Kutipan dari tulisan "Ujian Nasional dalam narasi politik"      UN (Ujian 
Nasional) sebagai sebuah parameter kelulusan, tidak bisa serta merta dilihat 
sebagai objek yang ajeg, melainkan sebagai objek historis yang dinamis. 
  Sekedar bertanya saja:  Apa ada kawan yang bisa menjelaskan apa arti ajeg 
dalam kalimat  diatas itu.
  Terima kasih. 
       S.M
    Den torsdag 28 mars 2019 19:56:35 CET, 'j.gedearka' [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]> skrev:  
 
     
 


 
 
https://news.detik.com/kolom/d-4487039/ujian-nasional-dalam-narasi-politik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.62495402.709027704.1553798743-797453602..1553798743
 
  Kamis 28 Maret 2019, 14:05 WIB 
Kolom
 
Ujian Nasional dalam Narasi Politik
 Indra Dwi Prasetyo - detikNews          Indra Dwi Prasetyo      Share 0    
Tweet     Share 0    0 komentar      UN berbasis komputer di SMKN 1 Depok 
(Foto: Grandyos Zafna)  Jakarta - 
Debat ketiga Pemilihan Presiden 2019 yang telah berlalu, menimbulkan 
ruang-ruang diskusi setelahnya. Salah satu yang menarik perhatian publik adalah 
perihal penghapusan Ujian Nasional (UN) yang disampaikan oleh Cawapres Sandiaga 
Uno. "Kita pastikan diganti dengan penerusan minat dan bakat," ucapnya.
 
Jika kita melihat UN sebagai sebuah tren dalam narasi politik, ini bukanlah 
barang baru. Narasi ini setidaknya bisa dilacak ke dalam lima tahun terakhir, 
ketika janji serupa juga diucapkan oleh Joko Widodo pada kampanye 2014. Lantas, 
apa urgensi penghapusan UN dalam pendidikan? Serta, mengapa hal ini menarik 
untuk terus dijadikan narasi politik?
 
Regulasi yang Dinamis
 
UN sebagai sebuah parameter kelulusan tidak bisa serta-merta dilihat sebagai 
objek yang ajeg, melainkan sebagai objek historis yang dinamis. Setidaknya, 
sistem pendidikan kita dari Kemerdekaan hingga 1970-an menggunakan UN yang 
diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan sebagai satu-satunya syarat 
kelulusan.
 
Pada 1974, regulasi tersebut kemudian diubah di mana kelulusan ditentukan oleh 
sekolah masing-masing. Tentu, hal ini menimbulkan polemik --100% kelulusan 
diraih oleh siswa karena kurang ketatnya standar yang diterapkan oleh sekolah.
 
Sejak itu, beberapa peraturan lain juga diterapkan, misalnya UN hanya 
menitikberatkan pada beberapa pelajaran saja, kembali tidak menjadi penentu 
kelulusan, hingga UN hari ini yang mengacu pada Permendikbud No. 4 Tahun 2018 
bernama Ujian Nasional Berstandar Nasional (USBN) dengan komputer sebagai media 
tesnya.
 
Selain pada aspek historis di atas, UN pada dimensi akademis dapat dilihat 
minimal ke dalam tiga kacamata pendidikan: (1) UN sebagai "summative 
evaluation", (2) UN sebagai "diagnostic evaluation", dan (3) UN sebagai 
"placement test". 
 
 Pelaksanaan UN pada akhir masa studi pada akhirnya membuat UN masuk kategori 
"summative evaluation", di mana kemampuan peserta didik akan diukur di akhir 
proses belajar. Oleh karenanya, UN dapat dijadikan sebagai salah satu alat 
refleksi atas keberhasilan belajar siswa. Walaupun banyak pro-kontra dalam 
proses ini, namun fungsi UN sebagai salah satu alat ukur "summative" masih 
berlangsung setidaknya hingga saat ini.
 
Penting juga untuk dicatat bahwa adanya perbaikan pendidikan dari tahun ke 
tahun tidak bisa dilepaskan dari kontribusi UN sebagai "diagnostic evaluation" 
--hasil dari UN digunakan sebagai acuan untuk merumuskan kebijakan pada masa 
mendatang. Misalnya, mengacu pada situs Kemendikbud, terdapat tren penurunan 
nilai pada rata-rata UN untuk program IPA dari 65,78 pada 2014/2015 menjadi 
51,57 pada 2017/2018. Oleh karenanya, nilai UN berguna untuk merumuskan 
kebijakan-kebijakan yang diperlukan dalam proses perbaikan pendidikan ke 
depannya.
 
