------------------------------------------------------------------------
Gesendet mit der Telekom Mail App
<https://kommunikationsdienste.t-online.de/redirects/email_app_android_sendmail_footer>


--- Original-Nachricht ---
Von: arif harsana
Betreff: WG: [Pos baru] Pilpres 2019, Konsolidasi, dan Rekonfigurasi Kelas 
Kapitalis
Datum: 20.04.2019, 2:15 Uhr
An: [email protected]




Gesendet von Yahoo Mail auf Android
<https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>



   ----- Weitergeleitete Nachricht -----
   Von: "Islam Bergerak" <[email protected]>
   An: "[email protected]" <[email protected]>
   Cc:
   Gesendet: Fr., Apr. 19, 2019 at 20:35
   Betreff: [Pos baru] Pilpres 2019, Konsolidasi, dan Rekonfigurasi Kelas
   Kapitalis
   WordPress.com
   Rizki Amalia Affiat menulis:" Pengantar Pemilihan Presiden di Indonesia
   tahun ini mendapat sorotan luas dari media dan pengamat internasional.
   Financial Times menyebutnya sebagai pemilu satu-hari terbesar di dunia
   yang menggabungkan pemilihan presiden dengan legislatif, korespond"

   Pos baru pada Islam Bergerak <https://islambergerak.com/?author=57>

   Pilpres 2019, Konsolidasi, dan Rekonfigurasi Kelas Kapitalis
   
<http://islambergerak.com/2019/04/pilpres-2019-konsolidasi-dan-rekonfigurasi-kelas-kapitalis/>
   oleh Rizki Amalia Affiat <https://islambergerak.com/?author=57>
    <http://islambergerak.com/wp-content/uploads/2019/04/sexy-killers.png>

    Sumber gambar: Film "Sexy Killers"

   Pengantar
   Pemilihan Presiden di Indonesia tahun ini mendapat sorotan luas dari
   media dan pengamat internasional. Financial Times menyebutnya sebagai 
   pemilu satu-hari terbesar di dunia yang menggabungkan pemilihan presiden
   dengan legislatif
   <https://www.ft.com/content/1c20bcb2-5ee2-11e9-a27a-fdd51850994c> ,
   koresponden The Guardian mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara
   demokrasi ketiga dan mayoritas Muslim terbesar di dunia dengan 193 juta
   pemilih
   
<https://www.theguardian.com/world/2019/apr/17/indonesias-biggest-ever-election-under-way-as-193-million-march-to-polls>
 
   .  Sejak aksi massa akbar 212 di tahun 2016, segala manuver dari kedua
   kubu selama tiga tahun terakhir ini membuat persaingan antara petahana
   Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto semakin mengundang perhatian,
   polarisasi dan keterlibatan masyarakat dalam pilpres. Litbang Kompas
   menyatakan tingkat partisipasi pemilih di 2019 naik sebesar 80,90
   persen, dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 70 persen
   
<https://www.kompas.tv/article/45563/litbang-kompas-meningkat-dari-2014-tingkat-partisipasi-pemilu-2019-sebesar-80-90>
 
   . Dari sisi demokrasi prosedural, ini merupakan bentuk antusiasme rakyat
   yang memuncak setelah pergulatan panjang soal nasib negara dari berbagai
   perdebatan sengit terutama soal isu politik identitas, dan kesejahteraan
   ekonomi.

   Setelah kotak suara terisi, selanjutnya adalah membuka kotak pandora.
   Ini tentu jauh lebih kompleks dan ruwet.

   Namun, apakah pesta elektoral ini cukup untuk menyatakan demokrasi kita
   telah membaik? Apakah keberhasilan memobilisasi massa dengan sentimen
   identitas beserta segala reaksinya terbukti ampuh membuat masyarakat
   ‘melek’ politik dan ‘aktif’ berpartisipasi?

   Dua hari sebelum Pilpres 2019 dilaksanakan, sekelompok santri progresif
   mengadakan diskusi dan rilis pers bertajuk ‘Suara Santri untuk Politik
   Alternatif’. Isinya adalah pernyataan sikap mereka untuk golput alias
   tidak memilih dalam pesta demokrasi elektoral.
   
<https://public-api.wordpress.com/bar/?stat=groovemails-events&bin=wpcom_email_click&redirect_to=https%3A%2F%2Fdaulathijau.wordpress.com%2F2019%2F04%2F16%2Fsuara-santri-untuk-politik-alternatif-kaum-santri-menyikapi-pemilu-2019%2F&sr=1&signature=a302b111f08196c889e22085c1c1d987&user=d2b96503f43eb12ec9647660aee4d68a&_e=eyJlcnJvciI6bnVsbCwiYmxvZ19pZCI6NjgyODI2NzksImJsb2dfbGFuZyI6ImlkLUlEIiwic2l0ZV9pZF9sYWJlbCI6ImpldHBhY2siLCJlbWFpbF9uYW1lIjoiZW1haWxfc3Vic2NyaXB0aW9uIiwiX3V0IjoiYW5vbiIsIl91aSI6ImQyYjk2NTAzZjQzZWIxMmVjOTY0NzY2MGFlZTRkNjhhIiwiZW1haWxfaWQiOiI1ZmE4MzNiZDAxMWVkZDFiODdkYTRlZDZmZWIyODJjZCIsImRhdGVfc2VudCI6IjIwMTktMDQtMTkiLCJkb21haW4iOiJpc2xhbWJlcmdlcmFrLmNvbSIsImZyZXF1ZW5jeSI6IjAiLCJkaWdlc3QiOiIwIiwiaGFzX2h0bWwiOiIxIiwibG9jYWxlIjoiaWQiLCJhbmNob3JfdGV4dCI6ImdvbHB1dCBhbGlhcyB0aWRhayBtZW1pbGloIGRhbGFtIHBlc3RhIGRlbW9rcmFzaSBlbGVrdG9yYWwuIiwiX2RyIjpudWxsLCJfZGwiOiJcL3htbHJwYy5waHA/c3luYz0xJmNvZGVjPWRlZmxhdGUtanNvbi1hcnJheSZ0aW1lc3RhbXA9MTU1NTY5OTE5OS45NyZxdWV1ZT1zeW5jJmhvbWU9aHR0cHMlM0ElMkYlMkZpc2xhbWJlcmdlcmFrLmNvbSZzaXRldXJsPWh0dHBzJTNBJTJGJTJGaXNsYW1iZXJnZXJhay5jb20mY2Q9MC4wMDI4JnBkPTAuMDA3OSZpZGM9MSZ0aW1lb3V0PTE1JmZvcj1qZXRwYWNrJndwY29tX2Jsb2dfaWQ9NjgyODI2NzkiLCJfZW4iOiJ3cGNvbV9lbWFpbF9jbGljayIsIl90cyI6MTU1NTY5ODk1MjgzMywiYnJvd3Nlcl90eXBlIjoicGhwLWFnZW50IiwiX2F1YSI6IndwY29tLXRyYWNrcy1jbGllbnQtdjAuMyIsIl91bCI6bnVsbCwiYmxvZ190eiI6IjAiLCJ1c2VyX2xhbmciOm51bGx9&_z=z>
 
