Dapatkah Seorang Muslim Hapus Diskriminasi Kristen Tionghoa di Indonesia?

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Dapatkah Seorang Muslim Hapus Diskriminasi Kristen Tionghoa di Indonesia?

www.scmp.com

Azmi Abubakar adalah seorang Muslim kelahiran Aceh yang mencalonkan diri dari 
Partai Solidaritas Indonesia (PSI)...
 |

 |

 |





Sumberwww.scmp.comPosted on March 25, 2019


Azmi Abubakar adalah seorang Muslim kelahiran Aceh yang mencalonkan diri dari 
Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mantan aktivis 98 itu mengatakan, jika 
terpilih ia ingin memperjuangkan hak-hak minoritas etnis Tionghoa di Indonesia. 
Ia juga ingin membuat komisi anti-intoleransi, yang akan berdiri independen 
seperti KPK.

Baca Juga: Prabowo vs Jokowi, Siapa yang Bakal Didukung Etnis Tionghoa?

Oleh: Randy Mulyanto (South China Morning Post)

Azmi Abubakar adalah seorang Muslim yang lahir di Aceh, provinsi paling barat 
Indonesia―satu-satunya provinsi yang memberlakukan hukum Islam atau syariah.

Tetapi untuk menuju ke pemilu yang akan diselenggarakan 17 April nanti, Azmi, 
47 tahun, telah bergabung dengan sebuah partai yang memiliki pandangan 
progresif dan komitmen untuk memperjuangkan hak-hak agama dan etnis minoritas.



Keanggotaan Azmi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak mengejutkan 
mengingat latar belakangnya. Dia adalah seorang aktivis mahasiswa yang 
melakukan unjuk rasa saat kejatuhan Suharto pada tahun 1998, ketika kerusuhan 
anti-Tionghoa yang mematikan berkecamuk di seluruh negeri.

Pada tahun 2012, pengusaha real estat tersebut mendirikan Museum Pustaka 
Peranakan Tionghoa di kota Tangerang Selatan, yang menampung lebih dari 30.000 
buku dan dokumen yang diproduksi atau pernah dimiliki oleh anggota komunitas 
Tionghoa Indonesia. Tidak ada angka resmi yang pasti, tetapi etnis Tionghoa 
diperkirakan terdiri dari sekitar 2 persen dari lebih dari 260 juta populasi 
Indonesia.

Azmi akan menjadi salah satu dari 574 kandidat PSI, persentase kecil dari 
7..968 kandidat legislatif dari 20 partai politik Indonesia yang bersaing untuk 
575 kursi. PSI mengatakan sekitar setengah dari kandidatnya memiliki setidaknya 
gelar sarjana, dan telah memegang peran senior dalam diplomasi, penegakan hukum 
dan media. Usia mereka berkisar antara 20 hingga 74 tahun. Anggota partai 
termasuk analis bisnis terkenal Christianto Wibisono dan aktivis lingkungan 
Silverius Oscar Unggul.

“Saya mencalonkan diri sebagai anggota parlemen, bukan hanya sebagai orang 
Aceh. Saya menyoroti masalah nasional yang seharusnya menjadi masalah semua 
orang,” kata Azmi, seraya menambahkan bahwa agenda PSI adalah untuk mengakhiri 
intoleransi di Indonesia. Ini akan, katanya, menggarisbawahi bahwa etnis 
Tionghoa memiliki tempat yang layak dalam masyarakat Indonesia.

Meningkatnya intoleransi telah merusak politik dan masyarakat Indonesia dalam 
beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, telah ada perkembangan dalam 
undang-undang yang mendiskriminasi perempuan dan minoritas yang diberlakukan 
oleh pemerintah daerah dengan latar belakang konservatisme Islam yang 
berkembang.

Tahun lalu, Lembaga Survei Indonesia menemukan peningkatan laporan umat Islam 
yang menyatakan ketidaknyamanannya dengan non-Muslim yang membangun fasilitas 
keagamaan atau melakukan ritual keagamaan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2016, tekanan publik dari kelompok garis keras menyebabkan jatuhnya 
gubernur keturunan Tionghoa, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, setelah 
beredarnya cuplikan video di mana ia dilaporkan mengatakan kepada para pemilih 
untuk tidak tertipu oleh sebuah ayat dalam Alquran yang mengatakan umat Islam 
tidak boleh memilih pemimpin non-Muslim. Setelah berbagai kontroversi, Ahok 
akhirnya dipenjara selama dua tahun dan dibebaskan tahun ini.