Terakhir, UN sebagai "placement test" dapat dilihat di kampus-kampus --nilai 
akhir UN digunakan sebagai syarat masuk sebuah universitas. Pada level yang 
lebih spesifik, nilai UN juga digunakan sebagai penjurusan program studi 
universitas. Di level yang berbeda, nilai UN juga dapat digunakan untuk melamar 
pekerjaan atau menempati sebuah posisi. Pada titik ini, nilai UN dapat dilihat 
sebagai tolok ukur bagi peserta didik untuk dapat melanjutkan kariernya, baik 
melalui universitas maupun bekerja profesional.
 
Narasi Politik
 
Biaya yang tinggi dijadikan salah satu alasan penghapusan UN oleh Sandiaga Uno. 
"Kami juga akan menghapus Ujian Nasional. Ini adalah salah satu sumber daya 
biaya yang tinggi bagi sistem pendidikan kita," ucapnya. Selanjutnya, UN akan 
diarahkan kepada penelusuran minat dan bakat siswa. Namun, benarkah UN salah 
satu sumber pembiayaan yang tinggi di pendidikan kita?
 
Mengutip pernyataan Sekretaris Badan Penelitian dan Penembangan Kemendikbud 
Dadang Sudiyarto, anggaran UN 2019 berkisar Rp 210 miliar dari yang sebelumnya 
Rp 500 miliar. Berkurangnya dana ini dari sebelumnya dikarenakan sistem UN yang 
tidak lagi berbasis kertas serta pembiayaan pengawas oleh satuan pendidikan 
melalui dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
 
Lebih lanjut, dari Rp 210 miliar dana yang dianggarkan untuk UN, rata-rata 
menelan Rp 55 ribu per siswa sebagai dana operasionalnya. Hal ini jauh lebih 
efektif jika berkaca pada pelaksanaan UN pada 2012 yang menelan hingga Rp 600 
miliar dengan biaya operasional per siswa sebesar Rp 50 ribu.
 
Narasi lainnya ditunjukkan Joko Widodo ketika kampanye Pilpres 2014, dengan 
mengatakan bahwa UN bagi pelajar SD dan SMP akan ditiadakan, serta UN bagi SMA 
digunakan sebagai pemetaan kualitas pendidikan. Kebijakan itu tidak berjalan 
sepenuhnya pada masa pemerintahannya. UN tetap dilaksanakan, hanya dihilangkan 
fungsinya sebagai satu-satunya tolok ukur standar kelulusan peserta didik.
 
Masa Depan UN
 
Dari dua narasi pada dua waktu yang berbeda di atas, terjadi perbedaan kacamata 
bagaimana masing-masing kandidat melihat UN itu sendiri. Sandiaga Uno lebih 
melihat UN dalam sudut pandang anggaran serta UN sebagai "placement test" 
--lebih ditujukan pada penempatan minat dan bakat siswa.
 
Berbeda dengan Sandiaga Uno, Joko Widodo pada 2014 silam lebih melihat UN dalam 
sudut pandang "diagnostic evaluation" --UN tidak digunakan sebagai alat ukur 
kelulusan, melainkan sebagai pemetaan kualitas pendidikan untuk dapat 
menentukan kebijakan pendidikan pada masa mendatang.
 
Penting untuk dilihat bahwa narasi penghapusan UN ini muncul ketika kampanye 
Capres-Cawapres berlangsung. Agaknya wajar jika hal ini kemudian dikaitkan 
dengan proses perolehan suara oleh pemilih pemula, yang tentu baru saja 
mengalami suka-duka UN.
 
Mengutip data dari KPU, pada 2014 gabungan angka pemilih pemula (17-20 tahun) 
dan pemilih muda (17-30 tahun) sekitar 60 juta jiwa. Hal ini bertambah di 
Pemilu 2019 kali ini, jumlah gabungan pemilih pemula dan muda diperkirakan 
mencapai 100 juta dari 186.379.878 jumlah pemilih tetap.
 
Memang harus diakui, UN sedikit-banyak memberikan dampak bagi siswa. Pada 
beberapa penelitian, UN menimbulkan kecemasan, perasaan gelisah hingga tertekan 
secara mental. Namun, dengan tidak menyampingkan aspek psikologis di atas, 
penghapusan UN memerlukan kajian yang panjang.
 