   Alasannya tegas: Pemilu tahun ini merupakan ajang kekuatan kapitalis
   oligarkis yang bermain dalam konsesi izin tambang, perkebunan,
   kehutanan, dan infrastruktur untuk kepentingan elektoral mereka. Sambil
   memanfaatkan suara massa – termasuk santri - penderitaan rakyat diangkat
   sebagai janji-janji perbaikan hidup sembari seiring waktu memeras
   keringat dan ruang hidup rakyat di bawah logika neoliberalisme.

   Tentu, banyak dari kita memiliki berbagai pandangan tentang faedah (atau
   tidak faedah) menyoblos dalam pemilu 2019. Ada yang memang yakin bahwa
   pilihan mereka adalah yang terbaik diantara yang tersedia, dan dengan
   senang hati memilih karena merasa mempraktikkan statusnya sebagai
   warganegara. Ada yang memilih berdasarkan argumen lesser of two evils 
   (memilih yang paling baik diantara yang buruk). Bagi yang tidak memilih,
   beragam juga alasannya. Perdebatan soal demokrasi elektoral yang kopong
   dan ratapan atas pesta menyoblos tiap lima tahun sekali yang sekadar
   seremonial sudah banyak disuarakan dan dibahas dengan baik oleh berbagai
   tulisan.

   Pertanyaan yang lebih krusial untuk diajukan adalah, setelah pilpres
   usai, apa yang terjadi selanjutnya dengan kotak pandora demokrasi di era
   neoliberalisme, yang berisi paradoks, inkonsistensi, dan kontradiksi?
   Pertarungan apa yang berada dibalik kontestasi ini?

   Hal ini urgen untuk dikaji mengingat bahwa politik identitas kental
   mewarnai Pilpres 2019. Meski populisme Islam dianggap dominan sejak
   gerakan 212, respon kritis terhadap fenomena tersebut melalui kaca mata
   politik identitas yang sama beresiko menggeser persoalan sesungguhnya.
   Emilianus Yakob Sese Tolo dalam tulisannya, Pemilu 2019 dan Politik
   Identitas Berbasis Agama Nasrani di NTT
   
<https://islambergerak.com/2019/04/pemilu-2019-dan-politik-identitas-berbasis-agama-nasrani-di-ntt/>
 
   misalnya, melihat efek dan eksploitasi politik identitas agama dalam
   lingkup yang reaksioner. Meski fakta dan temuan yang ia sampaikan
   penting dan menarik untuk disimak, ia tidak menguliti apa yang dimaksud
   dengan ‘politik identitas’, seolah term tersebut sudah absah dengan
   sendirinya tanpa eksplorasi konseptual dan operasional. Tulisannya
   tersebut tidak menyinggung sama sekali aspek-aspek ekonomi politik di
   NTT yang sangat tajam ia tulis dalam artikel Akumulasi Melalui
   Perampasan dan Kemiskinan di Flores (2016) atau soal pilkada borjuis di
   NTT
   
<https://islambergerak.com/2018/06/marianus-sae-dan-pilkada-borjuis-di-nusa-tenggara-timur/>
 
   , misalnya. Ia tidak menjelaskan faktor-faktor apa yang melatarbelakangi
   kemunculan yang ia sebut sebagai ‘politik identitas’ dalam Pemilu 2019
   di NTT dan mengabaikan aspek-aspek penting dari tulisan-tulisannya yang
   lain yang membentuk konstelasi dan ketegangan politik di wilayah
   tersebut.

   Dengan berbagai pertimbangan tersebut, penulis hendak merefleksikan
   Pilpres 2019 ini dengan mencoba menawarkan perspektif tentang
   pertarungan pilpres 2019 dan dinamikanya.

   Populisme
   Pilpres 2019 mencerminkan proses kepentingan sosial dan ekonomi dari
   faksi yang berbeda dan bagaimana pertarungan terjadi di dasar masyarakat
   Indonesia. Kontestasi ini tidak hanya mewakili narasi nasionalisme yang
   diperebutkan dan konflik antara kelas kapitalis baru dan lama, tetapi
   sebagai upaya kelas kapitalis nasional lama yang tersisa dari rezim Orde
   Baru (1966-1998) untuk mendapatkan kembali dan mengatur kembali
   kekuasaan otoriter mereka di bawah neoliberalisme melalui berbagai
   komprominya dengan kelas kapitalis baru di tingkat lokal maupun
   nasional.

   Politik populis adalah istilah yang kontradiktif dan diterapkan dalam
   berbagai cara, karena pemerintah sayap kiri dan kanan dapat
   merangkumnya. Ini merujuk pada praktik mobilisasi yang luas berdasarkan
   aspirasi massa yang tertindas atau terabaikan. Populisme otoriter dapat
   dipahami sebagai gerakan dengan narasi yang kuat untuk mengambil kembali
   kendali 'rakyat' dengan menarik batas antara orang dalam dan orang luar
   - seringkali dengan nada rasis - dan menjaga nasionalisme, dengan
   merujuk pada berbagai hubungan politik dan ideologis antara kelas yang
   berkuasa dan negara (Ian Scoones et al., 2018). Yang paling terkenal
   dari pemerintahan populis kiri kontemporer adalah 'pink-tide' di
   negara-negara Amerika Latin di Venezuela, Bolivia, dan Ekuador antara
   tahun 1990 hingga awal 2000-an. Dalam era neoliberal saat ini,
   kemunduran demokrasi liberal dan ketergantungannya yang simultan pada
   intervensi negara dan individualisme pasar telah menarik kecenderungan
   ke arah neoliberalisme otoriter sayap kanan (Boffo et al., 2019).

