Tidak ada yang sulit bagi seorang presiden untuk menegakkan peraturan, apalagi 
dia dipayungi sistem presidensiil. Masalahnya kelihatan kok Jokowi (presiden) 
cuma sibuk mengurus kepentingan pribadinya (sibuk menangkis tuduhan sebagai 
anak PKI) daripada bekerja menjaga tegaknya undang-undang yang mengharuskan 
TNI-Polri netral dari kegiatan politik. Jadi, ini soal kemauan. Maunya menang 
sekalipun dengan cara tak lazim / melabrak undang-undang.
Para intelektual di kubunya juga kelihatan kocak, lebih serius mengangkat 
hal-hal pribadi Jokowi (punya keluarga, cucu dsb) ketimbang membeberkan 
pemikiran kenegaraan sang junjungan, sambil ketat mengamati-amati urusan 
pribadi orang.
Lihat saja kelakuan para intelektual itu, sampai si Rocky Gerung pun cuma 
dikuliti soal-soal pribadinya saking mereka takut bersentuhan dengan 
pemikirannya. Pantas Karni Ilyas meledek Rocky dengan julukan "profesor" 
lantaran lawan-lawan debatnya cuma melongo tak sanggup menandingi pemikirannya 
barang sepatah kata pun.
--- SADAR@... wrote:
Dengan ketentuan PILPRES langsung, tentu SULIT, sangat, sangat sulit bahkan 
TIDAK MUNGKIN bisa melaksanakan ketentuan POLRI/TNI tetap dbersikap NETRAL, 
tidak boleh terlibat kampanye! Lalu, ... bagaimana pelaksanaan hak/kewajiban 
setiap warga harus ikut memilih bagai POLRI/TNI, memberikan suara pada capres 
yang ada? Diatur TPS khusus didalam barak atau TPS umum dengan mencopor sergam 
polisi/tentara dan kenakan baju preman?
 Untuk pertahankan netralitas POLRI, kesalahan Sulman berikan dukungan aresmi 
pada capres-02 dengan berfoto bersama tokoh pemenangan kubu-02, dan oleh 
karenanya dimutasi! Yang jadi masalah Sulman TIDAK BISA buktikan atasannya 
memerintahkan pak Kapolres untuk dukung kubu-01, ...

ajeg 於 2/4/2019 0:24 寫道:
Tidak berpolitik, cuma mengamankan kemenangan kok. 
    --- ilmesengero@... wrote: 
  Kalau disuruh memenang berartinya tidak boleh berpolitik. hehehhe  
  On Mon, Apr 1, 2019 at 6:05 PM ajeg wrote:  
     Rakyat butuh kepolisian yang jujur dan membuat masalah jadi terang. Bukan 
kepolisian yang malah bikin kusut persoalan dan kabur seperti kasus Buku Merah 
KPK, kasus Novel Baswedan dll.  Semakin ditutupi semakin nyaring baunya.  
  Salah sendiri kalau banyak yang memilih Golput karena pemilu disalahgunakan 
hanya untuk memenangkan junjungan, bukan untuk memenangkan Rakyat.  
   - 
   
Eks Kapolsek Cabut Pernyataan
   
 "Saya sudah melakukan suatu kesalahan saya, saya menyatakan bahwa Polri itu 
tidak netral di dalam Pilpres 2019 ini," kata Sulman.
     
  
    On Monday, April 1, 2019, 10:23:37 PM GMT+7, ajeg wrote:    
         Masih banyak yang ingat modus ini. 
  Mirip 2014.    
    "Dari saya kepada kami adalah Pak Kapolres. Saya nggak tahu apakah perintah 
itu secara estafet  dari atas atau tidak. Yang jelas saya diperintahkan oleh 
beliau.  Agar kita diperintahkan mendukung paslon 01, dan ada ancaman juga 
kalau seandainya  paslon 01 di wilayah masing-masing," ucapnya.
  
    -      
   Minggu 31 Maret 2019, 17:29 WIB     
Eks Kapolsek Pasirwangi Ngaku Diminta Kapolres Garut Menangkan Jokowi
 
    Muhammad Fida Ul Haq, Hakim Ghani - detikNews  
  
 Foto: Eks Kapolsek Pasirwangi AKP Sulman Aziz (kiri) dan Direktur Lokataru 
Haris Azhar    
    Jakarta - Mantan Kapolsek Pasirwangi Garut AKP Sulman Aziz melaporkan  
dugaan pelanggaran yang ada di satuannya ke lembaga bantuan hukum Lokataru. 
Sulman mengaku pernah mendapatkan perintah dari atasannya untuk memenangkan  
pasangan calon 01 Jokowi dan Ma'ruf Amin di Pilpres.     

 Sebelum berbicara mengenai perintah itu, Sulman lebih dulu membahas mengenai 
mutasi dirinya dari pos orang nomor satu di Polsek Pasirwangi. Menurut Sulman, 
dia dipindahkan karena pernah berfoto dengan  tokoh pemenangan pasangan calon 
02.
  
   "Saya merasa telah dizolimi, telah disakiti, termasuk keluarga saya, istri 
saya, anak saya.  Saya telah dimutasikan dari posisi saya ke Polda Jawa Barat. 
Dikarenakan saya berfoto dengan tokoh agama, tokoh NU kecamatan Pasirwangi. 
Yang kebetulan beliau itu ketua  deklarasi Prabowo-Sandi," kata Sulman di 
Kantor Lokataru, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu  (31/3/2019).
   
