*Kalau terbelah, siapa yang untung dan siapa yang buntung?*

*https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4480388/kahmi-ancaman-indonesia-terbelah-di-tengah-euforia-demokrasi
<https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4480388/kahmi-ancaman-indonesia-terbelah-di-tengah-euforia-demokrasi>*

Sabtu 23 Maret 2019, 16:16 WIB
KAHMI: Ancaman Indonesia Terbelah di Tengah Euforia Demokrasi
Muhammad Aminudin - detikNews

*Malang* - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) melihat gejala
keterbelahan bangsa muncul di tengah proses demokrasi. Indonesia dikatakan
masih menghadapi masalah mendasar di bidang sosial dan politik. KAHMI
berharap adanya solusi untuk menjawab tantangan itu.

Koordinator Organizing Committee Simposium Nasional KAHMI Lukman Hakim
mengatakan berdasar kekhawatiran itulah doktor dan guru besar KAHMI
berkumpul membahas problematika yang ada. Karena persoalan dan tantangan
yang dihadapi tidak sepenuhnya harus menjadi tanggung jawab
negara/pemerintah, melainkan masyarakat memiliki peluang dan panggilan
turut menyelesaikan.
*Baca juga: *KAHMI Laporkan Bantuan untuk Gempa dan Tsunami di Palu ke
Wapres JK
<https://news.detik.com/read/2018/10/03/175549/4240790/10/kahmi-laporkan-bantuan-untuk-gempa-dan-tsunami-di-palu-ke-wapres-jk>
*Malang* - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) melihat gejala
keterbelahan bangsa muncul di tengah proses demokrasi. Indonesia dikatakan
masih menghadapi masalah mendasar di bidang sosial dan politik. KAHMI
berharap adanya solusi untuk menjawab tantangan itu.

Koordinator Organizing Committee Simposium Nasional KAHMI Lukman Hakim
mengatakan berdasar kekhawatiran itulah doktor dan guru besar KAHMI
berkumpul membahas problematika yang ada. Karena persoalan dan tantangan
yang dihadapi tidak sepenuhnya harus menjadi tanggung jawab
negara/pemerintah, melainkan masyarakat memiliki peluang dan panggilan
turut menyelesaikan.
"Misalnya, keterbelahan di kalangan internal NU, Muhammadiyah, Partai
Golkar, Partai Demokrat, PDI-P, PAN, Partai Nasdem, dan lain-lain. Pada
lembaga-lembaga negara dan birokrasi juga terjadi keterbelahan-keterbelahan
tersebut. Hal itu bisa menjadi sesuatu yang biasa sebagai dinamika dalam
demokrasi. Namun, ketika ia menjadi pertentangan politik yang tajam dan
kurang terkendali ditambahi fanatisme (agama, etnis, partai, dan lain-lain)
dapat menimbulkan kegaduhan bahkan konflik. Hal itu yang turut dibahas
fenomena tersebut dalam simposium KAHMI," bebernya.

Sejumlah pakar hadir dalam simposium nasional ini, untuk menyampaikan
pandangannya demi penyelamatan Indonesia dari perpecahan dan kesenjangan
sosial. Diantaranya, pengamat politik LIPI Siti Zuhro, ilmuwan politik dan
dosen FISP Universitas Brawijaya Wawan Sobari serta pakar media Erman Anom.
Simposium juga menyajikan kelas-kelas panel untuk spesifik empat subtema,
Demokrasi dan Identitas Nasional, Civil Society dan Ketahanan Sosial, Media
dan Kebebasan Sipil, Kewirausahaan Sosial Politik dan Reformasi birokrasi.
KAHMI memiliki 473 guru besar dan 1.042 doktor yang tersebar dalam semua
bidang ilmu.
*(iwd/iwd)*

Kirim email ke