*Di Maluku masih ada sel kaum malas hidup di bumi, mereka ingin secepat mungkin ke Taman Firdaus*
*https://www.siwalimanews.com/post/bom_meledak_di_kantor_kpu_maluku <https://www.siwalimanews.com/post/bom_meledak_di_kantor_kpu_maluku>* Thursday, 21 March 2019 Bom Meledak di Kantor KPU Maluku *Ambon* - Bom meledak di Kantor KPU Maluku menewaskan satu orang yang tidak tahu identitasnya, diduga pelaku bom bunuh diri. Sejumlah warga juga mengalami luka-luka dalam aksi keji itu. Bom bunuh diri ini dilepaskan saat sejumlah orang tak dikenal (OTK) menyandera Ketua KPU dan komisioner KPU Maluku, Rabu (20/3). Peristiwa ini merupakan rangkaian peragaan simulasi pengamanan kota (sispamkota) yang digelar Polda Maluku di Lapangan Chr Tahapary Tantui Ambon sebagai bentuk pengamanan Pemilu 17 April mendatang. Simulasi melibatkan 673 lebih personil Polda Maluku dan Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease dibantu santuan TNI-AU, TNI-AL dan TNI-AU. Pelaksnaan simulasi dipimpin langsung Karo Ops Polda Maluku, Kombes Gatot Mangkurat berlangsung tidak hanya di darat juga di laut mulai dari tahapan kampanye pasangan calon presiden Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Simulasi itu memperagakan bagaimana Tim Jibom Detasemen Gegana Satbrimob Polda Maluku bersama Unit K9 dari Diterktorat Shabara Polda Maluku sedang melaksanakan sterilisasi di lokasi kampanye guna memberikan jaminan rasa aman terhadap lokasi kegiatan kampanye tersebut dilaksanakan. Pada saat yang sama tampak satu pleton Satuan Sabhara Polres Pulau Ambon Pulau-pulau Lease sudah berada di tempat kampanye sesuai dengan lokasi yang telah ditentukan untuk melaksanakan tugas pengamanan terbuka dalam rangka pelaksanaan kampanye. Setelah sterilisasi dilaksanakan dan situasi dinyatakan aman, komandan peleton (dantom) sterilisasi melaksanakan serah terima dengan kepala pengamanan objek vital. Saat iring-iringan kendaraan, tim juru kampanye dari salah satu calon presiden sudah mendekati tempat kampanye dan juga tim pengamanan VVIP sedang melaksanakan tugas pengawalan, dimana tampak di depan juru kampanye calon presiden x sedang melaksanakan orasi kampanye politiknya. Selama pelaksanaan kampanye, satgas rolakir tetap melaksanakan pengaturan lalulintas dan satgas preventif melaksanakan pengaman terbuka. Saat itulah, sekelompok OTK memasuki lokasi kampanye dan tampak melakukan kegiatan-kegiatan yang ingin menciptakan situasi aman menjadi tidak kondusif. Akibat dari ulah sekolompok orang tak dikenal yang tidak menginginkan atau tidak mendukung salah satu capres melakukan tindakan-tindakan provokasi sehingga situasi mulai tidak kondusif dan capres x segera meninggalkan tempat kampanye. Aksi ketidakpuasan ini berlangsung hingga pencoblosan dan perhitungan suara di kantor KPU Maluku. Saat memasuki masa pemungutan suara (pencoblosan surat suara) dimana seluruh warga yang telah terdaftar sebagai pemilih tetap dan sudah menerima formulir undangan dapat menyalurkan aspirasinya untuk memilih capres sesuai dengan hati nurani. Guna memberi rasa aman kepada warga masyarakat yang menggunakan hak pilihnya, maka Polda Maluku beserta jajarannya melaksanakan pengamanan TPS untuk mengantisipasi segala bentuk potensi gangguan sesuai karakteristik wilayah-masing yakni 2 personel, 2 linmas + 1 persenel TNI. Pola pengamanan pun diperagakan dengan kategori kurang