   Populisme otoriter sayap kanan di Brazil oleh Presiden Bolsonaro yang
   terpilih dari hasil Pemilu 2018 lalu misalnya, juga didukung oleh
   kelompok gereja Kristen Evangelikal
   
<https://jacobinmag.com/2019/04/bolsonaro-election-unions-labor-evangelical-churches>
 
   . Keterlibatan politik agama dalam kontestasi semacam ini signifikan
   dalam meraup suara massa dan memberikan legitimasi atas pemerintah.
   Populisme semacam ini juga terjadi dalam konteks Islam politik, dan di
   Indonesia, karakter otoriternya dapat ditemui pada sosok seperti
   Prabowo. Populisme Islam adalah gerakan politik baru yang muncul dalam
   neoliberalisme dan menemukan narasi eksplisit dan khalayak luas di
   politik pemilu saat ini di Indonesia. Populisme Islam baru ini
   didefinisikan oleh reposisi orang-orang Muslim yang terpinggirkan (umat)
   dalam negara-bangsa yang menghomogenisasikan politik identitasnya tetapi
   menangkap aliansi multi-kelas untuk perjuangan kekuasaan dan persaingan
   sumber daya (Hadiz, 2016).

   Karya klasik Robison Indonesia: The Rise of Capital (1986) menegaskan
   bahwa kelas kapitalis domestik dan kapital milik negara membentuk
   sejarah kontemporer Indonesia. Selanjutnya, sejak tahun 1949 negara
   Indonesia telah menyediakan kondisi untuk akumulasi kapital dan
   mengelola ketegangan antara unsur-unsur kapital. Dalam studinya tentang
   populisme Islam di Indonesia, Hadiz (2016) menyoroti bahwa gerakan
   politik baru ini adalah produk dari perjuangan kontemporer untuk
   kekuasaan dan sumber daya material dan hasil konflik di berbagai konteks
   sosial dan sejarah. Ini menandai ketegangan yang tanpa preseden antara
   Islam dan negara di Indonesia dalam kampanye pilpres 2019.

   Sebelum meluncur ke dinamika pilpres, perlu kita tengok kembali kilas
   balik potongan trayektori sejarah yang membentuk alur demokrasi dan
   politik negeri ini.

   Hantu komunisme
   Warisan Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan bagian dari embrio
   gerakan nasionalisme. Awalnya adalah perpecahan dari faksi-Marxis
   Sarekat Islam (SI) - organisasi massa terbesar di 1920-an di nusantara –
   di tahun-tahun awal PKI mampu merekonsiliasi nilai-nilai Islam dan
   Marxisme untuk meraih massa luas. Di tahun 1950-an sampai pemusnahan
   massal yang brutal pada 1965, PKI adalah partai komunis terbesar di
   dunia setelah Uni Soviet dan Cina (McVey, 2006). Pada tahun 1966,
   Soeharto secara resmi mengambil alih kekuasaan sebagai presiden di bawah
   Orde Baru dan memulai pemberantasan komunis yang telah merenggut 500,000
   hingga satu juta jiwa hanya dalam beberapa tahun (Roosa, 2006).

   Rezim ini mempraktikkan salah satu pembantaian paling kejam dari abad
   kedua puluh yang meletakkan dasar bagi pertumbuhan kapitalisme di
   Indonesia sebagai proses akumulasi primitif (Farid, 2005). Di bawah
   otoritaranisme Orde Baru, pemusnahan PKI membuat rezim praktis tanpa
   kekuatan oposisi. Munculnya kelas sosial baru tidak hanya menciptakan
   kelas pekerja industri baru dan kelas menengah perkotaan, tetapi kelas
   kapitalis domestik yang kuat dan konglomerat bisnis raksasa dengan
   dukungan negara. Negara memelihara dan melindungi kepentingan oligarkis
   kapitalis (Hadiz, 2001).

   Krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an membawa era Reformasi pada 1998
   yang memaksa Soeharto mundur. Rezim telah berhasil membuat pemisahan
   sejarah hampir secara komprehensif antara Islam dan ideologi kiri,
   mendemonisasi dan menekan setiap gerakan dan gagasan kiri serta
   membatasi Islam sebagai kekuatan sosial hanya untuk mempertahankan
   kekuatan oligarki Soeharto sementara pada saat yang sama
   mendepolitisasinya. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang sudah ada
   sejak pra-kemerdekaan, Reformasi menghidupkan kembali kelompok-kelompok
   politik Islam baru dari kelas menengah dan kelas pekerja perkotaan
   dengan berbagai karakter mulai dari konservatif, reformis, hingga
   militan, yang selama Orde Baru embrionya direpresi. Hampir dua dekade
   kemudian, kelompok-kelompok ini berkembang dengan berbagai
   manifestasinya.

   Pada tahun 2014, Jokowi, yang saat itu merupakan kandidat populer dan
   favorit media, selama kampanyenya disambut meriah oleh publik karena
   latar belakangnya yang sederhana dibanding Prabowo dan keduanya bersaing
   kembali di Pemilu Presiden 2019. Prabowo merupakan representasi dari
   kelas kapitalis oligarkis lama, kerap dikaitkan dengan pelanggaran HAM
   masa lalu <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44949790> , termasuk
   di Timor-Leste ketika berada di bawah pendudukan Indonesia
   <https://tirto.id/prabowo-melupakan-pelanggaran-ham-berat-timor-timur-dcMU> 
   . Ia juga putra seorang ekonom Djojohadikusumo dan mantan menantu
   Soeharto. Ini telah membawa Jokowi pada sorotan publik baru. Tidak
   seperti presiden Indonesia lainnya yang muncul dari karir militer,
   teknokrat, atau keturunan mantan pemimpin negara, Jokowi adalah seorang
   kapitalis lokal tanpa latar belakang keluarga dari politisi, borjuasi,
   atau ulama. Dengan kemampuan dan citranya, Jokowi terpilih menjadi
   presiden.

