Luhut pastikan proyek Belt and Road Initiatives gunakan skema B-to-B
Rabu, 24 April 2019 23:02 WIB
Luhut pastikan proyek Belt and Road Initiatives gunakan skema B-to-B
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. (Dok.
Kemenko Maritim)
Kerja sama yang kita lakukan sekarang tidak ada yang berbentuk kerja
sama antarpemerintah, yang kita lakukan sekarang ini semua kerja sama
antarbadan usaha, langsung pada proyek. Jadi peran pemerintah di sini
hanya memfasilitasi
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar
Pandjaitan memastikan proyek-proyek yang masuk dalam program Belt and
Road Initiatives yang diinisiasi China menggunakan skema "Business to
Business" (B to B).
"Kerja sama yang kita lakukan sekarang tidak ada yang berbentuk kerja
sama antarpemerintah, yang kita lakukan sekarang ini semua kerja sama
antarbadan usaha, langsung pada proyek. Jadi peran pemerintah di sini
hanya memfasilitasi," jelasnya seperti dikutip dari keterangan tertulis
di Jakarta, Rabu.
Luhut menegaskan proyek-proyek tersebut murni dilakukan secara
Business-to-Business, di mana pemerintah Indonesia dan China hanya
memfasilitasi bertemunya masing-masing badan usaha dari kedua negara.
Luhut tiba di Beijing pada Rabu pagi untuk mengikuti Konferensi Tingkat
Tinggi (KTT) II Belt and Road Initiative atau Jalur Sutra Modern.
Menurut mantan Menko Polhukam itu, pemerintah tengah melakukan studi
kelayakan (feasibility study) proyek dengan investor China untuk
beberapa proyek yang akan ditawarkan dalam KTT Belt and Road Initiative ini.
Sesuai arahan Presiden agar pertumbuhan Indonesia bisa berada di 5,6
persen pada2020 <tel:2020>, salah satu upaya yang dilakukan adalah
dengan memberi insentif kepada perusahaan yang memproduksi barang ekspor
dan investasi yang dapat mengurangi impor dan menciptakan lapangan kerja.
Misalnya, menurut Luhut, saat ini ada beberapa perusahaan yang tertarik
membangun industri mobil listrik di Indonesia, seperti Sokon. Perusahaan
itu berminat memproduksi mobil listrik dalam bentuk taksi seperti yang
sedang dikembangkan perusahaan Bluebird.
"Daripada kita impor, lebih baik mereka dirikan pabriknya di Indonesia
'join' (gabung) dengan China tentunya mereka harus melakukan alih
teknologi," katanya.
Selain di bidang industri, ada pula kerja sama pendidikan vokasi yang
akan membantu tenaga kerja Indonesia untuk dapat bersaing di era
industri 4.0 sekarang ini.
"Akan ada10.000 <tel:10000>pelatihan vokasi yang diselenggarakan antara
Jerman, Indonesia dan China. Jadi tidak hanya antara Indonesia dan
China. Bentuk kerja samanya yaitu pelatihan ini menggunakan teknologi
Jerman dan uangnya dari China," katanya.
Dengan kata lain, katanya, Indonesia menggunakan teknologi kelas satu
dengan pendanaan yang relatif murah.
" Singapura juga tertarik ikut dalam kerja sama ini karena mereka
sudah berpengalaman di bidang ini. Menteri Keuangan Jerman telah
mengundang kami untuk membicarakan hal ini," kata Luhut.
Pada KTT ini, pemerintah juga ingin melakukan studi bagaimana China
membangun peta jalan industri nya.
"Kami ingin mempelajari bagaimana mereka membangun peta jalan industri
nya. Dalam hal ini Bappenas akan terlibat, agar kita tidak mengulangi
kesalahan negara lain dalam membangun industrinya. Industri ini kan
berkembang pesat, sekarang sudah memasuki era 4.0 jadi kita lakukan ini
agar kita sudah memiliki acuan sehingga tidak ada kekeliruan," ujar
Menko Luhut.
Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Ahmad Buchori
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com