https://bisnis.tempo.co/read/1190196/faisal-basri-sebut-cina-bukan-pemberi-utang-terbesar-ri-tapi?utm_
source=Digital%20Marketing&utm_medium=Partnership&utm_campaign=Dable
Faisal Basri Sebut Cina Bukan Pemberi Utang
Terbesar RI, Tapi...
Reporter:
Fajar Pebrianto
Editor:
Dewi Rina Cahyani
Kamis, 28 Maret 2019 19:39 WIB
Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji
<https://statik.tempo.co/data/2019/01/10/id_810437/810437_720.jpg>
Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji
TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri,
membantah informasi jika Cina menjadi penyumbang utang
<https://www.tempo.co/tag/utang>terbesar bagi pemerintah Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Faisal saat menjawab pertanyaan salah seorang
peserta diskusi yang diadakan Aliansi Pengusaha Nasional, kelompok
pengusaha yang mendukung pasangan capres nomor urut 02, Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno.
Baca: Bunga Utang Terus Meningkat, Pemerintah Diminta Waspada
<https://bisnis.tempo.co/read/1189406/bunga-utang-terus-meningkat-pemerintah-diminta-waspada/full&view=ok>
"Gak benar kalau Cina kasih utang terbesar ke Indonesia, itu ngawur,
tapi yang benar Cina memang kasih utang terbesar ke BUMN," kata Faisal
di Restoran Batik Kuring, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis, 28 Maret 2019.
Data Bank Indonesia juga menunjukkan hasil yang sama. Hingga akhir Juni
2018, BI Bank mencatat sebanyak US$ 182,45 miliar atau sekitar Rp 2.662
triliun yang digelontorkan dari negara-negara kreditor kepada Indonesia.
Angka itu naik bila dibandingkan dengan per Juli 2017 sebesar US$ 176,61
miliar atau sekitar Rp 2.576 triliun. Hitungan tersebut menggunakan
asumsi kurs Rp 14.590 per dolar AS.
Adapun lima pemberi utang terbesar hingga kuartal kedua tahun ini
adalah: Singapura, Jepang, Cina, Amerika Serikat dan Hong Kong.
Singapura tercatat memberi pinjaman US$ 55,67 miliar dan Jepang sebesar
US$ 28,66 miliar. Sementara utang dari Cina sebanyak US$ 16,32 miliar
Amerika Serikat US$ 15,43 miliar dan Hong Kong US$ 13,26 miliar.
Tak hanya itu, Faisal meminta utang Indonesia dilihat secara benar.
Secara rasio, kata dia, utang Indonesia masih lebih baik dari beberapa
negara lain. Dari data tradingeconimics.com, hingga 2017, rasio utang
Indonesia terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hanya 28,7 persen.
Bandingkan dengan Jepang 253 persen, Amerika 105,4 persen, maupun India
68,7 persen.
Walau begitu, Faisal tetap mengkritik bahwa pembayaran bunga utang
Indonesia terus naik setiap tahunnya meski rasio utang terhadap PDB
cenderung rendah. Menurut data Badan Pusat Statistik dan Kementerian
Keuangan, Faisal menyebut utang luar negeri Indonesia hingga 2017 sudah
mencapai Rp 3.942 triliun, atau naik dibandingkan 2016 yang mencapai Rp
3.467 triliun. Tapi bunga utang juga naik hingga Rp 217 triliun.
Selain itu, Faisal juga menyoroti bagaimana 60 persen dari Surat Utang
Negara (SUN) yang diterbitkan Kementerian Keuangan dimiliki oleh pihak
asing. Hanya 40 persen yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Di
negara lain seperti Jepang, rasio utang
<https://bisnis.tempo.co/read/1189406/bunga-utang-terus-meningkat-pemerintah-diminta-waspada>terhadap
PDB mencapai 253 persen, tapi lebih banyak berutang kepada rakyat mereka
sendiri.
Kondisi ini juga diperburuk dengan bunga utang Indonesia yang mencapai
20 persen, lebih tinggi dari Jepang yang hanya 10 persen, maupun India
dan Thailand 4 persen. "Jadi kalau negara lain lebih banyak bayar bunga
ke rakyat sendiri, kita bayar ke luar negeri," kata Faisal.