https://www.antaranews.com/berita/823491/indonesia-rumahan-hilangkan-niat-bekerja-sebagai-pekerja-migran
Indonesia Rumahan hilangkan
niat bekerja sebagai pekerja
migran
Rabu, 10 April 2019 00:15 WIB
Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bidang
Komunikasi Pembangunan Ratna Susianawati saat diwawancarai wartawan di
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Selasa (9/4/2019). (ANTARA/Dewanto Samodro)
Rembang (ANTARA) - Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak Bidang Komunikasi Pembangunan Ratna Susianawati
mengatakan program Industri Rumahan dapat mencegah niat perempuan untuk
bekerja sebagai pekerja migran ke luar negeri.
"Menambah pendapatan keluarga tidak harus dengan pergi ke luar negeri.
Banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan potensi yang ada di
daerah," kata Ratna saat mendampingi delegasi Republik Islam Iran
mengunjungi model Industri Rumahan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah,
Selasa.
Ratna mengatakan semangat yang diusung dalam program Industri Rumahan
adalah pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pengembangan potensi
daerah yang tidak hanya memberikan sumbangsih kepada pelaku dan keluarga
tetapi juga masyarakat bahkan daerah.
Bupati Rembang Abdul Hafidz Industri Rumahan di wilayahnya terus
dikembangkan agar mampu menggerakkan roda perekonomian dan mencegah
perempuan untuk bekerja menjadi pekerja migran di luar negeri.
"Industri Rumahan terus dikembangkan bukan hanya sekadar untuk skala
rumah tangga saja," ujarnya.
Hafidz mengatakan program Industri Rumahan di Kabupaten Rembang
dikembangkan di dua desa sebagai percontohan, yaitu Desa Tritunggal dan
Desa Pasarbanggi.
Bupati Rembang Abdul Hafidz dan Penasihat Senior Wakil Presiden bidang
Perempuan dan Keluarga Republik Islam Iran Zahra Java saat berbagi
praktis terbaik dalam program Industri Rumahan di Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah, Selasa (9/4/2019). (ANTARA/Dewanto Samodro)
Warga Desa Pasarbanggi Eko Purwati yang merupakan salah satu peserta
program Industri Rumahan mengatakan pada 2016 sempat mendaftarkan diri
untuk menjadi pekerja migran karena biasanya dia hanya menanti hasil
kerja suaminya saja.
"Namun, ibu saya melarang sampai menangis. Akhirnya saya batalkan
meskipun masih memiliki angan-angan untuk berangkat bekerja di luar
negeri," katanya.
Setelah mengikuti program Industri Rumahan, Eko berhasil mengembangkan
jualannya dari lontong pecel dan gorengan ditambah dengan rengginang
teri khas Rembang.
"Saat ini niat bekerja di luar negeri sudah hilang. Saya ingin fokus
mengembangkan industri rumahan," tuturnya.
Sementara itu, Penasihat Senior Wakil Presiden bidang Perempuan dan
Keluarga Republik Islam Iran Zahra Java mengatakan kunjungannya ke
Indonesia, khususnya Kabupaten Rembang karena sudah ada nota kesepahaman
dengan pemerintah Indonesia sebelumnya.
Berdasarkan nota kesepahaman tersebut, kedua negara sepakat untuk saling
bertukar informasi dan pengalaman di bidang pemberdayaan perempuan,
ketahanan keluarga dan perlindungan anak.
"Kami berkomitmen untuk melaksanakan kesepakatan tersebut sehingga
datang ke Indonesia. Kami juga akan mengundang delegasi Indonesia ke
Iran untuk berbagi pengalaman," katanya.
*Baca juga: Program Industri Rumahan sudah menjangkau 3.000 perempuan
<https://www.antaranews.com/berita/821852/program-industri-rumahan-sudah-menjangkau-3000-perempuan>
Baca juga: Delegasi Iran akan kunjungi industri rumahan di Rembang
<https://www.antaranews.com/berita/821788/delegasi-iran-akan-kunjungi-industri-rumahan-di-rembang>
Baca juga: Indonesia selenggarakan pelatihan perempuan sebagai agen
perdamaian
<https://www.antaranews.com/berita/820637/indonesia-selenggarakan-pelatihan-perempuan-sebagai-agen-perdamaian>*
Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019