Laporan Keuangan Garuda Janggal, Ini Keberatan Dua Komisaris
Reporter:
Francisca Christy Rosana
Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Kamis, 25 April 2019 09:35 WIB
Jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan maskapai Ethiopian
Airlines ketika bertolak menuju Nairobi, Kenya, pada 10 Maret 2019
membuat sejumlah negara memutuskan untuk melarang Boeing 737 Max 8
beroperasi kembali, salah satunya yakni pada Maskapai Garuda Indonesia.
TEMPO/Rully KesumaJatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan
maskapai Ethiopian Airlines ketika bertolak menuju Nairobi, Kenya, pada
10 Maret 2019 membuat sejumlah negara memutuskan untuk melarang Boeing
737 Max 8 beroperasi kembali, salah satunya yakni pada Maskapai Garuda
Indonesia. TEMPO/Rully Kesuma
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Dua komisaris PTGaruda
<https://bisnis.tempo.co/read/1198745/pendapatan-garuda-usd-437-m-tertinggi-dalam-16-tahun-terakhir>Indonesia
Tbk, Dony Oskaria dan Chairal Tanjung, enggan meneken laporan tahunan
perseroan untuk tahun pembukuan 2018. Keduanya menyatakan ada
kejanggalan dalam penyusunan laporan yang mencatatkan untung hingga US$
809.846 atau setara Rp 11,5 miliar sepanjang tahun itu.
*Baca: *Garuda Indonesia Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris
<https://bisnis.tempo.co/read/1198907/garuda-indonesia-rombak-jajaran-direksi-dan-komisaris>
Dony dan Chairal, yang merupakan wakil PT Trans Airways dan Finegold
Resources Ltd selaku pemilik 28,08 persen saham Garuda Indonesia,
menyatakan keberatan karena perseroan telah memasukkan pendapatan
piutang ke dalam laporan keuangan. Sikap ini memicu perbedaan dalam
rapat umum pemegang saham tahunan atau RUPST yang digelar di Hotel
Pullman, Jakarta, Rabu, 24 April 2019.
Melalui sebuah surat bertanggal 2 April yang salinannya diperoleh awak
media, Chairal dan Dony menyatakan Garuda Indonesia telah memasukkan
pendapatan piutang hasil kerja sama PT Mahata Aero Teknologi dan PT
Citilink Indonesia. Adapun Citilink adalah anak usaha Garuda Indonesia.
Kerja sama yang diteken pada 31 Oktober 2018 untuk layanan konektivitas
ini mencatatkan piutang sebesar US $ US$ 239.940.000. Dari jumlah itu,
US$ 28 juta di antaranya merupakan bagi hasil dengan PT Sriwijaya Air.
Masuknya komponen pendapatan piutang dalam laporan tahunan membukukan
laba sebesar US$ 5,018 juta.
Dua tangan kanan Chairul Tanjung--bos CT Corp yang
menaungi Trans Airways--ini menyatakan piutang seharusnya tidak masuk
dalam pos pendapatan tahunan. Berikut ini gambaran isi surat yang
dinukil Tempo dari dokumen salinan tersebut.
1. Pertimbangan
* Laporan keuangan tahunan GIA disebut bertentangan dengan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 23 yang menyatakan
pendapatan harus diukur dengan pendapatan tetap atau jaminan yang
tidak dapat dikembalikan dalam suatu kontrak yang tidak dapat
dibatalkan.
* Menilik perjanjian dengan Mahata, hingga laporan dirilis, dua
komisaris menyebut salah satu pertimbangan keberatan mereka adalah
belum adanya pembayaran yang dilakukan, meski telah ada realisasi
pemasangan layanan satu unit alat konektivitas di Citilink.
2. Dampak
* Menurut Chairal dan Dony, laporan ini akan “menyesatkan” publik
karena Garuda Indonesi mencatatkan kerugian signifikan menjadi laba.
“Terlebih perseroan adalah perusahaan publik atau terbuka,” keduanya
dalam tulis surat itu.
* Ada potensi perubahan laporan keuangan yang dapat merusak kredibilitas.
* Menyebabkan adanya beban arus kas atau cashflow.
Meski surat keberatan telah dilayangkan, Garuda Indonesia tidak mengubah
laporan keuangannya untuk 2018. Namun laporan keuangan itu menorehkan
catatan dua opini.
ADVERTISEMENT
Surat keberatan juga tidak dibacakan langsung oleh pimpinan rapat dalam
RUPST. Surat tersebut hanya dicantumkan dalam laporan tahunan, yang
selanjutnya diterima oleh seluruh pemegang saham Garuda Indonesia.
Menanggapi silang opini terkait laporan keuangan itu, Garuda Indonesia
telah bersurat kepada Otoritas Jasa Keuangan. Garuda menjelaskan
transaksi perjanjian mereka dengan Mahata dan Citilink telah kelar
diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Independen Tanubrata utanto Fahmi
Bambang & Rekan BDO.
*Baca:* Laporan Keuangan Garuda Indonesia Disebut Tidak Sesuai Standar
<https://bisnis.tempo.co/read/1198995/laporan-keuangan-garuda-indonesia-disebut-tidak-sesuai-standar>
“Sebagaimana memberikan pendapat wajar atas semua hal material, yang
telah sesuai dengan Laporan Auditor Independen. Surat kepada OJK ini
dikeluarkan pada 4 April 2019 dan ditandatangani oleh Direktur Human
CapitalGaruda <https://www.tempo.co/tag/garuda>Indonesia Heri Akhyar.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com