Ada orang-orang Aceh yang besar jasanya : Markam. Pemimpin perusahaan yang sangat dihormati anak buahnya Sama sekali tidak membedakan asal usul etnis. Banyak dari etnis Tionghoa suka kerja di Markam dan kagum akan Markam. https://id.wikipedia.org/wiki/Teuku_Markam Partai : PERTI https://alfaqirnawafil.wordpress.com/2017/06/16/ketika-ulama-aceh-menyelamatkan-pemerintahan-bung-karno/
Pada tanggal Rab, 3 Apr 2019 pukul 03.05 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > > *Dapatkah Seorang Muslim Hapus Diskriminasi Kristen Tionghoa di Indonesia? > <https://www.matamatapolitik.com/analisis-dapatkah-muslim-hapus-diskriminasi-tionghoa-di-indonesia/>* > > Dapatkah Seorang Muslim Hapus Diskriminasi Kristen Tionghoa di Indonesia? > > www.scmp.com > > Azmi Abubakar adalah seorang Muslim kelahiran Aceh yang mencalonkan diri > dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI)... > > <https://www.matamatapolitik.com/analisis-dapatkah-muslim-hapus-diskriminasi-tionghoa-di-indonesia/> > > > > > Sumberwww.scmp.com > <https://www.scmp.com/week-asia/politics/article/3002921/indonesian-chinese-still-face-discrimination-can-one-muslim-make> > <[email protected]> > Posted on March 25, 2019 > > > *Azmi Abubakar adalah seorang Muslim kelahiran Aceh yang mencalonkan diri > dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mantan aktivis 98 itu mengatakan, > jika terpilih ia ingin memperjuangkan hak-hak minoritas etnis Tionghoa di > Indonesia > <https://www.matamatapolitik.com/tag/etnis-tionghoa-di-indonesia/>. Ia juga > ingin membuat komisi anti-intoleransi, yang akan berdiri independen seperti > KPK.* > > Baca Juga: Prabowo vs Jokowi, Siapa yang Bakal Didukung Etnis Tionghoa? > <https://www.matamatapolitik.com/analisis-pilpres-2019-jokowi-vs-prabowo-siapa-yang-bakal-didukung-warga-keturunan-china/> > > Oleh: Randy Mulyanto (South China Morning Post) > > Azmi Abubakar adalah seorang Muslim yang lahir di Aceh, provinsi paling > barat Indonesia―satu-satunya provinsi yang memberlakukan hukum Islam atau > syariah. > > Tetapi untuk menuju ke pemilu yang akan diselenggarakan 17 April nanti, > Azmi, 47 tahun, telah bergabung dengan sebuah partai yang memiliki > pandangan progresif dan komitmen untuk memperjuangkan hak-hak agama dan > etnis minoritas. > > > Keanggotaan Azmi di Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tidak mengejutkan > mengingat latar belakangnya. Dia adalah seorang aktivis mahasiswa yang > melakukan unjuk rasa saat kejatuhan Suharto pada tahun 1998, ketika > kerusuhan anti-Tionghoa yang mematikan berkecamuk di seluruh negeri. > > Pada tahun 2012, pengusaha real estat tersebut mendirikan Museum Pustaka > Peranakan Tionghoa di kota Tangerang Selatan, yang menampung lebih dari > 30.000 buku dan dokumen yang diproduksi atau pernah dimiliki oleh anggota > komunitas Tionghoa Indonesia. Tidak ada angka resmi yang pasti, tetapi > etnis Tionghoa diperkirakan terdiri dari sekitar 2 persen dari lebih dari > 260 juta populasi Indonesia. > > Azmi akan menjadi salah satu dari 574 kandidat PSI, persentase kecil dari > 7.968 kandidat legislatif dari 20 partai politik Indonesia yang bersaing > untuk 575 kursi. PSI mengatakan sekitar setengah dari kandidatnya memiliki > setidaknya gelar sarjana, dan telah memegang peran senior dalam diplomasi, > penegakan hukum dan media. Usia mereka berkisar antara 20 hingga 74 tahun.. > Anggota partai termasuk analis bisnis terkenal Christianto Wibisono dan > aktivis lingkungan Silverius Oscar Unggul. > > “Saya mencalonkan diri sebagai anggota parlemen, bukan hanya sebagai orang > Aceh. Saya menyoroti masalah nasional yang seharusnya menjadi masalah semua > orang,” kata Azmi, seraya menambahkan bahwa agenda PSI adalah untuk > mengakhiri intoleransi di Indonesia. Ini akan, katanya, menggarisbawahi > bahwa etnis Tionghoa memiliki tempat yang layak dalam masyarakat Indonesia. > > Meningkatnya intoleransi telah merusak politik dan masyarakat Indonesia > dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, telah ada perkembangan dalam > undang-undang yang mendiskriminasi perempuan dan minoritas yang > diberlakukan oleh pemerintah daerah dengan latar belakang konservatisme > Islam yang berkembang. > > Tahun lalu, Lembaga