IYA BU MEGAWATI, GOLPUT EMANG PENGECUT DAN TAK LAYAK JADI WARGA NEGARA 
INDONESIA! 
https://mojok.co/daf/ulasan/pojokan/iya-bu-megawati-golput-emang-pengecut-dan-tak-layak-jadi-warga-negara-indonesia/
 AHMAD KHADAFI https://mojok.co/penulis/daf/ 1 APRIL 2019
 POJOKAN https://mojok.co/ulasan/pojokan/ 12


 
 
 
 
https://web.whatsapp.com/send?text=Iya%20Bu%20Megawati%2C%20Golput%20Emang%20Pengecut%20dan%20Tak%20Layak%20Jadi%20Warga%20Negara%20Indonesia%21%20https%3A%2F%2Fmojok.co%2Fdaf%2Fulasan%2Fpojokan%2Fiya-bu-megawati-golput-emang-pengecut-dan-tak-layak-jadi-warga-negara-indonesia%2F
 417
 Shares
 

 
 MOJOK.CO – https://mojok.co/ Golput dibilang Ibu Megawati sebagai kelompok 
yang pengecut, tak punya pendirian, tak punya harga diri. Modyar. Mampus kau 
dikoyak-koyak kampanye!
 Benar-benar luwar biyasa pencerahan yang disampaikan Ketua Umum Partai 
Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) soal golput. Saat berkampanye di GOR 
Pandawa Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah, blio terang-terangan menyebut bahwa 
golput itu pengecut.
 “Jangan golput. Golput itu pengecut, tidak punya pendirian, tidak punya harga 
diri, tidak usah jadi warga negara Republik Indonesia,” kata 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190331153716-32-382287/megawati-kalau-golput-jangan-jadi-warga-negara-indonesia
 Bu Megawati.
 Benar itu, Bu Megawati. Sebagai warga negara kan mereka harus manut dengan apa 
kata elite negeri ini ya kan?
 Kalau disodorin pilihan para elite ya nggak usah ngeyel. Udah numpang hidup di 
bumi pertiwi kok enak bener nggak mau ikhlas memilih elite yang nggak 
memperjuangkan kehidupannya?
 Emang kelen semuwa, rakyat-jelata-kismin-tukang-nyusahin-pemerintah-itu bisa 
apa tanpa para elite politik? Hidup kalian itu kan bergantung sama elite. 
Hagimana, bertahun-tahun nggak punya kemampuan, nggak bisa mikir, bodoh, 
gampang diiming-imingi janji, fanatik buta.
 Lihat dong para elite kita yang layak pilih, jenius mandraguna, dan berharga 
diri tinggi. Selalu perhatian, mendengar suara rakyatnya, berbaur, bijaksana, 
bahkan mau ikut mendengar keluhan rakyat-rakyatnya satu demi satu cuma saat 
kampanye.
 Lagian para elite kita kan udah habis duit banyak buat memperjuangkan 
kepentingan partai. Masa udah ikhlas gitu kok ya masih mau dicuekin? Milih 
golput. Hedeh, benar-benar nggak punya hati nurani. Dasar warga negara kelas 
dua belas.
 Bisanya cuma protas-protes-protas-protes nggak jelas lagi. Jadi warga negara 
kok ya kerjaannya nyolot kayak cupang.
 “Terus enak-enakan mencari rezeki di Indonesia, tetapi tidak mau menjalankan 
kewajiban dia sebagai warga negara,” kata Bu Megawati lagi.
 Bener itu, Buk.
 Para golput ini emang nggak mikir kalau mereka semua harusnya menjalankan 
kewajiban dengan menjadi apa yang dimau para elite lewat undang-undang yang 
dibikin elite. Kalau disuruh elite milih, ya harus milih. Kalau jebul 
pilihannya sama-sama busuk, ya tetap kudu milih. Rakyat kok ngatur-ngatur. 
Siapa elu?
 Baca juga:  Bukan Cuma Opini, Kini Fakta Sejarah Juga Bisa Mencemarkan Nama 
Baik 
https://mojok.co/red/komen/status/bukan-cuma-opini-fakta-sejarah-mencemarkan-nama-baik/
 Rakyat itu kan tugasnya gampang. Tinggal datang ke TPS lima tahun sekali, 
nyoblos. Beres. Perkara habis itu nyolong, sebar hoax, mainan narkoba, korupsi 
