Tiga Baru https://www.disway.id/r/359/tiga-baru
 12 February 2019 
 Oleh : Dahlan Iskan
 



 
 
 BTP, Gong Xi Fa Cai!
 Ups... Tidak cocok lagi. Terlalu Hokkian.
 BTP, Xin Nian Kuai Le!
 Ups... Juga kurang tepat. Masih terasa Tionghoa.
 BTP, Selamat Tahun Baru Imlek!
 Nah! Sudah terasa lebih Indonesia.
 Saya memang tidak akan menulis nama #£¢§ lagi di sini. Itu janji saya di DI’s 
Way minggu lalu. Panggilan #£¢§ itu sangat khas Hokkian. Itu untuk memenuhi 
harapan #£¢§ sendiri. Agar publik memanggilnya dengan nama baru: BTP.
 Basuki Tjahaya Purnama.
 Nama baru.
 Istri baru.
 Partai baru.
 ”Tiga baru” itulah yang akan bikin BTP terus berkibar. Di dunia media.
 Bahwa akhirnya kelak BTP masuk PDI-Perjuangan saya tidak akan kaget. Sudah 
biasa orang gonta-ganti partai. Semudah berganti kaus kaki.
 Bahkan siapa tahu PDI-Perjuangan mengincarnya sebagai calon ketua umum. Atau 
setidaknya wakil ketua umum. Sebagai jalan tengah. Untuk menampilkan figur 
baru. Yang lebih bebas. Terutama dari persaingan para calon pengganti Megawati.
 Siapa tahu PDI-Perjuangan mau bikin sejarah: kebangsaan itu di atas segala 
macam aliran. Ras. Suku. Agama.
 Sudah sering dibuktikan Megawati. Seperti itu. Bagaimana bisa. Kalau bukan 
Megawati. Di provinsi kandang banteng seperti Jatim, PDI-Perjuangan memilih 
orang NU. Sebagai calon gubernur. Bahkan sekalian dengan wakil gubernurnya: 
Saifullah Yusuf-Azwar Anas. Meski sayangnya kalah lawan Khofifah-Emil Dardak.
 PDI-Perjuangan juga sudah biasa mencalonkan suku Tionghoa sebagai kepala 
daerah. Wakil Gubernur Kalbar. Walikota Singkawang. Gubernur Jakarta.
 Toh, track record BTP sudah sangat jelas. Tegas. Bersih. Tulus. Nasionalis. 
Cepat ambil putusan. Terbuka. Ceplas-ceplos. Sampai keceplosan Al Maida 51.
 Pun BTP piawai dalam bicara: orang tidak bosan mendengar yang lagi ia 
omongkan. Tanpa teks sekali pun. Yang ada di pikirannya sama dengan yang 
diucapkannya. Beda dengan kebanyakan pejabat: senjang antara yang dipikirkan 
dan diucapkan.
 Reputasi BTP hanya rusak sedikit. Sedikit sekali. Saat namanya masih yang 
tidak akan saya sebut lagi itu. Oleh keceplosannya itu. Rusaknya hanya di 
kalangan tertentu. Di kalangan lain justru memujinya. Membelanya. Dianggap 
martirnya. Pahlawannya.
 Setelah kunjungannya ke kantor PDI-Perjuangan Bali akan ke mana lagi BTP?
 Mungkin akan kawin dulu. Kan tidak mungkin ditunda. Videonya sudah terlanjur 
beredar luas. Bahwa BTP ke kediaman Osman Sapta. Alias Oso. Ketua Umum Partai 
Hanura. Minta restu.
 Terlihat juga BTP memperkenalkan Puput. Gadis berumur 22 tahun. Polwan. Calon 
istrinya itu.
 Bahkan Puput dipuji BTP setinggi langit. Sebagai wanita yang garis tangannya 
sama. Persis. Begitu semangatnya ingin menunjukkan persamaan itu. Sampai BTP 
minta Puput dipanggil masuk ruangan. Lalu ditunjukkanlah kepada Pak Oso. 
Telapak tangan calon istrinya itu. Dijajar dengan telapak tangannya sendiri. 
Lalu dihadapkan ke kamera.
 Begitu persis, kata BTP. Yang oleh Oso dipuji sebagai terlihat lebih muda.
 Saya tidak ahli garis tangan. Di mata saya telapak tangan dua orang itu memang 
sama. Persis. Dari video. Dari jauh.
 Video itu beredar luas. Lengkap dengan identitas pembuatnya: Oso tv. Sudah 
pula diunggah ke YouTube.
 Ternyata tidak hanya telapak tangan. Yang terlihat sama. Juga cara saling 
memanggil sayang. Puput memanggil BTP sebagai ”Yeobo”. BTP memanggil Puput 
dengan ”buin”. Sama-sama panggilan sayang gaya sinetron Korea.
 ”Yeobo” adalah  panggilan sayang untuk suami. ”Buin” panggilan sayang untuk 
istri.
 Puput juga terlihat mendemonstrasikan cara memanggil Yeobo seperti itu. Dengan 
mesranya.
 Sayang Oso tidak bertanya: mulai kapan mereka saling memanggil suami-istri 
seperti itu.
 Di situ BTP memang terlihat sebagai manusia baru: percaya pada garis tangan. 
Bahkan juga percaya pada cincin batu. Yang bisa mengeluarkan cahaya merah. Saat 
dimasukkan ke air di dalam gelas. Sampai merahnya menembus tujuh gelas yang 
dijejer.
 Sayangnya hari berikutnya beredar video lain. Yang dibuat pedagang alat sulap 
Jakarta. Yang juga memiliki cincin yang mirip itu. Yang ia demonstrasikan. Yang 
membuat air berwarna merah. Lalu ia hancurkan batu itu. Dengan uleg-uleg. Di 
atas layah sambal. Ternyata di dalam batu itu ada baterainya.
 Kelihatannya BTP sudah benar-benar menjadi manusia baru. Yang percaya 
begituan. Yang tidak mungkin terjadi saat namanya masih #£¢§.
 Perubahan itu bisa saja membuat dukungan pada BTP kian luas. Bukankah yang 
percaya begituan lebih besar? Bukankah orang yang irrasional membenarkan 
banyak? Dibanding masyarakat yang rasional?
 Ada lagi ucapan BTP yang mengejutkan. Mengutip teman kepercayaannya: ada 
wanita yang membawa hoki. Ada yang tidak.
 Itu urusan BTP. Saya tidak menyalahkan. Atau membenarkan. Tapi entah mengapa 
saya jadi kasihan pada Vero. Yang secara tidak langsung disebut sebagai yang 
jenis tidak punya garis tangan itu.
 Saya bisa membayangkan perasaan Vero. Tapi ia wanita agung. Tidak bereaksi apa 
pun. Demi nama baik BTP. Agar tetap bisa jadi orang hebat kelak. (dahlan iskan)




Kirim email ke