Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Debat capres dan penurunan angka golput
Oleh Arief Mujayatno Minggu, 14 April 2019 09:29 WIB
Debat capres dan penurunan angka golput
Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (tengah) dan Ma'ruf
Amin (kiri) berjabat tangan dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto
seusai mengikuti debat kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu
(13/4/2019). Debat kelima tersebut mengangkat tema Ekonomi dan
Kesejahteraan Sosial, Keuangan dan Investasi serta Perdagangan dan
Industri. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/pras. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)
Jakarta (ANTARA) -Debat kelima pasangan calon presiden dan wakil
presiden pada Sabtu (13/4) malam mengakhiri rangkaian debat Pilpres
2019. Tema debat terakhir, yang menampilkan kedua pasangan calon, yakni
nomor urut 01 Joko Widodo dengan Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 pasangan
Prabowo Subianto dengan Sandiaga Salahuddin Uno itu, adalah ekonomi dan
kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi serta perdagangan dan industri.
Empat rangkaian debat sebelumnya adalah, debat pertama pada 17 Januari
2019 dengan tema mengangkat tema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.
Debat kedua berlangsung pada 17 Februari 2019 dengan tema energi dan
pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan infrastuktur.
Debat ketiga dilaksanakan pada 17 Maret 2019 dengan tema pendidikan,
kesehatan, ketenagakerjaan serta sosial dan kebudayaan. Debat keempat
pada 30 Maret 2019 bertema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan
keamanan serta hubungan internasional.
Berakhirnya debat yang disiarkang secara langsung sejumlah stasiun
televisi tersebut sekaligus pula mengakhiri rangkaian kampanye Pilpres
2019 dan mulai Minggu, 14 April hingga Selasa, 16 April memasuki masa
tenang, sebelum dilaksanakannya pencoblosan untuk Pemilu Legislatif dan
Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 pada Rabu, 17 April.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara debat capres dan
cawapres tentu berharap ajang itu mampu mencapai tujuan yang diharapkan,
yakni publik dapat melihat dan mengetahui secara luas mengenai visi dan
misi kedua pasangan capres - cawapres yang akan berkompetisi pada
pemilihan umum mendatang.
Selanjutnya, diharapkan para pemilih yang hingga kini belum memutuskan
pilihannya (undecided voters) untuk dicoblos dan para pemilih yang masih
mungkin berubah pilihannya (swing voters) bisa menjadikan ajang debat
capres - cawapres tersebut sebagai referensi untuk menilai kemudian
dijadikan dasar dalam menentukan pilihannya.
Lalu bagaimana dengan para pemilih yang sejak awal sudah memutuskan
untuk tidak memilih atau golput (golongan putih)? Akan kah mereka bisa
berubah pikiran setelah menyaksikan lima kali ajang debat capres dan
cawapres?
Kedua pasangan capres dan cawapres telah menunjukkan kualitasnya
masing-masing dalam penguasaan isu-isu terkait, walaupun tentu saja
masih ada plus dan minusnya.
Misalnya, capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi dengan Ma’ruf Amin
yang menyampaikan visi misinya dengan cukup agresif sambil menyampaikan
capaian kerjanya selama ini, selaku sosok petahana.
Demikian pula pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto
dengan Sandiaga Salahuddin Uno, juga telah menyampaikan konsep dan
visi-misi serta solusi dari berbagai persoalan bangsa yang akan dihadapi
bersama ke depan, jika mereka terpilih dalam Pilpres 2019.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam sebuah
kesempatan menegaskan bahwa pemerintah terus berupaya memaksimalkan
jumlah pemilih pada Pemilu 2019, dengan mengajak seluruh masyarakat yang
memiliki hak pilih, saling mengajak untuk mencoblos pada 17 April.
Mendagri mengaku optimistis bahwa tingkat golput akan terus berkurang,
meskipun tidak mungkin hilang 100 persen karena golput juga adalah
sebuah pilihan.
Golput memang merupakan fenomena dalam ajang demokrasi yang biasa
terjadi di manapun dengan era pemilihan langsung seperti sekarang ini.
Ada sejumlah hal yang membuat orang memutuskan tidak memilih (golput).
Pertama, karena namanya tidak masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan
karena faktor kesibukan atau bekerja saat hari pencoblosan. Meski oleh
pemerintah sudah dibuka kesempatan untuk mengurusnya agar dapat memilih,
namun kenyataannya banyak yang malas mengurusnya.
Alasan golput lainnya adalah karena menganggap calon-calon yang ada
tidak sesuai dengan ekspektasi yang mereka inginkan, sehingga pemilih
sengaja tidak mau datang ke tempat pemungutan suara (TPS).
Selain itu, ada pula pemilih yang menganggap pemilu tidak penting karena
tidak sejalan atau tidak berdampak langsung dengan tingkat kesejahteraannya.
Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai, jumlah golput pada Pemilu 2019
tidak akan meningkat dibanding pada Pemilu 2014, karena pelaksanaan
Pilpres 2019 digabung dengan pelaksanaan pemilu legislatif secara serentak.
*Menurunkan golput*
Salah satu tujuan dilakukannya debat capres adalah untuk mengurangi
angka golput. Karena itu, kualitas jalannya debat capres menjadi sangat
penting.
Hingga lima kali pelaksanaan debat, penampilan dua pasangan
capres-cawapres, nomor urut 01 JokoWidodo - KH Ma’ruf Amin dan nomor
urut 02 Prabowo - Sandi cukup mendapat perhatian masyarakat luas.
Meskipun pendapatkan perdebatan itu cukup beragam, namun setidaknya visi
misi kedua pasangan calon telah disampaikan kepada publik di seluruh
Tanah Air.
Karena itu, peran media massa dalam menginformasikan berita-berita
pemilu dan pilpres serentak, termasuk debat capres dan cawapres, sangat
penting.
Di samping peran penyelenggara pemilu dan peserta pemilu, peran media
sangat besar untuk menekan angka golput melalui sosialisasi yang
dilakukan medianya. Sejumlah media yang memberitakan tentang antusias
warga yang menyambut gembira pelaksanaan pemilu patut dihargai.
Antusias warga dalam menyambut pemilu masih tergolong sangatbesar,
seperti terlihat di daerah terpencil yang jauh dari keramaian,
penyandang disabilitas, narapidana di sejumlah lembaga pemasyarakatan,
serta para petugas keamanan yang tetap menggunakan hak pilihnya,
meskipun harus bekerja, dan lain-lain.(*)
Oleh Arief Mujayatno
Editor: Masuki M. Astro
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com