https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1502-bangsa-cerdas
/*Bangsa Cerdas*/
Penulis: *Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group* Pada: Rabu, 24 Apr
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1502-bangsa-cerdas>
<https://twitter.com/home/?status=Bangsa Cerdas
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1502-bangsa-cerdas via
@mediaindonesia>
Bangsa Cerdas
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/04/3f90f6e15893daa3faba50a832a5ba3e.jpg>
/MI/Tiyok/
Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group
SOPIR taksi di Singapura secara spontan menyampaikan kekagumannya kepada
rakyat Indonesia yang mampu melaksanakan pemilihan umum secara damai.
Hanya, dia tidak bisa menahan rasa tawa membaca berita tentang salah
seorang calon presiden yang mengumumkan sendiri kemenangannya.
Para elite sekarang memang sedang menjadi bahan tertawaan. Berbagai
kelompok masyarakat membuat parodi tentang adanya sekelompok orang yang
berbaris dan dengan sikap sempurna memberikan hormat sambil mengucapkan:
“Siap... Presiden.” Setelah itu mereka bersalaman dengan ‘sang presiden’.
Memang ironis ketika masyarakat mampu menunjukkan kedewasaannya, justru
para elite menunjukkan kekerdilannya. Inilah yang sejak dulu
dikhawatirkan oleh Bung Hatta. Ketika kita sedang dihadapkan kepada
tantangan besar, justru yang muncul ialah pemimpin-pemimpin yang
berpikiran kerdil.
Tentu kita berharap para elite segera sadar dan mau memperbaiki diri.
Janganlah mau terus menjadi bahan tertawaan rakyat. Apalagi kemudian
menjadi olok-olok masyarakat dunia. Sikap ambisius membuat para elite
jadi kehilangan akal sehat.
Kita percaya dengan berjalannya waktu, akal sehat akan kembali lebih
mengemuka. Kita percaya, semua persoalan pemilu akan berakhir dengan
baik. Para elite pasti paham politik ialah ‘the art of the possible’.
Pengalaman Pemilu 2014 bisa menjadi rujukan. Ketika itu calon presiden
yang sama tidak mau mengakui hasil hitung cepat dan penghitungan riil.
Sama dengan kejadian lima tahun lalu, ia pun mendeklarasikan kemenangan.
Namun, ketika Komisi Pemilihan Umum mengumumkan secara resmi, ia pun
tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membawa keberatannya ke Mahkamah
Konstitusi. Ketika MK memutuskan bahwa tuduhan kecurangan tidak
terbukti, kedua kontestan berpelukan dan melanjutkan tanggung jawab
masing-masing membangun Indonesia.
Kita jangan berlama-lama membuang energi. Kita harus segera bergegas
membangun negara ini agar kesejahteraan bisa segera dirasakan oleh
seluruh rakyat. Tidak pernah bosan kita mengingatkan, tujuan berbangsa
dan bernegara bukanlah untuk rebutan jabatan, melainkan menciptakan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ketika para elite hanya ribut jabatan, yang akan menjadi korban ialah
rakyat banyak. Tidak mungkin ada investasi yang akan masuk apabila tidak
ada stabilitas politik. Tanpa ada investasi tidak mungkin akan tercipta
kesempatan kerja dan tanpa ada lapangan kerja tidak mungkin ada
perbaikan kehidupan masyarakat.
Jangan lupa, ketika tidak ada bisnis di Indonesia, yang akhirnya
merasakan akibatnya ialah para elite juga. Mereka tidak mungkin bisa
menjalankan agendanya apabila tidak ditopang oleh dana yang mencukupi.
Bahwa demokrasi bukan sistem yang sempurna, sejak dulu sudah kita
ketahui. Demokrasi hanyalah the second worst, tetapi tetap yang terbaik
dibandingkan sistem politik yang lain dalam menciptakan kesejahteraan
bagi masyarakat.
Atas dasar itulah, kita harus mengelola demokrasi dengan cerdas. Para
elite harus memberikan contoh yang baik, bukan sebaliknya. Kalau
kemudian yang ditonjolkan ialah sikap untuk menang sendiri, yang kita
dapatkan bukan kemajuan, melainkan sebaliknya, kemunduran.
Data yang dirilis AC Nielsen menunjukkan, pembangunan ekonomi yang kita
lakukan berada dalam arah yang benar. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5%
dalam tiga tahun terakhir itu dikontribusikan oleh investasi sebesar
6,9% dan konsumsi sekitar 5%. Sepanjang 2019 ini arus modal yang masuk
ke Indonesia mencapai Rp85 triliun.
Atas dasar itu ahli ekonomi Raden Pardede berharap, pemerintah lebih
berani bekerja dan mengambil keputusan. Ketika kelak sudah ditetapkan
sebagai presiden terpilih pada 22 Mei, Presiden Joko Widodo tidak perlu
menunggu pelantikan untuk mempercepat pembangunan ekonomi.
Kita harus sadar bahwa kita berlomba dengan waktu. Dalam 25 tahun ke
depan bonus demografi akan berakhir dan kita akan masuk ke dalam
kelompok negara yang berumur. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang ‘tua
sebelum kaya’. Untuk itulah, kita harus menjadi bangsa yang cerdas,
bukan bangsa pokrol bambu.