https://mediaindonesia.com/read/detail/233207-tkn-kemenangan-jokowi-amin-tinggal-menanti-pengumuman-resmi-kpu/
/
//
/*TKN: Kemenangan Jokowi-Amin Tinggal Menanti
*/
/*Pengumuman Resmi KPU*/
Penulis: *mediaindonesia.com* Pada: Kamis, 02 Mei 2019, 22:30 WIB Podium
<https://mediaindonesia.com/podium>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/233207-tkn-kemenangan-jokowi-amin-tinggal-menanti-pengumuman-resmi-kpu>
<https://twitter.com/home/?status=TKN: Kemenangan Jokowi-Amin Tinggal
Menanti Pengumuman Resmi KPU
https://mediaindonesia.com/read/detail/233207-tkn-kemenangan-jokowi-amin-tinggal-menanti-pengumuman-resmi-kpu
via @mediaindonesia>
TKN: Kemenangan Jokowi-Amin Tinggal Menanti Pengumuman Resmi KPU
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/05/eb693eb678b2143d0ca756d8e04154ee.jpg>
/Dok: kpu.go.id/
HASIL HITUNG SUARA PEMILU PRESIDEN & WAKIL PRESIDEN RI 2019
DENGAN data/real count/ Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang hingga Kamis
(2/5) pukul 17.30 WIB yang telah mencapai 62,30% dan pasangan calon
Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 tetap memimpin perolehan suara
dengan perbandingan 55,99%-44,01%, maka kemenangan Joko Widodo-Ma'ruf
Amin tinggal menanti pengumuman resmi pada 22 Mei mendatang.
Hal itu dikatakan Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional
(TKN) Jokowi-Amin, Usman Kansong, saat jumpa pers dengan awak media di
Media Centre TKN, Rumah Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (2/5).
Data yang tertera di laman resmi KPU itu tidak jauh berbeda dengan data
/real count/ yang tersaji di War Room TKN yang menunjukkan bahwa
Jokowi-Amin mendapatkan 53.867.700 suara atau 55,48%, sementara paslon
nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga meraih 43.185.376 suara atau 44,52%.
"Selisih dua digit, atau lebih dari 10 juta suara, serta hanya ada
perbedaan tipis antara /real count /KPU dan milik TKN, menunjukkan bahwa
Jokowi-Ma'ruf Amin sudah menang. Kita tinggal hanya menunggu formalitas
pengumuman dari KPU. Semua hasil /quick count /dari berbagai lembaga
survei, ditambah /real count/ KPU dan data tabulasi kami ini sekaligus
membantah data BPN yang menunjukkan bahwa mereka menang 62%," jelas Usman.
Bukti kebohongan dan kejanggalan data BPN dan kubu 02 dicontohkan Ustam
terjadi di Lampung. /Real count/ pihak BPN hanya dilakukan pada 30 TPS
dari total lebih 26.000 TPS. Begitu pula di DKI Jakarta. BPN hanya
menghitung/real count /di 300 TPS, sementara di ibu kota terdapat lebih
dari 29.000 TPS.
Sementara di Riau,/real count/ kubu 02 hanya dilakukan di 145 TPS dari
sekitar 17 ribuan TPS dan di Bangka Belitung,/real count
/Prabowo-Sandiaga hanya dilakukan pada 2 TPS dari jumlah 3.804 TPS.
"Kemarin kami menerima 25.000 pengaduan, sebanyak 14.000 diantaranya itu
terkait dengan kecurangan yang menguntungkan 02 dan tentu merugikan
pihak kami. Jadi pantas jika mereka mengklaim menang 62% karena data
sangat sumir diperoleh dari TPS-TPS yang hanya memenangkan mereka. Data
kemenangan 02 ini jelas membodohi dan membuat rakyat irasional. Pekan
ini hal itu diamplifikasi melalui narasi kecurangan dan dimainkan
melalui ijtimak ulama," jelas Usman.
Oleh karena itu, pihak TKN berharap masyarakat jangan terpecah belah
oleh kegiatan yang tidak dilandasi ketentuan hukum yang berlaku. Jika
BPN mempunyai bukti, TKN mempersilahkan untuk menyampaikan ke Bawaslu.
*Baca juga:* Bawaslu Galang Dana untuk Penyelenggara Pemilu
<https://mediaindonesia.com/read/detail/233195-bawaslu-galang-dana-untuk-penyelenggara-pemilu>
"Jangan hanya berhenti pada ijtimak ulama. Lapor saja ke Bawaslu
sebagaimana kami juga menyampaikan indikasi kecurangan 02 maupun
kecurangan-kecurangan lain kepada Bawaslu," lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Benny Ramdany, Direktur Kampanye TKN, menyatakan
tugas-tugas keulamaan adalah mendinginkan dalam situasi yang panas dan
menyatukan jika ada situasi perpecahan.
"Kita sudah punya Undang-Undang Pemilu Nomor 7 Tahun 2017. Soal
kecurangan pelanggaran dalam pelaksanaan Pemilu itu ada koridornya dan
saluran hukumnya seperi Bawaslu dan MK," tambahnya.
Benny menambahkan, tindakan dan pernyataan yang dilontarkan kubu 02
sejak Pemilu 17 April lalu hingga kini selalu penuh dengan paradoks.
"Pertama mereka mengatakan KPU berpihak. Kedua mereka mengatakan menang,
tapi di sisi lain berteriak bahwa Pemilu curang. Sekarang lewat ijtimak
ulama, kubu 02 merengek minta agar KPU mendiskualifikasikan 01. Saya
berharap, masyarakat luas melihat hal ini, lalu bisa menimbang siapa
sebenarnya yang tidak konsisten. Padahal, berdasarkan banyak survei
pasca-Pemilu, banyak masyarakat terpuaskan dengan pelaksanaan Pilpres
dan Pileg 2019," tambah Benny.
Berdasarkan data survei Litbang Kompas, partisipasi masyarakat mengikuti
pemilu menunjukkan persentase yang tinggi, 81,78%. Dari jumlah itu,
sebanyak 84% menyatakan pemilu berjalan tidak ada hambatan dan percaya
dengan hasil resmi perhitungan suara yang digelar KPU. (RO/OL-1)