  Sulman beralasan foto tersebut merupakan dokumentasi untuk laporan tugasnya 
ke Kapolres  Garut. Selain itu, dia mengaku difitnah karena  dituduh 
memobilisasi 9 kepala desa memilih Prabowo-Sandi.   
  "Saya dianggap memobilisasi kepala desa di Polsek Pasir Wangi untuk 
memberikan dukungan kepada nomor 02," jelasnya.
  
   Padahal menurutnya, justru 9 kepala desa yang meminta bantuan terkait 
keamanan. Para kepala desa dipanggil oleh Polda Jawa Barat untuk diperiksa 
terkait dana desa.
  
   "Mereka itu menyampaikan kepada saya dan minta perlindungan kepada saya 
bahwa mereka habis dipanggil oleh Polda Jawa Barat. Diperiksa dalam rangka dana 
desa dan  bansos," ucapnya.
  
   Sulman mengaku bingung kepada siapa dia melaporkan mutasi yang dialaminya. 
Dia  mengatakan tidak percaya laporannya akan diproses di Divisi Propam.
  
   "Saya adalah bawahan, siapa yang ingin mendengarkan laporan saya,"  ucapnya.
  
   Dia mengatakan foto yang dipermasalahkan terjadi pada 25 Februari 2019. 
Beberapa  minggu kemudian Sulman mendapat mutasi tanpa  alasan yang jelas.
  
   "Nggak ada di dalam TR, nggak ada keterangan alasan dimutasi,"  jelasnya..
  
   Sulman mengaku mengetahui alasan mutasi dari anggotanya  yang dipanggil 
Polres Garut. Para anggotanya ditanya terkait dugaan dukungan Sulman pasa 
paslon 02.
  
   "Propam Polda Jawa Barat yang ditanyakan apa hubungan saya dengam Ustaz  
Zamzam dan apa yang sampaikan oleh saya ketika bertemu kepala  desa," jelasnya.
  
   Sulman sendiri juga mengaku pernah diminta memetakan pemilih di wilayahnya. 
Dia  mengaku diperintah Kapolres Garut Kapolres Garut AKBP Budi  Satria Wiguna 
untuk mendukung paslon 01 melalui forum rapat dan  diancam mutasi bila paslon 
01 kalah di wilayahnya.
  
   "Dari saya kepada kami adalah Pak Kapolres. Saya nggak tahu apakah perintah 
itu secara estafet dari atas atau tidak. Yang jelas saya diperintahkan oleh 
beliau.  Agar kita diperintahkan mendukung paslon 01, dan ada ancaman  juga 
kalau seandainya paslon 01 di wilayah masing-masing,"  ucapnya.
  
   Sulman sendiri saat ini akan segera menjabat sebagai Kanit  Seksi 
Pelanggaran Gakkum Direktorat Lalu Lintas Jawa Barat.  Direktur Lokataru Haris 
Azhar mengatakan dia mengantongi  data galangan dukungan untuk paslon tertentu 
pada Pilpres 2019.
  
   "Jadi sejarahnya adalah pendataan itu hasil galangan. Artinya sebelumnya 
diminta paran  kapolsek melakukan penggalangan setelah dilakukan  penggalangan 
dilihat hasilnya maka keluarlah format-format itu," ucap  Haris.
  
  Kapolres Garut Bantah Kesaksian AKP Sulman
  
   Dimintai konfirmasi terpisah, Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna  
menyangkal kesaksian Sulman. Dia bersumpah tidak pernah  memerintahkan Sulman 
untuk menggalang dukungan kepada Jokowi.
  
   "Wah Demi Allah, sumpah saya nggak bisa berdiri kalau saya ngomong  gitu," 
tutur Budi saat dimintai konfirmasi detikcom.
  
   Beberapa waktu sebelumnya, Kadiv Humas Polri Irjen Iqbal  mengatakan Polri 
memang mengumpulkan data di lapangan, tapi  itu sama sekali tidak terkait 
dengan politik praktis.  Pengumpulan data, lanjut Iqbal, dilakukan untuk 
memetakan  potensi kerawanan. Iqbal memastikan Polisi netral  dalam Pilpres, 
siapapun polisi yang bertindak tak netral akan ditindak.
  
   "Strategi keamanan dan mempunyai data, data fix data apa pun, tidak ada  
kaitannya dengan motif politik kita wajib mengetahui  dapil, juga daerah mana 
yang terkonsentrasi paslon A dan paslon B.  Untuk apa? kita ingin melakukan 
proses pengamanan di  situ. Ini adalah wajar yang sudah kita lakukan dari tahun 
ke tahun,  begitu kan," kata Iqbal kepada wartawan di Jakarta.
  
  Iqbal mengatakan strategi serupa pun dilakukan untuk  pengamanan dalam 
pemilihan level kepala desa. Pengetahuan  mengenai massa akan menentukan 
strategi pengamanan. 
  "Di dalam pilkades itu, kita sudah memetakan siapa  sebenarnya yang 
mendominasi. Agar apa, agar kami bisa menentukan  strategi pengamanan yang 
tepat.. Begitu kan. Jadi sama  sekali tidak ada motif politik, jadi tegas 
sekali bapak Kapolri mengeluarkan TR-nya. Artinya, siapa pun yg tidak netral 
akan kami  proses, ada mekanismenya. Kan sudah banyak yang sudah dibuktikan ada 
seorang wakapolda dan juga oknum-oknum. Sudah, kode  etik bahkan ada yang 
dicopot. Prinsipnya itu siapa pun yang melalukan, pelanggaran terhadap 
netralitas akan kami proses  dan ada mekanismenya," tutur Iqbal.
  
  (fdu/fjp)                              

Kirim email ke