Sudah tahu pilihan jelek kok dipilih?
Dgn presidential threshold saya kira Jokowi cs memang sengaja berhadapan dgn 
Prabowo yg punya beban HAM masa lalu, menghadapi orang lain selain Prabowo 
tidak merasa yakin bisa menang.


    On Tuesday, April 2, 2019, 4:51:23 PM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
 
  
Ini orang TIDAK melihat adanya perbedaan situasi politik saat pemilu 1997 dan 
pemilu 2019! Dimasa ORBA Soehato berkuasa pemilu hanya dijadikan sarana resmi 
memenangkan GOLKAR dan tetap dirinya berkuasa, ... sebelum pemilu 
diloangsungkan pun sudah bisa DIPASTIKAN Soeharto yg menang! Dalam situasi 
politik begitu, GOLPUT atau tidak, ikut atau tidak memilih hasilnya sama saja, 
Soeharto yang PASTI menang! 
 
 
Sedang setelah Soeharto lengser dan memasuki era reformasi sejak 1999, pemilu 
dengan segala kekurangan yang masih ada, dengan segala kecurangan-kecurangan 
yang terjadi, ... masih ada kemungkinan merubah siapa yang menang. Jadi, 
kemungkinan betapapun masih kecil itu harus diperebutkan, jangan dilewatkan. 
Disinilah rasa tanggungjawab setiap WARGA yang harus ditegakkan dalam 
memperjuangkan perubahan perbaikan NASIB rakyat banyak! JANGAN GOLPUT,... 
berikan suara yg sangat berharga itu pada capres yang dianggap lebih baik dari 
2 pilihan yang jelek itu! Dengan GOLPUT tidak merubah keadaan, sebaliknya 
keadaan akan menjadi lebih jelek kalau yang terjelek berhasil berkuasa di 5 
tahun kedepan!
 
 

 
 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 3/4/2019 1:59 寫道:
  
 
      
  "Berdasarkan jejak digital, Megawati juga pernah menyerukan dan 
mendeklarasikan dirinya golput dalam Pemilu 1997. Menjadi aneh apabila sekarang 
ini justru menanggapi golput dianggap tidak mempunyai harga diri dan 
berkomentar jangan menjadi warga negara Indonesia," kata Suhendra kepada 
MerahPutih.com, Senin (4/1).
  ... "Golput itu tindakan seorang pengecut yang tidak punya pendirian dan 
harga diri. Jangan jadi WNI kalau pilihannya golput," kata  Megawati, saat 
berorasi dihadapan 11.200 kader PDIP Soloraya dalam kampanye rapat umum bertema 
'Merahkan Soloraya' di GOR Pandawa,  Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (31/3)
  ...    
BPN Temukan Jejak Digital Megawati Pernah Serukan Golput
  Angga Yudha Pratama | Apr 02 2019, 08:17   Ketua Dewan Pengarah Badan 
Ideologi Pancasila (BPIP), Megawati Soekarnoputri saat tiba di Mabes Polri 
(istimewa)  
Merahputih.com - Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, buka suara 
menanggapi pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri terkait 
Golput atau tak menggunakan hak pilih dalam  pemilu.
 
Saar kampanye rapat umum bertema 'Merahkan Soloraya' di GOR Pandawa, Sukoharjo, 
Jawa Tengah, Minggu  (31/3), Megawati menyebut orang yang memilih Golput tak 
boleh menjadi warga negara Indonesia..
  
Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Suhendra Ratu Prawiranegara mengungkapkan 
Megawati pernah menyerukan golput pada Pelmilu 1997.
 
"Berdasarkan jejak digital, Megawati juga pernah menyerukan dan mendeklarasikan 
dirinya golput dalam  Pemilu 1997. Menjadi aneh apabila sekarang ini justru 
menanggapi golput dianggap tidak mempunyai harga diri dan berkomentar jangan 
menjadi warga negara Indonesia," kata Suhendra kepada  MerahPutih.com, Senin 
(4/1).
 
Suhendra menyebut fenomena golput kerap terjadi dalam setiap pemilu di 
Indonesia dengan  kisaran angka 20-30 persen. Angka itu, menurut dia, akan 
semakin besar jika Pilkada, Pileg dan Pilpres tidak  berjalan demokratis dan 
mengecewakan.
 
"Artinya jika mereka kecewa dengan pemerintahan hasil dari pemilu, salah satu 
cara mengoreksinya  adalah dengan cara mengevaluasi kembali hak politik mereka 
dalam pemilu," ungkap dia.
  
Apalagi, kata Suhendra, sikap golput juga dijamin oleh konstitusi, merujuk pada 
pasal 28 UUD  dan pasal 23 UU Tentang HAM.
 
Pasal 23 UU HAM tersebut berbunyi ; “Setiap orang bebas untuk memilih dan 
mempunyai keyakinan  politiknya; (2) Setiap orang bebas untuk mempunyai, 
mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan 
dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik dengan memperhatikan 
nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan 
bangsa."
 
"Dalam pasal tersebut sangat jelas menghargai hak-hak politik seorang warga 
negara untuk memilih dan  menggunakan keyakinan politiknya," imbuh Suhendra.
 Megawati Soekarnoputri. (ANTARA/Rivan Awal Lingga) 
Menurut Suhendra yang juga anggota Tim Pakar BPN Prabowo Sandi ini, hak dan 
keyakinan politik itu yang  harus dihargai oleh negara terhadap warga 
negaranya. "Jadi sangat tidak tepat jika ada pihak-pihak dari kubu petahana 
yang ingin memberlakukan UU tertentu untuk mengancam hak politik  seseorang 
warga negara, termasuk juga Golput," pungkasnya.
 
Sebelumnya, Megawati Soekarnoputri menilai orang yang memilih Golput sebagai 
pengecut saat meminta  semua warga negera Indonesia agar menggunakan hak 
pilihnya pada tanggal 17 April mendatang. Bahkan, mereka yang memilih Golput 
itu dianggap tidak layak menjadi WNI.
  
"Golput itu tindakan seorang pengecut yang tidak punya pendirian dan harga 
diri. Jangan jadi  WNI kalau pilihannya golput," kata Megawati, saat berorasi 
dihadapan 11.200 kader PDIP Soloraya dalam kampanye rapat umum bertema 
'Merahkan Soloraya' di GOR Pandawa, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu  (31/3)
 
Presiden RI ke-5 ini meminta pada kader PDIP untuk bejuang mengajak emak-enak, 
anak, dan keluarga  datang ke TPS. Sebagai warga negara Indonesia yang telah 
mendapatkan haknya seharusnya mengunakan hak pilihnya..
 
"Kalau kader PDIP jelas sudah punya pilihan. Ini tugas kita bersama menjaga 
demokrasi jangan  sampai dirusak golput," tutup ketum partai pengusung pasangan 
nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin itu. (Pon)
 
  
  
  
     
 
|  | 不含病毒。www.avg.com  |

   

Kirim email ke