   Pada tahun 2016, kelompok-kelompok Islam yang telah tumbuh pesat di era
   Reformasi ini beraliansi menjadi gerakan 212 yang mampu mendatangkan
   ratusan ribu orang dari berbagai daerah di seluruh negeri untuk
   berkumpul di pusat kota. Awalnya ini merupakan protes terhadap gubernur
   Jakarta yang saat itu, Ahok, di bawah tuduhan penistaan terhadap Islam.
   Singkatnya, gerakan ini telah berkembang menjadi wacana politik
   identitas Islam dan nasionalisme termasuk slogan 'Ganti Presiden'
   sebagai oposisi terhadap Jokowi. Bahkan di antara massa yang merupakan
   pendukung Jokowi, rasa membela Islam dan nasionalisme tetap kuat.

   Narasi Islam dan nasionalisme yang digaungkan gerakan populis ini juga
   memunculkan sentimen anti-asing, khususnya Cina, yang diasosiasikan
   sebagai non-Muslim, terutama sejak kasus Ahok. Ini Sejak 2016, insiden
   jumlah pekerja migran Cina yang tidak berdokumen datang ke Indonesia
   menjadi perhatian publik. Mereka tersebar di Jakarta dan daerah lain.
   Pada 2018, Jakarta Post melaporkan ada ratusan warga negara Cina ilegal
   yang bekerja di pertambangan emas lokal di Papua
   
<https://www.thejakartapost.com/news/2018/06/12/hundreds-of-chinese-citizens-found-working-illegally-in-gold-mines-in-papua.html>
 
   . Bahkan, jumlah tenaga kerja asing di akhir 2017 mencapai 126 ribu
   orang atau meningkat 69,85 persen dibandingkan akhir 2016 sebanyak
   74.813 orang dengan mayoritas pekerja berasal dari Cina
   
<https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180417202646-92-291534/aturan-baru-tka-dinilai-bikin-buruh-china-kian-banjiri-ri>
 
   . Ini memunculkan ketakutan bahwa Jokowi adalah ‘komunis’ atau akan
   memimpin Indonesia ke aliansi dengan partai komunis Cina. Dengan
   meningkatnya fitnah yang mendekati musim kampanye, pada 2018 Jokowi
   mengumumkan bahaya komunisme dan warisan PKI.
   
<https://www.hrw.org/news/2018/10/09/indonesian-president-evokes-communisms-ghost>
 
   Untuk membersihkan namanya dari tuduhan komunisme, ia memilih Ma'ruf
   Amin sebagai pasangannya untuk wakil presiden untuk mendulang suara dari
   pemilih Muslim di tingkat massa.

   Populisme Islam Baru
   Gerakan 212 mampu membentuk lanskap politik Indonesia yang lebih luas
   dalam dinamika jelang pemilihan presiden pada 2019. Ini menandai
   kebangkitan populasi baru Islam sayap kanan dari aliansi lintas kelas di
   mana Muslim kelas menengah secara aktif terlibat dan dimobilisasi.
   Keterlibatan mereka sebagian adalah hasil dari pendekatan akomodatif
   Orde Baru.

   Orde Baru telah mengkooptasi kelompok-kelompok Islam dan intelektual di
   tengah-tengah meningkatnya kelas menengah Muslim yang muncul dari proses
   industrialisasi khususnya di tahun 1980an. Pada tahun 1990 ICMI
   didirikan sebagai payung asosiasi untuk para cendikiawan Muslim. Orde
   Baru juga memungkinkan hanya satu partai politik, PPP, untuk
   mengakomodasi pemilih Islam politik sebagai alat pemilihan belaka. Ini
   menimbulkan kontradiksi: Islam didepolitisasi ketika salah satu
   gerakannya dianggap menantang negara, tetapi Islam politik dipertahankan
   sebagai simbol dan ritual Islam yang sah. Ketika Reformasi terjadi,
   kebijakan baru sistem multipartai dan desentralisasi telah membuka
   gelombang berbagai bentuk Islam politik. Warisan ini tercermin dalam
   pertempuran antara politik identitas dan aliansi lintas kelas dalam
   gerakan 212.

   Populisme otoriter memanfaatkan sentimen identitas untuk kepentingan
   politik mereka, sebagaimana yang dilakukan para pemimpin sayap kanan di
   Eropa dan Donald Trump di AS yang mengkonstruksikan narasi soal musuh
   ‘dari luar’ dan ‘yang berbeda’, mengalihkan publik dari kejahatan para
   organisasi neoliberal, kapitalis besar dan politisi korup. Di Indonesia,
   sentimen untuk menyatukan umat Islam dari kemungkinan ancaman terhadap
   kedaulatan negara juga tercermin dalam sikap anti terhadap pekerja
   migran Cina yang dianggap sebagai penjajah yang mengganggu.

   Sikap antipati publik terhadap pekerja migran Cina memicu sentimen masa
   lalu terhadap paradoks 'komunis Cina’ yang bersifat politis dan
   'kapitalis Cina' yang bersifat ekonomis akibat peninggalan kebijakan
   Orde Baru. Ini ditambah dengan dampak neoliberal pada kerentanan tenaga
   kerja yang berkelanjutan dan pemeliharaan apa yang disebut Marx sebagai
   'surplus populasi relatif' di mana pertumbuhan tinggi tidak diimbangi
   dengan penciptaan lapangan kerja karena surplus populasi dengan
   persyaratan akumulasi kapital mengusir pekerja pedesaan melalui
   perampasan tanah. Antara tahun 1986 dan 2014, lebih dari setengah tenaga
   kerja tetap dalam kondisi rentan untuk mata pencaharian sementara dalam
   empat dekade terakhir kepemilikan tanah semakin terpolarisasi (Habibi
   dan Juliawan, 2018: 663). Masalah pekerja prekariat ini seiring dengan 
   meningkatnya sentimen anti-Cina
   
<https://tirto.id/sentimen-anti-cina-di-indonesia-awet-usai-pilkada-jakarta-cwpg>
 
   , apalagi dengankehadiran pekerja migran Cina yang miskin beberapa tahun
   belakangan ini dan konglomerat etnis Cina yang telah mendominasi ekonomi
   Indonesia sejak Orde Baru.

