Bung Sunny, Anak saya dulu kerja praktek 2 bulan di Universitas Tokio. Jam 9 pagi mulai kerja sampai jam 5 sore. Habis itu semua docent diajak makan, dibayari professornya makan sambil rapat sampai jam 9 malam. Anak saya diajak ikut. Katanya makanannya luar biasa enak. Jadi dapat makan sore gratis yang enak-enak, selama 2 bulan, kecuali Saptu Minggu. Saya tanya mengapa kok jadi langsing. Dia bilang makanannya tidak berlemak, dan dia selalu minum Green Tea. Waktu mau berangkat, dia belajar sendiri bahasa Jepang. Waktu kami datang, saya tanya apa bahasa Jepangnya sudah bagus. Dia tertawa, Jepang apa ? Dia bilang dia sekarang bukan berbahasa Jepang, tetapi Spaans. Saya jadi bingung, lho kok Spaans ? Dia bilang, ya teman2nya orang2 dari Amerika Selatan, keturunan Jepang, tetapi ngomongnys Spaans. Jadi dia ikut2an. Mereka di Amerika Selatan sudah lulus, tetapi belajar lebih lanjut di Jepang. Saya tanya bagaimana bahasa Inggrisnya orang Jepang. Dia bilang, banyak yang malu2, takut tidak berbahasa Inggris dengan baik. Wah, tetapi kalau mereka sudah setengah mabuk, herannya bahasa Inggrisnya kok lancar. Salam, KH
Pada tanggal Jum, 19 Apr 2019 pukul 12.42 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > Bung Djie, > > Ini warga yang berbakti untuk negara neo-Mojopahit, jadi tidak ada aturan > buruh maupu UU perburuhan dan mereka pekerja sukarela tanpa gaji. Jadi > mereka yang mati karena bekerja untuk pemilu harus dijadikan Pahlawan NKRI. > > Berbeda dengan di Jepang. Disana ada istilah "karoshi", orang yang mati > di tempat bekerja selagi bekerja. > > Salam. > > > > > >