Pada kenyataannya, UN di Indonesia memang belum bisa dikatakan sempurna. 
Misalnya, kasus jual beli jawaban beberapa tahun silam, ataupun penggunaan UN 
berbasis komputer yang belum bisa merata di semua sekolah. Namun, penghapusan 
UN tidak serta-merta membuat kondisi pendidikan kita jauh lebih baik. 
 
 UN sebagai sebuah kebijakan memang tidak bisa dilepaskan dari arus kritik. 
Karena perspektif fungsinya yang beragam, baik sebagai "summative evaluation", 
"diagnostic evaluation", maupun "placement test", pintu kritik tentu terbuka 
lebar.
 
Namun, penting untuk juga dicatat, sesuai fungsinya menurut Permendikbud No.. 4 
Tahun 2018, UN dilaksanakan untuk meningkatkan mutu penilaian hasil belajar 
serta peningkatan standar kompetensi lulusan nasional. Oleh karena itu, UN 
memang harus dipandang secara lebih holistik. UN tidak bisa dilepaskan dari 
variabel guru, sekolah, siswa, anggaran, hingga perangkat soal yang digunakan. 
 
 Kajian-kajian yang mendalam sangat diperlukan untuk menentukan masa depan UN. 
Bukan sebagai narasi politik lima tahunan sekali.
 
 
   Indra Dwi Prasetyo mahasiswa Magister Pendidikan, Monash University Australia
 
  
 (mmu/mmu)  Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di 
luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini 
sekarang! 
  
  
  
  
  
  
   #yiv5866727324 #yiv5866727324 -- #yiv5866727324ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-mkp #yiv5866727324hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mkp #yiv5866727324ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mkp .yiv5866727324ad 
{padding:0 0;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mkp .yiv5866727324ad p 
{margin:0;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mkp .yiv5866727324ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-sponsor 
#yiv5866727324ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-sponsor #yiv5866727324ygrp-lc #yiv5866727324hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-sponsor #yiv5866727324ygrp-lc .yiv5866727324ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5866727324 #yiv5866727324actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5866727324
 #yiv5866727324activity span {font-weight:700;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv5866727324 #yiv5866727324activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5866727324 #yiv5866727324activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv5866727324 #yiv5866727324activity span 
.yiv5866727324underline {text-decoration:underline;}#yiv5866727324 
.yiv5866727324attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv5866727324 .yiv5866727324attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv5866727324 .yiv5866727324attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5866727324 .yiv5866727324attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5866727324 .yiv5866727324attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv5866727324 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv5866727324 .yiv5866727324bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5866727324 
.yiv5866727324bold a {text-decoration:none;}#yiv5866727324 dd.yiv5866727324last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5866727324 dd.yiv5866727324last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5866727324 
dd.yiv5866727324last p span.yiv5866727324yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv5866727324 div.yiv5866727324attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv5866727324 div.yiv5866727324attach-table 
{width:400px;}#yiv5866727324 div.yiv5866727324file-title a, #yiv5866727324 
div.yiv5866727324file-title a:active, #yiv5866727324 
div.yiv5866727324file-title a:hover, #yiv5866727324 div.yiv5866727324file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5866727324 div.yiv5866727324photo-title a, 
#yiv5866727324 div.yiv5866727324photo-title a:active, #yiv5866727324 
div.yiv5866727324photo-title a:hover, #yiv5866727324 
div.yiv5866727324photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5866727324 
div#yiv5866727324ygrp-mlmsg #yiv5866727324ygrp-msg p a 
span.yiv5866727324yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5866727324 
.yiv5866727324green {color:#628c2a;}#yiv5866727324 .yiv5866727324MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv5866727324 o {font-size:0;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324photos div {float:left;width:72px;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5866727324
 #yiv5866727324reco-category {font-size:77%;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324reco-desc {font-size:77%;}#yiv5866727324 .yiv5866727324replbq 
{margin:4px;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-mlmsg select, #yiv5866727324 input, #yiv5866727324 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-mlmsg pre, #yiv5866727324 code {font:115% 
monospace;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-mlmsg #yiv5866727324logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-msg 
p#yiv5866727324attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-reco #yiv5866727324reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-sponsor 
#yiv5866727324ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-sponsor #yiv5866727324ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-sponsor #yiv5866727324ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv5866727324 #yiv5866727324ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5866727324 
#yiv5866727324ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv5866727324   

Kirim email ke