rawan, rawan, sangat rawan. Situasi tak bisa dikenadilan hingga berdasarkan laporan intelijen, pada saat kegiatan tersebut berlangsung, diprediksi akan ada unjuk rasa yang akan dilakukan oleh massa dalam jumlah cukup besar yang terdiri dari pendukung pasangan calon x dan masyarakat umum yang merasa tidak puas terhadap hasil rekapitulasi yang telah dilaksanakan. Personel TNI ikut disiapkan untuk memback up dalam kegiatan patroli skala besar dan pengamanan objek vital terutama kantor KPU Maluku. Pada saat penetapan hasil perhitungan suara di KPU, aksi unjuk rasa pun dilakukan yang awalnya berjalan dengan damai dan tertib, namun karena tuntutan massa untuk melakukan perhitungan suara ulang tidak dapat direalisasikan, maka massa mulai tidak tertib dengan mendorong-dorong petugas pengendalian massa awal untuk menerobos ke Kantor KPU. Upaya yang dilakukan belum berhasil menahan laju massa, sehingga eskalasi massa semakin meningkat, maka komandan kompi pengendalian massa memberikan himbauan-humbauan untuk menenangkan massa. Massa pengunjuk rasa semakin tidak tertib maka komandan kompi memerintahkan petugas pemegang lrad (long range acoustic device) untuk melakukan kecut guna memecah konsentrasi massa dengan gelombang suara yang sangat kuat dan keras. Namun massa semakin tidak tertib, dan terus melakukan pelemparan sehingga danki dalmas memerintahkan petugas penembak gas air mata untuk melakukan penembakan gas air mata terhadap pengunjuk rasa. Setelah melakukan penembakan gas air mata, massa tercerai-berai namun ada satu orang dari pengunjuk rasa yang terus melakukan provokasi sehingga danki dalmas lanjut memerintahkan tim pelindung, unit satwa K-9 dan tim buser dari reserse untuk melakukan penangkapan terhadap oknum tersebut. Massa yang telah tercerai berai ternyata belum puas, sehingga melakukan pergerakan dalam kelompok kecil untuk melakukan kerusuhan di tempat lain, dengan maksud melakukan penjarahan dan pembakaran di lokasi pertokoan di sepanjang jalan. Komposisi satuan tripatra terbentuk dalam satuan setingkat kompi yang terdiri dari 1 peleton sabhara, 1 peleton brimob , dan 1 peleton TNI. Pasukan tripatra telah tiba di tempat kejadian perkara dan membentuk formasi bersaf guna melakukan tahapan-tahapan penindakan sesuai dengan protap 01. Hingga pada akhirnya kantor KPU diserang dengan sebuah mobil yang menuju ke kantor KPU yang berada di Tantui dengan kecepatan yang sangat tinggi yang menabrak kantor KPU mobil tersebut tiba-tiba meledak, dari ledakan tersebut membuat kantor KPU terbakar. Petugas yang berjaga langsung mengevakuasi Ketua KPU dan anggota KPU menggunakan bus. Setelah dievakuasi dari kantor KPU menuju *safe house*, tiba-tiba ditengah perjalanan mobil bus yang membawa Ketua KPU dan anggota KPU di berhentikan oleh 1 buah kendaraan roda dua dan roda empat. Sekelompok OTK berhasil menguasai dan membajak bus yang membawa Ketua KPU dan anggota KPU. Kapolda Maluku, Irjen Royke Lumowa juga berkoordinasi dengan Pangdam XVI/Pattimura guna meminta perkuatan dari Tim Gultor Batalyon 733 Raider untuk penanganan pembebasan sandera. Para komisioner KPU kemudian berhasil dibebaskan sementara pelaku OTK bom bunuh diri ditemukan tewas. Kabid Humas Polda Maluku Kombes M Roem Ohoirat kepada wartawan menjelaskan, simulasi ini melibatkan 673 personel TNI dan Polri untuk pengamanan pelaksnaan pemilu April mendatang. *(S-27)*