PSI didirikan lima tahun lalu setelah Presiden Joko “Jokowi” Widodo terpilih 
dan Ahok, rekan dekatnya, mengambil alih sebagai gubernur Jakarta. Partai ini 
dipimpin oleh mantan jurnalis televisi Grace Natalie, 36 tahun, seorang advokat 
yang vokal mengenai kebebasan beragama. PSI telah mendukung upaya Jokowi untuk 
dipilih kembali saat Pilpres 2019 April nanti.

Pada bulan November, setelah Grace Natalie bersumpah bahwa partainya tidak akan 
mendukung undang-undang yang diskriminatif berdasarkan “Alkitab atau syariah”, 
seorang politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang mendukung calon 
presiden Prabowo Subianto melaporkannya ke polisi, mengklaim sikapnya terhadap 
syariah bertentangan dengan Alquran dan mengarah ke penistaan agama.

Analis politik Arif Susanto mengatakan gagasan-gagasan PSI menarik bagi pemilih 
muda, yang dianggap “kreatif, percaya diri, dan terhubung”.

Pemimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, berfoto di 
kantornya di markas besar PSI di Jakarta, Indonesia, 19 Maret 2018. (Foto: 
Reuters/Darren Whiteside)

“Orang-orang ini tumbuh dalam lingkungan yang lebih liberal sehingga 
egalitarianisme dan masalah etika lebih penting bagi mereka daripada bagi 
generasi yang lebih tua,” kata Arif, dari perusahaan riset Exposit Strategic.

Tapi PSI menghadapi perjuangan berat untuk mendapatkan suara, karena berbagai 
alasan.

Arif mengatakan preferensi politik dari lebih dari 192 juta pemilih yang 
memenuhi syarat untuk memilih cenderung konservatif, sementara kaum muda 
perkotaan cenderung lebih skeptis tentang institusi publik dan kegiatan 
politik..

Sudah ada wacana bahwa pemilih milenial, yang membentuk hampir setengah dari 
pemilih, mungkin tidak peduli dengan pemilu. Pemilu sebelumnya menunjukkan 
pemilih muda lebih cenderung untuk golput, dan survei tahun 2017 oleh Pusat 
Kajian Strategis dan Internasional yang berbasis di Jakarta menunjukkan bahwa 
hanya seperempat dari 1.400 responden milenial memiliki minat pada berita atau 
masalah politik.

Baca Juga: Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi Manfaatkan 
Kebencian pada Prabowo

Arif mengatakan PSI tidak memiliki afiliasi kuat dengan organisasi massa, tidak 
seperti partai-partai yang lebih mapan seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), 
yang keanggotaannya tumpang tindih dengan Nahdlatul Ulama, organisasi Muslim 
terbesar di Indonesia.

“PSI tampaknya berusaha mengatasi tantangan ini dengan strategi “efek ekor jas” 
dari dukungan mereka terhadap Jokowi. Selain itu, dengan merekrut tokoh-tokoh 
populer, mereka mengharapkan dukungan luas dari kelompok-kelompok pemuda,” kata 
Arif.

Wasisto Raharjo Jati, seorang peneliti di Pusat Studi Politik di Institut Ilmu 
Pengetahuan Indonesia, mengatakan PSI kemungkinan tidak akan memenangkan lebih 
dari 1 persen suara nasional, menurut survei nasional.

Ambang batas parlemen Indonesia adalah 4 persen―sebuah partai harus mendapatkan 
setidaknya 4 persen dari suara rakyat untuk setiap kandidat yang menang untuk 
masuk ke parlemen.

Kelompok Muslim garis keras berkumpul untuk melakukan protes terhadap Gubernur 
DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama pada bulan Oktober. (Foto: 
REUTERS/Darren Whiteside)

PSI berencana untuk memanfaatkan segmen pemilih muda profesional dan mahasiswa, 
kata Wasisto, tetapi masalah sebenarnya adalah apakah partai itu dapat mengubah 
pola pikir masyarakat.

“Bisakah PSI menurunkan tingkat intoleransi di kalangan anak muda? Karena 
ketika saya membaca berbagai hasil penelitian, tingkat intoleransi di kalangan 
anak muda tinggi. Jadi ternyata jika mereka lebih mapan (dalam hidup atau dalam 
karir mereka), semakin tidak toleran mereka,” katanya. “Di sini saya melihat 
semacam diskontinuitas antara klaim partai dan realitas demografi.”

