http://www.balipost.com/news/2019/03/22/71289/Bayak-Gelar-Pameran-di-AS,...html
Bayak Gelar Pameran di AS, Angkat Tema
“Tuhan Lama dan Baru di Bali”
Jumat, 22 Maret 2019 | 09:56:47
Berbagi di Facebook
<https://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F03%2F22%2F71289%2FBayak-Gelar-Pameran-di-AS%2C...html>
Tweet di Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Bayak+Gelar+Pameran+di+AS%2C+Angkat+Tema+%E2%80%9CTuhan+Lama+dan+Baru+di+Bali%E2%80%9D&url=http%3A%2F%2Fwww.balipost.com%2Fnews%2F2019%2F03%2F22%2F71289%2FBayak-Gelar-Pameran-di-AS%2C...html&via=balipostcom>
*
*
Made Bayak menggelar pameran tunggal di AS. (BP/istimewa)
DENPASAR,BALIPOST.com – Seniman lukis asal Bali, Made Bayak
menggelar pameran tunggal di Amerika Serikat. Bayak bekerjasama
dengan salah satu dosen di departemen anthropology, University of
Georgia (UGA).
Pameran yang berlangsung di sebuah gallery bernama ATHICA (Athens
institute for contemporary art) ini akan dibuka pada 25 Maret dan
berlangsung sampai dengan 28 April 2019. “Rencana pameran ini sudah
dirancang selama 2 tahun, dari awal tahun 2016 pertama kali proses
interview karya dan aktivitas saya sebagai seniman visual dan musik.
Kurator dan penulis dalam pameran ini adalah Peter Brosius, Alden
DiCamilio dan Sarah Hitchner,” ujar Bayak dalam keterangan pers yang
diterima Bali Post, Jumat (22/3).
Menurut Bayak, pameran tunggalnya yang berjudul “old Gods | new Gods in
Bali” bisa diartikan bebas. Terlebih, berbicara Bali tidak akan pernah
habis karena pulau kecil ini sudah sangat terkenal dimana-mana.
Sebagai destinasi pariwisata dunia, Bali memiliki keindahan alam dan
keunikan budaya. Tapi, ada wacana lain yang ternyata sangat miris.
Seiring dengan semua gambaran pariwisata eksotis Bali, ada Tuhan “baru”
menyeruak diantara Tuhan “lama” yang menjadi warisan leluhur di Bali.
Belum lagi, ada sejarah kelam pembunuhan massal yang sampai saat ini
masih tersembunyi.
“Kita disuguhi dan dipaksa mengkonsumsi konsep-konsep seperti Tri Hita
Karana dan bangga sudah merasa menyeimbangkan hidup dengan alam, manusia
dan Tuhan, tapi di lain sisi kita membiarkan Teluk mau diurug, kita
biarkan wilayah tempat suci kita dijual dan membangun beton-beton baru
tidak terkendali, kita biarkan sumber-sumber air kita kotor oleh sampah,
kita hanya asik memenuhi hasrat supaya dibilang menjadi lebih modern,”
paparnya.
Baca juga: STT Ardhya Garini Konsisten Kreasikan Ogoh-Ogoh Durga, Ini
Sebabnya
<http://www.balipost.com/news/2017/03/26/3506/3506.html>
Di Bali, lanjut Bayak, juga ada dewa-dewa baru berwujud dollar dan
investasi yang cendrung rakus dalam pariwisata massal yang mengabaikan
semua aspek manusia, lingkungan dan Tuhan di Bali. Ada pula dewa
konsumerisme dan yang paling mengkhawatirkan adalah berkurangnya pasokan
air tanah yang notabne adalah sumber kehidupan bagi kebudayaan Bali.
Tercemarnya sumber-sumber air dari sampah plastik dan limbah rumah
tangga adalah dampak nyata bentuk ketidakpedulian. “Ini bukan persoalan
antipariwisata atau antipembangunan tapi bagaimana kebenaran itu
seharusnya diketahui bersama, dipelajari sehingga kita bisa melangkah
lebih percaya diri untuk melanjutkan yang namanya kebudayaan Bali dan
harusnya kita bisa melahirkan sebuah budaya belajar, terbuka, dan bisa
bersikap kritis terhadap diri kita sendiri,” jelasnya.
Dari hal tersebut, karya-karya Bayak yang dipamerkan utamanya mengangkat
tema lingkungan, pariwisata massal di Bali, kekerasan, kemanusiaan dan
hak asasi manusia, serta keterlibatan seni dan kesenian pada perjuangan
Bali tolak reklamasi. “Saya juga memajang sebuah karya instalasi tentang
cosmology Bali yang berkaitan erat dengan berbagai peristiwa di Bali,
kabarnya pernah dipakai referensi untuk membuang potongan tubuh korban
pembantaian massal sesuai arah mata angin, juga sempat digunakan sebagai
tema perjuangan dan event besar menolak rencana busuk reklamasi Teluk
Benoa,” imbuhnya.
Bayak menambahkan, ada beberapa karya yang ikut serta dalam ilustrasi
buku Prison songs bersama taman 65 di Denpasar juga akan dipamerkan. Dua
buah Karya kolaborasinya dengan sang anak, Damar Langit Timur dan istri,
Kartika Dewi juga dipilih dan diikutsertakan dalam pameran ini. (Rindra
Devita/balipost)