   Paradoks Demokrasi
   Di dalam neoliberalisme, demokrasi melahirkan paradoks karena secara
   substansial, demokrasi berpotensi membatasi dan melawan kekuatan
   neoliberal. Namun, di sisi lain, neoliberalisme juga memilik seperangkat
   aparatus dan ideologi kapitalis yang mampu mengoptasi demokrasi. Contoh
   problematiknya adalah soal demokrasi elektoral. Pemilu dianggap cara
   paling demokratis untuk memilih pemimpin, namun kekecewaan terhadap
   situasi politik ekonomi dan krisis global telah memunculkan pemimpin
   populis yang lahir dari pemilu dan condong pada otoritarianisme sayap
   kanan. Apakah lantas demokrasi elektoral cukup? Bagaimana dengan
   reformasi? Revolusi? Atau gerakan sosial alternatif?

   Dalam prolog Indonesia Betrayed, Collins (2007) mencatat perbandingan
   antara Revolusi 1848 di Perancis dan 1998 di Indonesia:

   Pada tahun 1998, seratus lima puluh tahun setelah Revolusi 1848, sebuah
   gerakan demokrasi yang dipimpin oleh mahasiswa, wartawan, dan
   elemen-elemen kelas menengah muncul untuk menghadapi rezim otoriter Orde
   Baru Soeharto di Indonesia. Ada kesamaan yang mencolok antara
   sebab-sebab dan arah Revolusi 1848 dan gerakan reformasi di Indonesia.
   Seperti para aktivis demokrasi di Paris yang mewarisi tradisi Revolusi
   Perancis, para demonstran di Jakarta melihat diri mereka meneruskan
   tradisi "generasi '45" yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan
   "generasi '65" yang telah menghancurkan komunisme. Ketika rezim Soeharto
   tiba-tiba runtuh dalam semalam ketika elemen-elemen kelas menengah
   memberikan dukungan mereka kepada gerakan demokrasi, seperti kaum
   revolusioner tahun 1848, para pemimpin reformasi mendapati diri mereka
   tidak siap untuk mendirikan pemerintahan baru.  (Hal.5)

   Penekanan Collins pada peran kelas menengah dalam Reformasi adalah
   potret yang akurat tentang apa yang tepatnya luput dalam perbandingannya
   dengan Revolusi Perancis 1848. Hadiz (2001) mencatat bahwa Reformasi
   menunjukkan keberhasilan Orde Baru dalam menekan gerakan pekerja yang
   telah melemahkan kekuatan mereka untuk berorganisasi secara kolektif
   dalam momen Reformasi. Dengan demikian, merujuk Revolusi 1848 baik ke
   Marx maupun Tocqueville, Collins mengambil perbandingan yang mengabaikan
   elemen revolusioner dari yang kaum tertindas: mayoritas kaum tani dan
   kelas pekerja urban, dan rekonfigurasi kompleks dari kelas menengah dan
   borjuis dalam proses mengalahkan revolusi proletariat.

   Karakteristik umum dari Revolusi Perancis 1848 menemukan kemiripan
   utamanya juga dalam menganalisis populisme Islam baru Indonesia dua
   dekade setelah Reformasi. Merujuk pada karya Marx Eighteenth Brumaire of
   Louis Bonaparte (1852), peristiwa ini dapat diturunkan dari lima faksi
   utama melawan massa revolusioner: kelas penguasa lama, kelas penguasa
   baru, tentara, birokrasi dan para pemimpin agama. Mereka bernegosiasi,
   menyeimbangkan dan memperebutkan kekuatan mereka sambil menjinakkan
   perlawanan massa kelas pekerja pedesaan miskin dan perkotaan dengan
   mendukung gerakan yang dipimpin oleh Muslim kelas menengah dan borjuis.
   Contoh lain adalah awal 2019 tentang wacana soal rancangan hukum untuk
   membawa kembali militer ke posisi di kementerian atau lembaga negara.
   
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190204135037-32-366330/dpr-wacana-tni-duduki-kementerian-kembalikan-dwifungsi-abri>
 
   Ini telah menyebabkan protes dan debat di antara publik, menimbulkan
   kekhawatiran atas kembalinya dwifungsi ABRI di mana mereka terlibat
   aktif dalam ranah sosial politik.

   Faksi-faksi dalam konstelasi politik seolah terlihat jelas dalam
   polarisasi pendukung di antara Jokowi dan Prabowo, tetapi pertarungan
   dasarnya adalah dalam rekonfigurasi ulang kelas kapitalis dan dinamika
   basis sosial populisme Islam (kelas menengah perkotaan, borjuasi, kaum
   miskin kota) yang berinteraksi dalam garis kabur dari kontes pemilihan
   yang seolah terpolarisasi ini.

   Sementara Jokowi mewakili kelas penguasa baru dan Prabowo adalah kelas
   penguasa lama, politisi dan faksi militer di sekitarnya adalah bagian
   dari sistem oligarkis dengan karakter yang mirip dengan atau merupakan
   bagian dari Orde Baru. Mereka semua membentuk dan memperkuat satu sama
   lain untuk mempertahankan kontrol negara, yang diwujudkan dalam
   mistifikasi pemimpin yang kuat. Prabowo mempersonifikasikan dirinya
   sebagai pemimpin yang kuat
   
<http://theconversation.com/pemilu-legislatif-dan-pilpres-apa-yang-penting-dan-apa-yang-dipertaruhkan-115564>
 
   , sebagaimana anggapan para pendukungnya karena latar belakang
   militernya. Di sisi lawan, Jokowi mencari kekuatan kepemimpinannya dalam
   menciptakan loyalis dalam militer dan teknokrat (Warburton, 2016:314).
   Keduanya berlomba merangkul ulama dari organisasi massa Muslim.