Nilai PSI, kata Wasisto, adalah vokal dalam mengangkat masalah yang tidak 
berani disentuh oleh partai politik baru lainnya. “PSI juga mengganggu zona 
kenyamanan partai yang lebih tua.”

Baca Juga: Hapus Prasangka Anti-China di RI, Museum Ini Tunjukkan Peran Tionghoa

Azmi mengakui bahwa “perlawanan terhadap intoleransi” dan bahkan membasmi 
diskriminasi adalah penjualan yang sulit, dan dia mungkin akan ditolak di 
tempat pemungutan suara. Dia akan menjadi salah satu dari 22 perwakilan 
provinsi Banten di parlemen nasional, dan harus merayu lebih dari 4,2 juta 
pemilih yang memenuhi syarat di tiga kabupaten dengan campuran etnis dari 
Tionghoa dan kelompok etnis lainnya, termasuk Jawa dan Betawi.

Tetapi seseorang, kata Azmi, harus mulai membongkar gagasan-gagasan yang telah 
menyebar melalui “hoax“, seperti gagasan bahwa etnis Tionghoa telah menyebabkan 
“kesenjangan ekonomi” dan “kesenjangan sosial” di Indonesia.

“Istilah-istilah ini adalah warisan dari rezim (Suharto) yang melekat dalam 
bahasa sehari-hari hingga saat ini,” katanya, merujuk pada bagaimana 
orang-orang Tionghoa dilarang mempraktikkan agama dan tradisi mereka di bawah 
rezim Suharto karena adanya keyakinan bahwa hal itu akan menghambat asimilasi 
mereka ke dalam masyarakat Indonesia. Instruksi presiden Suharto tersebut 
dicabut oleh penggantinya, almarhum Abdurrahman Wahid (Gusdur).

Massa yang marah membakar mobil dan toko-toko milik orang Tionghoa saat mereka 
menjarah toko-toko di Jakarta selama kerusuhan 1998. (Foto: AFP)

Jika terpilih, Azmi akan mengajukan pembentukan komisi anti-intoleransi, mirip 
dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pahlawan dari komunitas etnis Tionghoa di Indonesia masih tidak ditampilkan 
dalam buku-buku sejarah sekolah, katanya. “Tidak ada yang bertanya siapa 
pahlawan komunitas itu. Ini menumbuhkan perilaku diskriminatif karena memicu 
ketidaktahuan. Jadi pengetahuan ini harus dapat diakses … intoleransi dapat 
diperangi dengan pengetahuan.”

Azmi mencoba mewujudkan mantra ini dengan mengunggah tentang sejarah orang 
Tionghoa Indonesia di Facebook, tetapi kadang-kadang mendapat komentar seperti, 
“Berapa bayaran yang Anda terima dari komunitas Tionghoa untuk setiap unggahan?”

“Saya tahu orang-orang ini bukan mayoritas di masyarakat tetapi tidak ada yang 
melawan dan memperbaiki pandangan mereka. Saya berjuang, tetapi saya berjuang 
menggunakan informasi. Mereka biasanya kalah … karena saya berbicara fakta, 
mereka berbicara omong kosong dan pendapat.”

Gabriel Matthew, 23 tahun, seorang pemimpin tur freelance beretnis Tionghoa 
yang tinggal di Tangerang Selatan, tempat Azmi mencalonkan diri, mengatakan 
Azmi itu unik. Menurut Matthew, tidak ada politisi dalam 20 tahun sejak 
kembalinya Indonesia ke demokrasi yang mengatakan mereka ingin mengangkat orang 
Tionghoa dari warga negara kelas dua menjadi warga dengan kelas setara dengan 
warga Indonesia yang lain.

“Jika tokoh-tokoh seperti Azmi dapat diekspos ke publik, saya berharap 
orang-orang seperti dia, yang memiliki ideologi yang sama, agar berani untuk 
tampil ke depan,” kata Gabriel. “Di masa depan, tidak perlu ada diskriminasi 
hanya karena perbedaan ras.”

Keterangan foto utama: Aktivis pro-demokrasi Azmi Abubakar. (Foto: Valerian 
Timothy via South China Morning Post)

Kirim email ke