Survei Indonesia menemukan peningkatan laporan umat > Islam yang menyatakan ketidaknyamanannya dengan non-Muslim yang membangun > fasilitas keagamaan atau melakukan ritual keagamaan dibandingkan dengan > tahun sebelumnya. > > Pada tahun 2016, tekanan publik dari kelompok garis keras menyebabkan > jatuhnya gubernur keturunan Tionghoa, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, > setelah beredarnya cuplikan video di mana ia dilaporkan mengatakan kepada > para pemilih untuk tidak tertipu oleh sebuah ayat dalam Alquran yang > mengatakan umat Islam tidak boleh memilih pemimpin non-Muslim. Setelah > berbagai kontroversi, Ahok akhirnya dipenjara selama dua tahun dan > dibebaskan tahun ini. > > PSI didirikan lima tahun lalu setelah Presiden Joko “Jokowi” Widodo > terpilih dan Ahok, rekan dekatnya, mengambil alih sebagai gubernur Jakarta. > Partai ini dipimpin oleh mantan jurnalis televisi Grace Natalie, 36 tahun, > seorang advokat yang vokal mengenai kebebasan beragama. PSI telah mendukung > upaya Jokowi untuk dipilih kembali saat Pilpres 2019 April nanti. > > Pada bulan November, setelah Grace Natalie bersumpah bahwa partainya tidak > akan mendukung undang-undang yang diskriminatif berdasarkan “Alkitab atau > syariah”, seorang politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang mendukung > calon presiden Prabowo Subianto melaporkannya ke polisi, mengklaim sikapnya > terhadap syariah bertentangan dengan Alquran dan mengarah ke penistaan > agama. > > Analis politik Arif Susanto mengatakan gagasan-gagasan PSI menarik bagi > pemilih muda, yang dianggap “kreatif, percaya diri, dan terhubung”. > [image: Islamofobia] > > Pemimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, berfoto di > kantornya di markas besar PSI di Jakarta, Indonesia, 19 Maret 2018. (Foto: > Reuters/Darren Whiteside) > > “Orang-orang ini tumbuh dalam lingkungan yang lebih liberal sehingga > egalitarianisme dan masalah etika lebih penting bagi mereka daripada bagi > generasi yang lebih tua,” kata Arif, dari perusahaan riset Exposit > Strategic. > > Tapi PSI menghadapi perjuangan berat untuk mendapatkan suara, karena > berbagai alasan. > > Arif mengatakan preferensi politik dari lebih dari 192 juta pemilih yang > memenuhi syarat untuk memilih cenderung konservatif, sementara kaum muda > perkotaan cenderung lebih skeptis tentang institusi publik dan kegiatan > politik. > > Sudah ada wacana bahwa pemilih milenial, yang membentuk hampir setengah > dari pemilih, mungkin tidak peduli dengan pemilu. Pemilu sebelumnya > menunjukkan pemilih muda lebih cenderung untuk golput, dan survei tahun > 2017 oleh Pusat Kajian Strategis dan Internasional yang berbasis di Jakarta > menunjukkan bahwa hanya seperempat dari 1.400 responden milenial memiliki > minat pada berita atau masalah politik. > > Baca Juga: Laga Pilpres 2019: Prabowo Dekati Etnis Tionghoa, Jokowi > Manfaatkan Kebencian pada Prabowo > <https://www.matamatapolitik.com/laga-pilpres-2019-prabowo-dekati-etnis-tionghoa-jokowi-manfaatkan-kebencian-pada-prabowo/> > > Arif mengatakan PSI tidak memiliki afiliasi kuat dengan organisasi massa, > tidak seperti partai-partai yang lebih mapan seperti Partai Kebangkitan > Bangsa (PKB), yang keanggotaannya tumpang tindih dengan Nahdlatul Ulama, > organisasi Muslim terbesar di Indonesia. > > “PSI tampaknya berusaha mengatasi tantangan ini dengan strategi “efek ekor > jas” dari dukungan mereka terhadap Jokowi. Selain itu, dengan merekrut > tokoh-tokoh populer, mereka mengharapkan dukungan luas dari > kelompok-kelompok pemuda,” kata Arif. > > Wasisto Raharjo Jati, seorang peneliti di Pusat Studi Politik di Institut > Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan PSI kemungkinan tidak akan > memenangkan lebih dari 1 persen suara nasional, menurut survei nasional. > > Ambang batas parlemen Indonesia adalah 4 persen―sebuah partai harus > mendapatkan setidaknya 4 persen dari suara rakyat untuk setiap kandidat > yang menang untuk masuk ke parlemen. > [image: Menjual Moralitas, Strategi bagi Kelompok Garis Keras] > > Kelompok Muslim garis keras berkumpul untuk melakukan protes terhadap > Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama pada bulan Oktober. > (Foto: REUTERS/Darren Whiteside) > > PSI berencana untuk memanfaatkan segmen pemilih muda profesional dan > mahasiswa, kata Wasisto, tetapi masalah sebenarnya adalah apakah partai itu > dapat mengubah pola pikir masyarakat. > > “Bisakah PSI menurunkan tingkat intoleransi di kalangan anak muda? Karena > ketika saya membaca berbagai hasil penelitian, tingkat intoleransi di > kalangan anak muda tinggi. Jadi ternyata jika mereka lebih mapan (dalam > hidup atau dalam karir mereka), semakin tidak toleran mereka,” katanya. “Di > sini saya melihat semacam diskontinuitas antara klaim partai dan realitas > demografi.” > > Nilai PSI, kata Wasisto, adalah vokal dalam mengangkat masalah yang tidak > berani disentuh oleh partai politik baru lainnya. “PSI juga mengganggu zona > kenyamanan partai yang lebih tua.” > > Baca Juga: Hapus Prasangka Anti-China di RI, Museum Ini Tunjukkan Peran > Tionghoa > <https://www.matamatapolitik.com/hapus-prasangka-anti-china-di-indonesia-museum-ini-tunjukkan-peran-tionghoa-dalam-sejarah/> > > Azmi mengakui bahwa “perlawanan terhadap intoleransi” dan bahkan membasmi > diskriminasi adalah penjualan yang sulit, dan dia mungkin akan ditolak di > tempat pemungutan suara. Dia akan menjadi salah satu dari 22 perwakilan > provinsi Banten di parlemen nasional, dan harus merayu lebih dari 4,2 juta > pemilih yang memenuhi syarat di tiga kabupaten dengan campuran etnis dari > Tionghoa dan kelompok etnis lainnya, termasuk Jawa dan Betawi. > > Tetapi seseorang, kata Azmi, harus mulai membongkar gagasan-gagasan yang > telah menyebar melalui “*hoax*“, seperti gagasan bahwa etnis Tionghoa > telah menyebabkan “kesenjangan ekonomi” dan “kesenjangan sosial” di > Indonesia. > > “Istilah-istilah ini adalah warisan dari rezim (Suharto) yang melekat > dalam bahasa sehari-hari hingga saat ini,” katanya, merujuk pada bagaimana > orang-orang Tionghoa dilarang mempraktikkan agama dan tradisi mereka di > bawah rezim Suharto karena adanya keyakinan bahwa hal itu akan menghambat > asimilasi mereka ke dalam masyarakat Indonesia. Instruksi presiden Suharto > tersebut dicabut oleh penggantinya, almarhum Abdurrahman Wahid (Gusdur). > > Massa yang marah membakar mobil dan toko-toko milik orang Tionghoa saat > mereka menjarah toko-toko di Jakarta selama kerusuhan 1998.. (Foto: AFP) > > Jika terpilih, Azmi akan mengajukan pembentukan komisi anti-intoleransi, > mirip dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). > > Pahlawan dari komunitas etnis Tionghoa di Indonesia > <https://www.matamatapolitik.com/opini-bangkitnya-kembali-politik-identitas-terhadap-etnis-tionghoa-di-indonesia/> > masih > tidak ditampilkan dalam buku-buku sejarah sekolah, katanya. “Tidak ada yang > bertanya siapa pahlawan komunitas itu. Ini menumbuhkan perilaku > diskriminatif karena memicu ketidaktahuan. Jadi pengetahuan ini harus dapat > diakses … intoleransi dapat diperangi dengan pengetahuan.” > > Azmi mencoba mewujudkan mantra ini dengan mengunggah tentang sejarah orang > Tionghoa Indonesia di Facebook, tetapi kadang-kadang mendapat komentar > seperti, “Berapa bayaran yang Anda terima dari komunitas Tionghoa untuk > setiap unggahan?” > > “Saya tahu orang-orang ini bukan mayoritas di masyarakat tetapi tidak ada > yang melawan dan memperbaiki pandangan mereka. Saya berjuang, tetapi saya > berjuang menggunakan informasi. Mereka biasanya kalah … karena saya > berbicara fakta, mereka berbicara omong kosong dan pendapat.” > > Gabriel Matthew, 23 tahun, seorang pemimpin tur *freelance *beretnis > Tionghoa yang tinggal di Tangerang Selatan, tempat Azmi mencalonkan diri, > mengatakan Azmi itu unik. Menurut Matthew, tidak ada politisi dalam 20 > tahun sejak kembalinya Indonesia ke demokrasi yang mengatakan mereka ingin > mengangkat orang Tionghoa dari warga negara kelas dua menjadi warga dengan > kelas setara dengan warga Indonesia yang lain. > > “Jika tokoh-tokoh seperti Azmi dapat diekspos ke publik, saya berharap > orang-orang seperti dia, yang memiliki ideologi yang sama, agar berani > untuk tampil ke depan,” kata Gabriel. “Di masa depan, tidak perlu ada > diskriminasi hanya karena perbedaan ras.” > > *Keterangan foto utama: Aktivis pro-demokrasi Azmi Abubakar. (Foto: > Valerian Timothy via South China Morning Post)* > > >