   Ayers dan Saad-Filho (2015) menelisik paradoks demokrasi di bawah
   kapitalisme. Menurut model konvensional, demokrasi terdiri dari
   penegakkan hukum, konsepsi spesifik tentang hak asasi manusia (HAM),
   pemilu berkala untuk perwakilan politik melalui pemilu multipartai yang
   kredibel, ‘tata kelola pemerintahan yang baik’, ‘ekonomi pasar’, dan
   masyarakat sipil yang pluralis. Model ini mencakup suatu konsepsi diri
   dan masyarakat yang individualis, egaliter secara formal, kapitalis, dan
   universalis. Mereka mengutip berbagai model demokrasi
   Weberian-Schumpterian-Dahl yang menyatakan kriteria prosedural sebagai
   cara pemerintahan elitis bagi proyek demokratisasi, dan kemunculan model
   ini dianggap bagian dari kebangkitan neoliberalisme termasuk di
   negara-negara paskakolonial.

   Proyek semacam ini melahirkan krisis ketidakstabilan global dan
   demokrasi konvensional yang semu. […] Keterbatasan dari demokrasi
   konvensional juga telah memunculkan keprihatinan di dunia Barat yang
   ‘maju’, dimana sejumlah besar masyarakat kini menolak elektoral yang
   bersifat ritual yang memberikan kekuasaan terhadap partai politik yang
   nyaris sulit dibedakan satu sama lain dan tak mampu untuk mengatasi
   problem ekonomi dan politik mereka. (hal. 598)

   Lebih jauh lagi, Ayers dan Saad-Filho menegaskan bahwa kapitalisme
   mensyaratkan juga pembatasan demokrasi. Capaian-capaian demokratik di
   banyak masyarakat, hampir serupa, adalah hasil dari perjuangan massa
   yang telah dibayar mahal demi tata aturan politik-ekonomi yang lebih
   adil. Demokrasi, dan pembatasannya yang terkait dengan kebebasan
   politik, memiliki bentuk khususnya di bawah neoliberalisme, yaitu
   pemisahan antara ekonomi dan politik. Pemisahan antara ekonomi dan
   politik dalam kapitalisme memiliki berbagai implikasi yang bersifat
   paradoksal (hal.600). Penulis merangkum dua implikasi yang relevan:

   Pertama, ia mengungkapkan dua level dari relasi eksploitasi dari
   kapitalisme: perusahaan sebagai lokus ekonomi dari kekuasaan kaum
   borjuis, dan negara sebagai lokus politiknya, dengan tanggung jawab
   untuk melegitimasi dan mengelola relasi sosial dari kelas, kepemilikan,
   nilai tukar, kontrak dan pasar.

   Contohnya adalah bagaimana Jokowi dan Prabowo sama-sama memiliki koneksi
   terhadap industri ekstraktif dan pertambangan untuk menyokong manuver
   politik mereka
   
<http://www.lowyinterpreter.org/the-interpreter/indonesia-policy-missing-talk-politics>
 
   . Padahal, industri ini telah mengakibatkan banyak persoalan lingkungan
   yang merugikan rakyat. Proyek infrastruktur Jokowi yang juga telah
   mengorbankan nasib masyarakat akibat konflik lahan.

   Kedua, demokrasi politik secara sistematis mendukung kepentingan kapital
   . Demokrasi memberi legitimasi pada eksploitasi kapitalis karena
   kesetaraan politik menutupi struktur dan proses yang melanggengkan
   ketimpangan ekonomi. Sebaliknya, secara luas diakui bahwa kelancaran
   akumulasi kapital ('kemakmuran ekonomi') sangat penting untuk
   kesejahteraan sosial, dan menerima stabilitas politik membantu mencapai
   tujuan ini. Persepsi yang didasarkan pada materi tentang kebaikan
   bersama ini divalidasi melalui pengalaman langsung ('akal sehat'), dan
   melalui media, sekolah-sekolah dan sarana lain dari (dalam) membentuk
   opini publik. Jadi, dalam keadaan normal, para kapitalis dapat dengan
   yakin mengharapkan kaum miskin untuk memilih eksploitasi mereka sendiri.

   Contohnya adalah desentralisasi di era Reformasi. Desentralisasi telah
   memberikan banyak sumber daya yang dapat dieksploitasi kepada kapitalis
   lokal di wilayah mereka masing-masing. Berakhirnya kroni kapitalisme di
   tingkat nasional dan pergeseran dari inisiatif politik ke kapitalis
   kabupaten memunculkan berbagai kontradiksi diantara kapitalis lokal di
   berbagai daerah (Lane, 2014). Dalam beberapa tahun terakhir, politisi
   dan pemuka Islam lokal dan nasional telah mendukung beberapa praktik
   kapitalisme ekstraktif di berbagai daerah di Indonesia, dan seringkali
   dengan bersikap netral ketika masyarakat yang terkena dampak mendekati
   mereka dan memobilisasi protes.

   Warburton (2016) berpendapat bahwa setelah Jokowi berhasil
   mengkonsolidasikan politik pada tahun 2016, Jokowi mengarah pada
   'developmentalisme baru', ditandai dengan serangkaian program ekonomi
   pragmatis seperti infrastruktur, deregulasi dan debirokratisasi di bawah
   bendera nasionalisme yang berpusat pada kontrol negara. Ini secara
   intensif dilakukan oleh Jokowi sambil menyebut semua program sebagai
   'pro-miskin', yang akan "mengurangi kesenjangan antar-daerah,
   menciptakan peluang ekonomi di pulau-pulau terluar dan melompat dari
   stagnasi ekonomi". Ini termasuk merangkul kebijakan liberal yang
   berorientasi pasar tetapi dengan narasi 'modernisasi' di bawah ideologi
   nasionalis statis (hal.309).

   Gaya kepemimpinan 'developmentalisme' Jokowi cenderung mengamankan
   posisinya melalui faksi dominan utama dari kelas penguasa. Rezim
   developmentalisme di negara akan memiliki karakter birokratis otoriter
   dengan campuran ekonomi dan ideologi politik (Radice, 2008: 1154), yaitu
   kedekatan antara negara dan sektor bisnis. Sistem ini lebih efisien,
   dengan memusatkan kontrol pada kroni kekuasaan secara terpusat dan dapat
   mengurangi potensi persaingan antar-kelas. Tirai dari pergulatan ini
   adalah simbol dan narasi Islam, kerap menjadi ajang mobilisasi dan
   pendulang suara saat pemilu.

