http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1501-belajarlah-dari-desa
/*Belajarlah dari Desa*/
Penulis: *Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Selasa, 23
Apr 2019, 05:30 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1501-belajarlah-dari-desa>
<http://twitter.com/home/?status=Belajarlah dari Desa
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1501-belajarlah-dari-desa
via @mediaindonesia>
Belajarlah dari Desa
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/04/2255f1cfa14f53ec27202765e7ccc286.jpg>
/MI/Tiyok/
Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
PESTA demokrasi di desa sungguh membuat saya bahagia. Inilah kali
pertama saya memilih di desa kelahiran. Meski ada banyak pertanyaan
warga 'berapa kami diberi sangu', ada kebersamaan yang penuh. Ini
berbeda jauh jika dibadingkan dengan di masa Orde Baru ketika dalam
setiap pemilu dibuat rekayasa bahwa negara dalam bahaya.
Ada suasana syak wasangka. Itulah impresi saya ketika remaja. Rakyat tak
leluasa memilih, tetapi diintimidasi agar memilih partai penguasa.
Dari kampung halaman dengan jalan raya berkelok-kelok dan hutan jati di
kanan-kiri, Desa Lumbir, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kami memandang
politik dengan serius, tapi juga jenaka. Politik sebagai keniscayaan
suksesi kepemimpinan, tapi juga sebagai hiburan. Memilih tanpa paksaan.
Mereka berlomba, tetapi juga kadang saling bercanda. Kadang saling
mengolok, tapi semata untuk joke. Ideologi saya kira tak mati, tetapi
ini memang ‘politik berbagai yang unik’. Contoh saja, seorang caleg
partai koalisi Jokowi bisa menang di beberapa TPS, tapi di tempat itu
pula pasangan calon presiden Prabowo-Sandi juga menang. Ini tentu tak
linier dengan di pusat.
Tradisi pemilihan kepala desa sejak berpuluh-puluh tahun lalu menempa
jiwa mereka jadi tangguh untuk berbeda. Kini mereka tenang saja
menanggapi hawa politik di Jakarta yang meninggi. Mereka tetap menunggu
KPU yang akan memutuskan 22 Mei nanti. Mereka tak turut ‘berperang kata’
seperti di lini masa media sosial.
Dalam bahasa mereka, merespons deklarasi kemenangan berkali-kali oleh
Prabowo, tanda ia tengah bersyukur kompetisi yang berat ini berakhir.
“Karena itu, tak usah dicerca," kata seseorang kepada temannya. Sang
teman itu menjawab, "Siap, Presiden," seraya memberi hormat.
Ini aksi tiru-tiru barisan orang yang memberi hormat kepada Prabowo
seraya mengucapkan, "Siap, Presiden," seusai deklarasi.
Seseorang yang lain lagi menimpali. "Dia sedang membayangkan menjadi
presiden. Hanya membayangkan saja, masa dicela?" katanya kepada yang
lain. “Pak Prabowo sebenarnya hanya kurang bergaul dengan orang-orang
desa seperti kami. Belajarlah legowo dari kami, dari desa," tambahnya.
Pada Pemilu 2014, Prabowo juga mengklaim menang dan menegasi hasil
hitung cepat (quick count) beberapa lembaga survei arus utama yang
merilis angka kemenangan untuk Jokowi.
Dulu Prabowo juga melakukan deklarasi dan sujud syukur. Kini klaim lima
tahun lalu berulang. Sejak 17 April ia tiga kali melakukan deklarasi.
Ahli psikologi Fakultas Psikologi UI Hamdi Muluk pun menyebut Prabowo
berpotensi mengalami gangguan kejiawan yang disebut delusi. Mungkinkah?
Pihak Prabowo juga melaporkan enam lembaga survei ke polisi. Seperti
juga di Pemilu 2014, beberapa lembaga survei yang berbasis kerja ilmiah
dilaporkan ke lembaga yang sama. Padahal, sudah ribuan kali mereka
melakukan survei dan hitung cepat untuk pemilu lokal maupun nasional,
dan tak ada masalah.
Eksistensi mereka juga diakui undang-undang. Prabowo juga bergembira
ketika versi hitung cepat lembaga survei pada Pilkada Jakarta 2017
Anies-Sandi mengalahkan Ahok-Djarot. Bukankah hitung cepat semula juga
untuk mengantisipasi jika lembaga resmi penghitungan suara melakukan
manipulasi?
Rakyat paham bahwa Pemilu 2019 dengan 800 ribu lebih TPS serta geografi
yang tak semuanya mudah dijangkau pastilah tak sempurna. Mereka percaya
KPU dan Bawaslu lembaga penyelenggara pemilu yang profesional. Kalaupun
ada kekisruhan, bukankah kedua kubu juga merasa dirugikan?
Tugas besar dengan pemilu yang amat rumit di dunia ini telah banyak
memakan korban jiwa para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara
karena kelelahan. Mari kita tundukkan kepala untuk mereka yang gugur
karena menunaikan tugas.
Mereka pasti tak sempurna, tetapi berkat mereka pula kerja raksasa
Pemilu Serentak 2019 berjalan lancar, dan pasar pun menyambut riang.
"Kita mesti percaya KPU, jangan percaya hantu," kata seorang petugas
pemilu seraya bercanda. Ia seperti menyindir kehebohan di Jakarta yang
mencerca KPU sepanjang waktu.
Orang-orang desa, berbasis masyarakat agraris, salah satu nilai lebihnya
ialah sabar menerima proses sebab setiap biji dan pohon yang ditanam
masing-masing punya usianya sendiri. Mereka tahu kapan pohon berbunga
dan kapan berbuah. Kapan panen. Tak bisa instan. Meski zaman berlari,
kekuatan itu tak sepenuhnya memudar.
Sabar menerima proses itu sungguh membahagiakan untuk menyikapi politik
elektoral yang panas. Elite yang memanaskan, rakyat justru yang
mendinginkan. Kota yang menggaduhkan, desa yang meneduhkan. Betul kata
meraka, belajarlah dari desa.
Saya percaya, seperti orang-orang desa, betapa pun kini kegaduhan pemilu
menghalangi sebagian kita untuk bahagia, setelah 22 Mei nanti
Prabowo-Sandiaga akan mengakui juga, meski perlu waktu.
Bahwa kalah dan menang adalah sesuatu yang niscaya dalam sebuah
kompetisi, dalam pemilu.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1501-belajarlah-dari-desa>
<http://twitter.com/home/?status=Belajarlah dari Desa
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1501-belajarlah-dari-desa
via @mediaindonesia>