu lho. Jadi DKP dengan 
hasil temuan seperti ini merekomendasikan kepada Panglima TNI, rekomendasinya 
apa? Dengan kesalahan terbukti, direkomendasikan agar supaya yang bersangkutan 
diberhentikan dari dinas militer. Tanda tangan semua. Subagyo HS tanda tangan, 
Agum Gumelar tanda tangan, SBY tanda tangan, semua tanda tangan.
 
Ya walaupun saya heran, ini yang tanda tangan rekomendasi kok malah sekarang 
mendukung. Beda prinsip itu orang, benar itu. Itu fakta yang tidak bisa 
dihapus, siapa bisa menghapus ini. Sampai sekarang Amerika, Inggris, Australia, 
no sama Prabowo. Tidak bisa masuk ke Amerika, tidak bisa masuk ke Inggris. Ini 
fakta, bukan black campaign, kalau black campaign itu tanpa didukung data. 
Contohnya black campaign kalau ke Pak Eko (salah satu hadirin) jadi cagub di 
Jabar, istrinya empat. Itu namanya black campaign, padahal lima (hadirin 
tertawa). Ini fakta, bukan black campaign.
 
Jadi saya ingin..., ini kenapa jadi lupa semua? Bangsa yang besar adalah bangsa 
yang mengenali sejarah bangsanya. Satu satuan yang besar, Kopassus, satuan yang 
besar, adalah satuan yang anggotanya mengerti sejarah Kopassus. Tapi lupa, 
karena udah lama. Bahwasannya sampai detik ini Komandan Jenderal Kopassus sudah 
yang ke-31 sekarang. Mayjen Nyoman (I Nyoman Cantiasa) ini yang ke-31. Dari 31 
Komandan Jenderal Kopassus, cuma satu yang diberhentikan dari dinas militer. 
Siapa dia? (hadirin menjawab: Prabowo). Ini apa? Jadi kalau buat saya, aneh bin 
ajaib kalau sampai dia jadi presiden. Buat saya ya, entah buat anda-anda.
 
(Seorang hadirin bertanya kurang lebih bagaimana memberi tahu kepada milenial) 
Ya memang gimana ya. Saya sendiri kan diviralkan ini, tapi mau denger apa 
enggak apa yang saya sampaikan ini. jadi kalau...
  
ADVERTISEMENT
  
(Diviralkan lagi boleh enggak Pak?) Silakan aja. Gini waktu Indro Warkop itu 
ketika datang ke rumah saya bawa 120 orang alumni Pancasila, dalam sambutan 
dia, musuh kita sekarang ini cuma satu: ketidakwarasan. Ini Indro Warkop ini, 
mau ketawa mau gimana ini. Gitu. Jadi saya yakin di ruangan ini kita semua 
orang waras. Jadi kalau Pak Agum apa kabar? Oh sehat, sehat dan waras.. Oh iya 
pasti dong.
 
Makanya seperti ibu-ibu di Garut itu, Jokowi, Pak Jokowi itu orangnya baik, 
jujur, sederhana, enggak pernah nyulik orang. Apanya? (menanggapi seseorang) 
Yang ngomong gitu? Oh bukan di Garut ya? Ya ya ya.
 
Itu kira-kira ya selebihnya saya rasa kita harapkan seperti yang saya utarakan 
tadi kita harus menjadi manusia yang berjiwa nasionalis, kemudian juga harus 
mempersiapkan, kalau saya sudah begini, sudah tidak mungkin lagi berkembang 
lebih. Anak saya cucu saya harus lebih dari saya, SDM-nya harus lebih 
betul-betul dari saya. Kita harus disiplin. kalau tidak disiplin ya...
 
Militer harus disiplin dan tegas. Disiplinnya sudah dieliminir, tegasnya. Eh 
tegas itu bukan berarti main lempar asbak, main pukul, main tembak, keluar dari 
mulut kebun binatang, bukan itu tegas. Main culik, bukan itu tegas. Tegas itu 
dalam koridor hukum. Katakanlah kalau saya jadi presiden, bingung ngomong 
bohongnya. Kemudian adik saya melakukan pelanggaran hukum, dengan tegas saya 
katakan proses hukumnya. Itu namanya tegas. Bukan main pukul, main tempeleng, 
ancam lempar HP. Bukan itu tegas. Jadi cobalah dibuat mengerti deh rakyat kita. 
Pak dia itu tegas, apanya yang tegas? Itu bukan tegas, ngawur namanya. Oke deh 
mungkin sampai di sini.
 

Kirim email ke