   Populisme Islam baru di Indonesia bersandar pada ketegangan antara Islam
   sebagai kekuatan sosial dan negara dan keterikatannya dengan
   perkembangan kapitalis. Dalam sejarahnya, gerakan Islam di Indonesia
   memiliki riwayat perlawanan terrhadap kapitalisme dan imperialisme.
   Kini, politisasi Islam membuka jalan bagi pembangunan pro-kapitalis.
   Pembangunan adalah basis material bagi modernitas di mana akumulasi
   merupakan pusat pertumbuhan ekonomi yang secara internal menghasilkan
   perjuangan kelas (Bernstein, 2006). Populisme Islam yang baru dibentuk
   oleh kelas menengah dan didukung oleh kaum borjuis untuk mengamankan
   kekuasaan dan kepentingan kelas kapitalis nasional dan lokal dengan
   logika pembangunan, tetapi sebenarnya ditopang oleh massa yang terenggut
   haknya dan hendak melawan penderitaan mereka.

   Tidak ada kata lain, gerakan politik alternatif harus dibangun – dengan
   keberanian untuk menyatakan keberpihak pada rakyat, dengan tidak
   menjadikan penderitaan rakyat sebagai penopang untuk kelas kapitalis.
   Gerakan ini harus mampu meletakkan kembali hak pilih, mobilisasi,
   organisasi massa sebagai jantung yang memberi denyut demokrasi
   Indonesia. Jika gerakan Islam hendak memperjuangkan aspirasi umat Muslim
   yang tertindas, yang utama bukanlah mengadahkan tangan pada para
   kapitalis yang eksploitatif. Kembali pada akar perjuangan dan
   solidaritas: ranah dimana eksploitasi itu diproduksi.

   References
   Ayers, Alison J., and Alfredo Saad-Filho. 2015. "Democracy against
   Neoliberalism: Paradoxes, Limitations, Transcendence." Critical
   Sociology, Vol. 41 (4-5) 597-618.

   Bernstein, Henry. 2006. "Studying Development/Development Studies." 
   African Studies, 65, 1, July.

   Collins, Elizabeth Fuller. 2007. Indonesia Betrayed: How Development
   Fails. University of Hawai'i Press.

   Farid, Hilmar. 2005. "Indonesia's Original Sin: Mass Killings and
   Capitalist Expansion 1965-66." Inter-Asian Cultural Studies 6, no.1 
   3-16.

   Habibi, Muhtar, and Benny Hari Juliawan. 2018. "Creating Surplus Labour:
   Neo-Liberal Transformations and Development of Relative Surplus
   Population in Indonesia." Journal of Contemporary Asia, 48:4 649-670.

   Hadiz, Vedi R. 2001. "Capitalism, Oligarchic Power and the State in
   Indonesia." Historical Materialism, No. 8 (1) 119-152.

   —. 2016. Islamic Populism in Indonesia and the Middle East. Cambridge
   University Press.

   —. 2010. Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia: A Southeast
   Asia Perspective. Stanford University Press.

   Hadiz, Vedi R., and Richard Robison. October 2013. "The Political
   Economy of Oligarchy and the Reorganization of Power in Indonesia." 
   Indonesia, No. 96, Special Issue: Wealth, Power and Contemporary
   Indonesian 35-57.

   Ian Scoones, Marc Edelman, Saturnino M. Borras Jr., Ruth Hall, Wendy
   Wolford, Ben White. 2018. "Emancipatory rural politics: confronting
   authoritarian populism." The Journal of Peasant Studies, 45:1. 1-20.

   Lane, Max. 2014. Decentralization and Its Discontents: An Essay on
   Class, Political Agency, and National Perspective in Indonesian
   Politics. ISEAS Singapore.

   Marco Boffo, Alfredo Saad-Filho, Ben Fine. 2019. "Neoliberal Capitalism:
   The Authoritarian Turn." Socialist Register.

   Marx, Karl. 1852. "Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte." Marxists
   Internet Archive. 
   http://www.marxists.org/archive/marx/works/download/pdf/18th-Brumaire.pdf
   <http://www.marxists.org/archive/marx/works/download/pdf/18th-Brumaire.pdf> 
   .

   McVey, Ruth T. 2006. The RIse of Indonesian Communism. Equinox
   Publishing.

   Radice, Hugo. 2008. "The Developmental State under Global
   Neoliberalism." Third World Quarterly, Vol.29, No.6 1153-1174.

   Robison, Richard. 1986. Indonesia: The Rise of Capital. Asian Studies
   Association of Australia.

   Roosa, John. 2006. Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement
   and Suharto's Coup D'etat in Indonesia. New Perspectives in Southeast
   Asian Studies, University of Wisconsin Press.

   Tolo, Emilianus Yakob Sese. 2016. "Akumulasi Melalu Perampasan dan
   Kemiskinan di Flores." MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi 21(2) 173-204.

   Warburton, Eve. 2016. "Jokowi and the New Developmentalism." Bulletin of
   Indonesian Economic Studies, 52:3 297-320.



   Rizki Amalia Affiat <https://islambergerak.com/?author=57> | 19/04/2019
   pukul 6:39 pm | Tag: headline
   <https://islambergerak.com/?taxonomy=post_tag&term=headline> | URL: 
   https://wp.me/p4Cvrx-K6 <https://wp.me/p4Cvrx-K6>


   Komentar
   
<http://islambergerak.com/2019/04/pilpres-2019-konsolidasi-dan-rekonfigurasi-kelas-kapitalis/#respond>
       
      Lihat semua komentar
   
<http://islambergerak.com/2019/04/pilpres-2019-konsolidasi-dan-rekonfigurasi-kelas-kapitalis/#comments>
   Berhenti berlangganan dari
   
