http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1488-indonesia-maju
/*Indonesia Maju*/
Penulis: *Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group* Pada: Sabtu, 06 Apr
2019, 05:10 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1488-indonesia-maju>
<http://twitter.com/home/?status=Indonesia Maju
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1488-indonesia-maju via
@mediaindonesia>
Indonesia Maju
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/04/d629b39d8ae43600156d58c55fcf0a72.jpg>
/MI/
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
NGOBROL-NGOBROL dengan dua pengusaha Korea Selatan yang sudah lebih 20
tahun berbisnis di Indonesia memberikan banyak wawasan. Satu bergerak di
bidang ekspedisi, satu lagi fokus di industri manufaktur.
Keduanya memberikan acungan jempol kepada perbaikan pelayanan di bea dan
cukai serta pajak. Sistem yang diterapkan jauh berbeda dengan 10 tahun
lalu. Sekarang ini mereka melihat semua lebih transparan. Sepanjang
dokumen barang jelas dan rekam jejak pengusahanya pun baik, maka
keluar-masuk barang bisa berjalan cepat.
Demikian pula dengan laporan dan sistem pembayaran pajak. Dengan sistem
e-filing, mereka bisa bekerja lebih cepat dan efisien. Tidak perlu
seperti dulu untuk mengantar surat pemberitahuan pajak terlapor saja
harus mengantre lama. Pembayaran pun tidak harus ke kantor pajak, tetapi
bisa melalui bank.
Apa lalu harapan mereka? Ternyata mereka berharap adanya konsistensi.
Sistem yang sudah baik ini bisa terus dipertahankan dan ditingkatkan
pelayanannya.
Mereka berharap juga agar iklim investasi di Indonesia terus diperbaiki.
Para pejabat investasi bisa melihat kelebihan dan kekurangan Indonesia
jika dibandingkan dengan negara pesaing, seperti Tiongkok, Vietnam,
India, dan Pakistan. Indonesia harus lebih baik dalam segalanya apabila
ingin mendapatkan investasi yang lebih besar.
Sejauh ini mereka melihat kekurangan di Indonesia ialah tidak adanya
pejabat yang berani memberikan kepastian. Mereka menceritakan pengalaman
teman pengusahanya dari Korea yang hendak menanamkan modalnya di
Indonesia. Calon investor itu sengaja berkendaraan dari Jakarta hingga
Surabaya melewati jalan-jalan biasa agar lebih mengenal Indonesia.
Pengusaha itu terkagum-kagum dengan keramahtamahan orang-orang
Indonesia. Setiap kali ia berhenti di satu desa dan menginap di sana, ia
mendapatkan pelayanan yang menyenangkan.
Namun, ketika sudah kembali ke Korea, pengusaha itu mengatakan, ia
memilih menanamkan modalnya di Vietnam. Mengapa? Karena ia tidak bisa
mendapatkan penjelasan yang memuaskan ketika bertemu pejabat yang
mengurusi investasi di Jakarta. Setiap kali ia harus bertemu dengan
orang yang berbeda dan orang yang baru itu tidak tahu pembicara yang
sudah dilakukan dengan pejabat sebelumnya.
Mereka sangat berharap lebih banyak pengusaha Korea mau berbisnis di
Indonesia. Masalahnya sekarang ini jumlahnya terus menurun dari
sebelumnya 45 ribu menjadi hanya sekitar 35 ribu. Sementara itu, jumlah
pengusaha Korea yang menanamkan modalnya di Vietnam sekarang sudah
mencapai 100 ribu.
Keduanya melihat Indonesia sebenarnya jauh lebih prospektif jika
dibandingkan dengan Tiongkok maupun Vietnam. Sistem demokrasi yang
diterapkan di Indonesia lebih memberikan jaminan kepada pengusaha asing.
Potensi terjadinya pengambilalihan perusahaan oleh negara jauh lebih
rendah di Indonesia.
Sekarang yang perlu dilakukan ialah bagaimana memperbaiki terus
kehidupan masyarakat. Mereka mengharapkan pemerintah memikirkan
bagaimana membuat para pekerja bisa lebih tenang dan mampu merencanakan
masa depan. Salah satunya ialah bagaimana para pekerja bisa menyisihkan
gaji yang diterimanya untuk menjadi tabungan.
Mereka mencontohkan perusahaan masing-masing yang selalu menaikkan gaji
karyawannya 10% setiap tahun. Akan tetapi, ketika ditanya kepada
karyawan, apakah mereka puas dengan kenaikan itu, selalu jawabannya
tidak. Mengapa? Karena kenaikan itu tidak sebanding dengan kenaikan
biaya hidup sehari-hari.
Salah satu yang harus bisa dilakukan pemerintah ialah bagaimana membuat
harga-harga kebutuhan pokok tidak naik. Pengalaman mereka di Korea,
pemerintah mengendalikan betul kenaikan harga kebutuhan pokok
masyarakat. Setiap kenaikan di pasar harus mendapatkan persetujuan
pemerintah.
Pengendalian harga kebutuhan pokok tidak cukup dilakukan dengan
menetapkan harga eceran tertinggi. Pemerintah harus memiliki badan yang
bisa menjadi operator untuk mendistribusikan kebutuhan pokok masyarakat
agar harganya tidak hanya dikendalikan sistem pasar.
Mereka melihat Indonesia mempunyai potensi untuk maju. Indonesia pasti
bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Sekarang yang harus
dipikirkan bagaimana semakin banyak investasi yang masuk agar semakin
banyak orang bisa bekerja. Setelah itu bagaimana membuat para pekerja
bisa merencanakan masa depannya dengan lebih baik agar tercipta
ketenangan bekerja.