kan nggak masalah, yang penting dipilih. Habis itu, tinggal sabar aja. Sabar 
nunggu lima tahun lagi.
 Kayak misal, elite bilang rakyat harus belajar diet, ya harus diet. Elite 
bilang rakyat kudu nanam cabe sendiri karena cabe mahal, ya kudu nanem. Bahkan 
ke depan, kalau ada elite bilang BBM nggak kebeli, lalu rakyat disuruh cari 
minyak bumi sendiri, ya rakyat kudu ngebor minyak bumi sendiri.
 Itulah yang namanya rakyat berdikari, berdiri di atas kaki sendiri, tanpa 
elite harus kerja susah-susah. Warbiyasa kan? Ini namanya kerja berbasis 
pendekatan ongkang-ongkang. Yang digaji elite, yang suruh kerja dan mikir 
gimana caranya hidup ya rakyat sendiri.
 Jangan apa-apa kok selalu nuntut pemerintah atau calon pemerintah. Jadi rakyat 
kok sukanya nuntut. Minta ini, minta itu. Kalau waktu kampanye sih ya bakal 
didengerin. Kalau nanti udah jadi ya, maaf, kerjaan banyak, Bos. Nggak bisa lah 
dengerin satu-satu.
 Lagian soal nuntut-nuntut hak gitu kan itu tugasnya elite. Rapat parlemen 
mbolos, kinerja buruk selama bertahun-tahun tapi minta dimaklum 
https://mojok.co/red/rame/kilas/fadli-zon-minta-rakyat-maklumi-kinerja-buruk-dpr/i,
 kadang ketiduran, itu merupakan hak-hak elite.
 Rakyat itu nggak elok kalau nuntut hak. Rakyat itu kudu ingat “kewajiban”-nya 
aja. Salah satunya kewajiban milih pas pemilu gini.
 Kalau ke depan nanti rakyat ada yang kena masalah ya selesain sendiri, negara 
dan elite nggak perlu ikut campur. Tapi kalau negara butuh rakyat, ya rakyat 
harus segera menyediakan diri. Kalau nggak mau ya berarti situ anti-NKRI, 
anti-Pancasila, anti-Demokrasi.
 Baca juga:  Tipe-Tipe Golput pada Pilpres 2019 
https://mojok.co/daf/ulasan/pojokan/tipe-tipe-golput-pada-pilpres-2019/
 Bu Megawati yang tertjinta juga menyampaikan, “Saya akan mengatakan baik yang 
tua maupun yang muda, kalian adalah warga negara yang pengecut, tidak berani 
datang ke TPS menunjukkan harga dirinya.”
 Tuh, dengerin para golput se-tanah air yang nggak tahu malu dan nggak punya 
harga diri. Udah deh, lebih mending jadi koruptor, lebih ada harga dirinya. 
Jauh mah.
 Apalagi buat rakyat yang berada di pelosok negeri dengan akses ke TPS susah. 
Warga negara yang tinggal di belantara yang harus mendaki gunung lewati lembah 
buat ke TPS. Atau mahasiswa-mahasiswa kere yang nggak punya duit untuk pulang 
kampung, lalu mau ngurus bisa milih di tanah rantau ribet dan akhirnya nggak 
bisa milih.
 Kesulitan-kesulitan akses ke TPS yang nggak boleh jadi alasan untuk nggak 
datang ke TPS.
 Makanya, kalau punya ekspetasi sama elite yang akan dipilih itu jangan 
ketinggian. Nggak usah bikin standar-standar yang kelewatan. Negosiasi dikit 
napa sih, susah amat?
 Persoalan HAM nggak diselesain nggak apa-apa asal pembangunan infrastuktur 
bisa terus jalan. Kasus Novel Baswedan diabaikan nggak apa-apa, yang penting 
ada koruptor yang kena OTT. Lihat sesuatu itu yang baik-baiknya aja dong. 
Jangan apa-apa kok dilihatnya kurangnya terus.
 Hal ini seharusnya jadi kesadaran bersama bagi rakyat, sehingga mereka harus 
maklum kalau elite politik emosi gitu sama kelompok golput yang menekan mereka.
 Soalnya dalam ilmu politik elite di Indonesia, hukum Newton itu nggak berlaku. 
Itu lho hukum yang berbunyi: “Tekanan itu berbanding lurus dengan gaya. Kalau 
elite kok kena banyak tekanan, itu artinya kampanye mereka kebanyakan gaya.”

Kirim email ke