<https://public-api.wordpress.com/bar/?stat=groovemails-events&bin=wpcom_email_click&redirect_to=https%3A%2F%2Fsubscribe.wordpress.com%2F%3Fkey%3D5014a2d5f513a587d8a087bf8b150204%26email%3Darif_harsana%2540yahoo.com%26locale%3Did%26b%3Dl8d0w5DUj5GrruQwW60owej7G82H8a7DLslYZu1J8xBJCncZe1A8kQOt0fGlg4aapEto8haaX2L4DLmX-e0JYjO-bl-xBCB38yadWlkKoyyO-g%253D%253D&sr=1&signature=bb3f82759a4e4040b81cff4236fd7207&user=d2b96503f43eb12ec9647660aee4d68a&_e=eyJlcnJvciI6bnVsbCwiYmxvZ19pZCI6NjgyODI2NzksImJsb2dfbGFuZyI6ImlkLUlEIiwic2l0ZV9pZF9sYWJlbCI6ImpldHBhY2siLCJlbWFpbF9uYW1lIjoiZW1haWxfc3Vic2NyaXB0aW9uIiwiX3V0IjoiYW5vbiIsIl91aSI6ImQyYjk2NTAzZjQzZWIxMmVjOTY0NzY2MGFlZTRkNjhhIiwiZW1haWxfaWQiOiI1ZmE4MzNiZDAxMWVkZDFiODdkYTRlZDZmZWIyODJjZCIsImRhdGVfc2VudCI6IjIwMTktMDQtMTkiLCJkb21haW4iOiJpc2xhbWJlcmdlcmFrLmNvbSIsImZyZXF1ZW5jeSI6IjAiLCJkaWdlc3QiOiIwIiwiaGFzX2h0bWwiOiIxIiwibG9jYWxlIjoiaWQiLCJhbmNob3JfdGV4dCI6IkJlcmhlbnRpIGJlcmxhbmdnYW5hbiBkYXJpIiwiX2RyIjpudWxsLCJfZGwiOiJcL3htbHJwYy5waHA/c3luYz0xJmNvZGVjPWRlZmxhdGUtanNvbi1hcnJheSZ0aW1lc3RhbXA9MTU1NTY5OTE5OS45NyZxdWV1ZT1zeW5jJmhvbWU9aHR0cHMlM0ElMkYlMkZpc2xhbWJlcmdlcmFrLmNvbSZzaXRldXJsPWh0dHBzJTNBJTJGJTJGaXNsYW1iZXJnZXJhay5jb20mY2Q9MC4wMDI4JnBkPTAuMDA3OSZpZGM9MSZ0aW1lb3V0PTE1JmZvcj1qZXRwYWNrJndwY29tX2Jsb2dfaWQ9NjgyODI2NzkiLCJfZW4iOiJ3cGNvbV9lbWFpbF9jbGljayIsIl90cyI6MTU1NTY5ODk1MjgzMywiYnJvd3Nlcl90eXBlIjoicGhwLWFnZW50IiwiX2F1YSI6IndwY29tLXRyYWNrcy1jbGllbnQtdjAuMyIsIl91bCI6bnVsbCwiYmxvZ190eiI6IjAiLCJ1c2VyX2xhbmciOm51bGx9&_z=z>
 
   agar tidak lagi menerima pos dari Islam Bergerak.
   Ubah pengaturan email Anda di Kelola Langganan
   
<https://public-api.wordpress.com/bar/?stat=groovemails-events&bin=wpcom_email_click&redirect_to=https%3A%2F%2Fsubscribe.wordpress.com%2F%3Fkey%3D5014a2d5f513a587d8a087bf8b150204%26email%3Darif_harsana%2540yahoo.com%26locale%3Did&sr=1&signature=4fd75cd3c67acbe60c200f47d8a3282a&user=d2b96503f43eb12ec9647660aee4d68a&_e=eyJlcnJvciI6bnVsbCwiYmxvZ19pZCI6NjgyODI2NzksImJsb2dfbGFuZyI6ImlkLUlEIiwic2l0ZV9pZF9sYWJlbCI6ImpldHBhY2siLCJlbWFpbF9uYW1lIjoiZW1haWxfc3Vic2NyaXB0aW9uIiwiX3V0IjoiYW5vbiIsIl91aSI6ImQyYjk2NTAzZjQzZWIxMmVjOTY0NzY2MGFlZTRkNjhhIiwiZW1haWxfaWQiOiI1ZmE4MzNiZDAxMWVkZDFiODdkYTRlZDZmZWIyODJjZCIsImRhdGVfc2VudCI6IjIwMTktMDQtMTkiLCJkb21haW4iOiJpc2xhbWJlcmdlcmFrLmNvbSIsImZyZXF1ZW5jeSI6IjAiLCJkaWdlc3QiOiIwIiwiaGFzX2h0bWwiOiIxIiwibG9jYWxlIjoiaWQiLCJhbmNob3JfdGV4dCI6IktlbG9sYSBMYW5nZ2FuYW4iLCJfZHIiOm51bGwsIl9kbCI6IlwveG1scnBjLnBocD9zeW5jPTEmY29kZWM9ZGVmbGF0ZS1qc29uLWFycmF5JnRpbWVzdGFtcD0xNTU1Njk5MTk5Ljk3JnF1ZXVlPXN5bmMmaG9tZT1odHRwcyUzQSUyRiUyRmlzbGFtYmVyZ2VyYWsuY29tJnNpdGV1cmw9aHR0cHMlM0ElMkYlMkZpc2xhbWJlcmdlcmFrLmNvbSZjZD0wLjAwMjgmcGQ9MC4wMDc5JmlkYz0xJnRpbWVvdXQ9MTUmZm9yPWpldHBhY2smd3Bjb21fYmxvZ19pZD02ODI4MjY3OSIsIl9lbiI6IndwY29tX2VtYWlsX2NsaWNrIiwiX3RzIjoxNTU1Njk4OTUyODMzLCJicm93c2VyX3R5cGUiOiJwaHAtYWdlbnQiLCJfYXVhIjoid3Bjb20tdHJhY2tzLWNsaWVudC12MC4zIiwiX3VsIjpudWxsLCJibG9nX3R6IjoiMCIsInVzZXJfbGFuZyI6bnVsbH0&_z=z>
 
   .

   Sulit mengeklik? Salin dan rekatkan URL ini ke peramban Anda:
   
http://islambergerak.com/2019/04/pilpres-2019-konsolidasi-dan-rekonfigurasi-kelas-kapitalis/
   
<http://islambergerak.com/2019/04/pilpres-2019-konsolidasi-dan-rekonfigurasi-kelas-kapitalis/>

Kirim email ke