Bung Iqbal, baru saya mengerti, ... kalau begitu harus dikatakan pemerintah setempat yg tidak tanggap, hanya bisa menyalahkan warga tidak jaga kebversihan, tapi TIDAK memecahkan masalah sampah sehari-hari yg dihadapi warga. Dimana warga harus membuang sampah yg benar!

Salam,

ChanCT


[email protected] [GELORA45] 於 29/4/2019 14:44 寫道:

Halo Bung Djie,

Membobol tanggul bukanlah pekerjaan yang mudah. Tetapi toh penduduk sekitar nekad melakukannya. Tujuan utama mereka tentu bukan karena iseng ingin merusak tanggul, atau iseng ingin mengotori sungai. Itu adalah side-effect. Tujuan utama mereka adalah hanya untuk bisa memindahkan sampah dari rumah mereka ke tempat lain.

Setelah tanggul dibobol, sekarang mereka memiliki tempat (sungai) untuk memindahkan sampahnya. Untuk memindahkan sampah ini, mereka juga harus berjalan entah berapa jauhnya dari rumah mereka ke bagian tanggul yg telah dibobol ini.

Seperti yang telah sy katakan sebelumnya, untuk membuang sampah sembarangan mereka toh memerlukan effort, yang biasanya lebih besar daripada orang yang lebih mampu, yang hanya perlu ke depan halaman untuk mindahkan sampahnya.

Di Jakarta, iuran bulanan sampah besarnya dimulai dari kisaran Rp. 100rb atau lebih. Jika punya usaha/toko/warung jelas lebih mahal. Inipun sampahnya tidak diambil setiap hari. Kalau mau diambil setiap hari tinggal kalikan saja iurannya berdasarkan frekuensi.

Penduduk miskin tentu tidak bersedia membayar iuran sampah ini. Apalagi yang juga memiliki warung makan berarti harus membayar iuran di dua tempat. Yang tidak bersedia membayar tentu harus memindahkan sampahnya ke tempat lain misalnya dengan naik motor dan melemparkannya ke tanah kosong, atau trotoar, su ngai terdekat, atau sekali-kali meletakannya di tempat sampah orang lain.

Yang beruntung warungnya bersebelahan dengan sungai atau selokan ya tentu dibuang ke saja sana.

Pemerintah Daerah mampu memberikan subsidi ratusan ribu untuk anak usia sekolah dari keluarga miskin. Seharusnya tidak masalah menambahkan sekitar 100rb per keluarga sebagai subsidi sampah agar sampah mereka bisa diambil seperti sampah dari keluarga yang lebih mampu. Tetapi entah kenapa ini tidak dilakukan.

Jadi membuat sungai sebersih apapun tidak ada gunanya kalau penduduk miskin menemukan kesulitan membuang sampah di tempat yang seharusnya.










---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

Bung Iqbal,
Terimakasih uraiannya. Saya pernah nginap di rumah teman di Bekasi.
Pagi2 saya jalan2, sampai dekat sungai, tetapi dari jalanan, saya tidak bisa lihat sungainya karena ada tanggul yang tinggi. Tiba2 saya lihat ada bagian tanggul yang dibobol. Jadi saya ke sana, lihat air sungai mengalir begitu deras,
tetapi juga sampah2 yang dibuang ke sungai lewat tanggul yang dibobol.
Jadi di s ini ada dua "kejahatan". 1. Tanggulnya yang kokoh justru dibobol untuk buang sampah. Lha kalau terjadi banjir, kan airnya meluap lewat bobolan tanggul. 2. Sampah yang dibuang akan memperlambat aliran sungai, yang akan naik, bisa
menyebabkan banjir.
Kalau di negeri Belanda, tanggulnya tinggi tetapi juga lebar kuat, sekalian jadi jalanan mobil 2 arah. Antara tanggul dan air sungai ada tanah miring. Di situ
rumput tumbuh dan domba dilepas. Kalau air naik, domba2 dikandangkan.
Besok saya sambung. Tahu2 sudah hampir jam 3 pagi. Mau coba tidur, meskipun
belum ngantuk.
Salam,
KH


Pada tanggal Min, 28 Apr 2019 pukul 21.46 iqbalsantoso@... <mailto:iqbalsantoso@...> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>> menulis:



        Pemerintah tidak menyediakan fasilitas pembuangan sampah
        dengan memadai terutama untuk rakyat kecil.

        Tidak sedikit orang kampung (yang rumahnya tidak b ersebelahan
        dengan sungai) harus mengendarai motor hanya untuk meletakkan
        bungkusan kantong plastik sampah di trotoar, melemparkannya ke
        tanah kosong, atau melemparkannya ke sungai terdekat. Meskipun
        membuang sampah secara sembarangan, mereka memerlukan effort
        juga untuk melakukannya.

        Rumah yang memiliki tempat sampah terbuka di luar tentu sering
        menemukan sampah yang bukan miliknya. Ini artinya yang
        "numpang" membuang sampah menemukan kesulitan untuk membuang
        sampahnya. Masih untung juga ybs membuangnya di tempat yang
        "benar" bukan di trotoar atau di sungai.
        *
        *
        *Ada tempat rekreasi yang namanya Taman Bunga Nusantara.
        Terakhir kali kesana beberapa tahun yang lalu tempat ini amat
        sangat bersih. Tidak ada satupun sampah ditemukan di jalan
        penelusuran. Sampah sekecil apapun tidak ditemukan. Setelah
        beberapa saat ternyata ada sebabnya. Tempat sampah banyak
        sekali ada dimana-mana, mungkin setiap sepuluh meter bisa
        ditemukan satu tempat sampah. Dengan demikian pengunjung
        dengan mudah bisa membuang sampah pada tempatnya.*
        *
        *
        *Jika membuang sampah di tempat yang benar lebih mudah atau
        semudah membuang sampah sembarangan, tentu semua orang akan
        membuang sampah di tempat yang benar.
        *
        *
        *
        *
        *
        *
        ---In [email protected]
        <mailto:[email protected]>, <bhjo@...> wrote :

        Yg selalu disalahkan adalah pemeri ntahnya. Padahal rakyatnya
        juga yg menyebabkan banjir and airnya kotor dgn membuang
        sampah sembarangan dll.  Percuma saja, sungai di bersihkan
        kalau di kotori oleh rakyat/penduduk terus.

        *

**
*

*


---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke