/http://mediaindonesia.com/read/detail/226561-rasional-vs-emosional
/
//
/*Rasional vs Emosional*/
Penulis: *Rudy Polycarpus* Pada: Minggu, 31 Mar 2019, 07:20 WIB Politik
dan Hukum <http://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/226561-rasional-vs-emosional>
<http://twitter.com/home/?status=Rasional vs Emosional
http://mediaindonesia.com/read/detail/226561-rasional-vs-emosional via
@mediaindonesia>
Rasional vs Emosional
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/03/ee35ce8084622adc2d634a6014039287.jpg>
/AFP/DHANNY KRISNADHY/
Capres nomor urut 01, Joko Widodo, dan capres nomor urut 02, Prabowo
Subianto, disaksikan Ketua KPU Arief Budiman, saling menyapa sebelum De
DENGAN ekspresi serius sembari menunjuk-nunjuk ke arah penonton, calon
presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto meminta penonton jangan tertawa.
“Jangan tertawa. Kenapa kalian tertawa. Pertahanan Indonesia rapuh,
kalian tertawa. Lucu, ya? Kok lucu,” ujar mantan Danjen Kopassus itu
dalam debat keempat di Hotel Shangri-La, Jakarta, tadi malam. Setelah
melihat hal itu, penonton yang tertawa pun langsung terdiam.
Itu terjadi ketika Prabowo menjelaskan pertahanan nasional. Menurutnya,
kekuatan pertahanan nasional sangat lemah. “Kekuatan pertahanan kita
sangat rapuh dan lemah. Bukan salah Bapak (Jokowi),” tandasnya.
Debat yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum itu mengusung tema
Ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan
internasional. Debat dibagi ke dalam empat segmen.
Sejak awal debat, Prabowo sudah tampil ‘menyerang’. Di sesi soal
ideologi, Prabowo meminta klarifikasi kenapa kubu calon presiden nomor
urut 01 Joko Widodo menuduhnya pro-khilafah dan melarang tahlil jika
terpilih.
Namun, Jokowi tidak melayani pertanyaan Prabowo. Jokowi juga mengatakan
dirinya pun bernasib sama, sering dituduh sebagai anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI) selama 4,5 tahun. “Saya biasa-biasa saja enggak pernah
saya jawab,” cetusnya.
Meski demikian, setelah saling curhat, keduanya saling memuji bahwa
mereka ialah pro-Merah Putih dan patriotik. Menurut Jokowi, jauh lebih
penting bagaimana dirinya dan Prabowo membumikan Pancasila jika
terpilih dalam Pilpres 2019.
Dalam debat, Jokowi tampak lebih kalem dan menjelaskan permasalahan
secara sistemik, seperti soal pemerintahan. Sebaliknya, Prabowo tampil
lebih emosional. Jokowi menawarkan pelayanan publik di era industri 4.0
dengan ‘dilan’. “Diperlukan pemerintahan ‘dilan’, digital melayani,”
kata Jokowi.
Prabowo menimpali bahwa lebih baik menggunakan teknologi lama, tetapi
kekayaan negara tidak lari ke luar negeri. “Kita boleh punya sistem
hebat, kartu banyak sekali, indah seolah efisien, cepat. Untuk apa cepat
kalau kekayaan mengalir ke luar negeri,” kata Ketua Umum Partai Gerindra
ini.
Yang mengagetkan Prabowo sempat mengatakan bahwa dirinya lebih TNI
daripada TNI. “Saya TNI, Pak. Saya pertaruhkan nyawa di TNI, saya
lebih TNI daripada banyak TNI,” kata Prabowo. Sebelumnya, Jokowi
menjelaskan strategi pertahanan dan keamanan.
Selama debat, Prabowo menyebut kata ‘perang’ sebanyak 12 kali, sementara
Jokowi lima kali.
*Temperamental*
Dalam menanggapi debat keempat, pakar psikologi politik UI, Hamdi Muluk,
mengatakan penonton tak banyak menyoroti substansi, tetapi lebih pada
dua karakter yang berbeda. “Debat ini makin mengukuhkan dua jenis
kepribadian yang beda. Prabowo yang emosional, suka retorika yang besar
yang tidak didukung dengan data yang valid,” kata Hamdi, tadi malam.
Ia pun menambahkan sikap tempramen Prabowo sudah diprediksinya sejak
beberapa tahun lalu. “Pengendalian emosi Prabowo tampak tak lebih baik
daripada Jokowi,” ungkap Hamdi.
Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir,
mengaku puas dengan penampilan jagoannya. “Jokowi sangat tenang dan
menguasai materi debat,” katanya. Sebaliknya, Wakil Ketua Badan
Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso, mengatakan
Prabowo Subianto unggul telak. “10-0 untuk kali ini,” kata Priyo.
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh memuji sikap saling memuji
antarkedua kandidat. “Itu ialah bagian dari modal dasar yang harus
tetap terpupuk sedemikian rupa,” tutur Surya di Kota Makassar, Sulawesi
Selatan. (Uta/Pro/Mal/Wan/Ins/Faj/*/X-4)