https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1510-setengah-isi
/*Setengah Isi*/
Penulis: *Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group* Pada: Sabtu, 04 Mei
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1510-setengah-isi>
<https://twitter.com/home/?status=Setengah Isi
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1510-setengah-isi via
@mediaindonesia>
Setengah Isi
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/05/745739229962072d1e2e398543b5e530.jpg>
/MI/
Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
KUNJUNGAN ilmuwan asal Mesir Prof Ismail Serageldin ke Indonesia pekan
lalu membuka wawasan kita. Betapa dunia berkembang dengan pesat dan kita
harus mampu untuk menyesuaikan. Kunci untuk bisa bertahan dalam
perubahan ialah sikap optimistis.
Menurut Ismail, Islam sejak awal mengantisipasi perubahan, termasuk
dalam bidang keuangan. Khalifah Umar bin Khattab merupakan sosok yang
visioner. Empat tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Umar sudah
mengingatkan, ‘things have changed’. Umat Islam harus mampu melakukan
perubahan dengan tetap berpegang kepada Alquran dan hadis.
Di masa kepemimpinan Umar, Islam mencapai puncak kejayaan. Umat Islam
berpikiran sangat terbuka dengan menguasai ilmu pengetahuan, matematika,
dan kimia. Khalifah Umar merupakan orang yang merumuskan pembentukan
Baitul Mal, lembaga yang mengelola pendapatan negara.
Sikap seperti itulah yang harus ada pada diri kita. Kelemahan kita
selama ini selalu melihat persoalan dari sisi yang negatif. Kita lebih
suka melihat persoalan dari kacamata ‘setengah kosong’ daripada
‘setengah isi’.
Ismail Serageldin mengajak kita untuk tidak pesimistis ketika melihat
ekonomi syariah belum berkembang seperti yang diharapkan.
“Kalau perbankan syariah di Indonesia baru bisa mengelola 10% dari
potensi yang ada, Anda justru seharusnya melihat itu sebagai peluang.
Artinya masih ada ruang 90% yang bisa kita kembangkan dari perbankan
syariah di Indonesia,” kata Ismail mengomentari kondisi ekonomi syariah
yang masih kecil di Indonesia.
Keberanian untuk mengubah paradigma itulah yang harus kita lakukan. Kita
tidak bisa terus bersikap pesimistis. Setiap tantangan yang dihadapi
hanya dilihat sebagai beban, bukan dianggap sebagai peluang.
Sikap untuk selalu membesar-besarkan masalah membuat kita sulit untuk
maju. Apalagi, ketika kita sulit untuk melihat kemajuan. Setiap langkah
yang dilakukan bukan didorong untuk semakin maju, melainkan justru
ditahan untuk tidak dilakukan.
Kita lihat saja pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan. Sejak
era reformasi kita selalu mengeluhkan buruknya infrastruktur yang kita
miliki. Banyak pengusaha asing yang mengatakan, setiap kali ia datang ke
Jakarta, tidak ada perubahan yang berarti.
Tiga tahun terakhir kita melihat derap pembangunan yang berbeda sama
sekali. Di mana-mana kita melihat orang bekerja untuk mendirikan tiang.
Nyaris tidak ada waktu untuk istirahat. Siang-malam para pekerja bekerja
untuk mempercepat pembangunan agar tidak lama menciptakan kemacetan.
“No pain, no gain.” Kita harus membayar keinginan untuk mendapatkan
infrastruktur yang lebih layak dengan kemacetan yang harus kita hadapi.
Namun, kita lihat sekarang ketika jaringan mass rapid transit misalnya,
selesai dibangun dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia. Kita
bukan hanya mempunyai pilihan untuk bisa bepergian dari Lebak Bulus ke
Bundaran HI, melainkan juga jalan di bawah maupun di atas jalur MRT
sudah tertata rapi kembali.
Coba kalau akhir tahun ini tol layang Jakarta hingga Cikampek selesai
dibangun, perjalanan ke Bandung dan juga Surabaya akan bisa cepat
ditempuh masyarakat. Ketika mudik Lebaran nanti, pasti masyarakat akan
merasakan manfaat dari Tol Jakarta-Surabaya karena bisa sampai ke kota
tujuan dengan lebih cepat.
Namun, masih banyak di antara kita yang berpikir sebaliknya. Mereka
justru menyuarakan hal yang negatif dari pembangunan infrastruktur yang
kita sedang lakukan. Mereka melihat sebagai penghamburan biaya, bahkan
ada yang mengatakannya memperbesar utang.
Kita ingin mengingatkan, bangsa ini harus bergegas untuk membangun
negara. Peluang emas yang kita miliki tidaklah lama. Setelah 25 tahun
nanti kita akan mengakhiri bonus demografi. Sesudah itu kita akan masuk
ke era aging society, masyarakat yang semakin berumur.
Ahli ekonomi dari Universitas Indonesia seperti Prof Dorodjatun
Kuntjoro-Jakti maupun Faisal Basri sering mengingatkan agar kita jangan
sampai ‘tua sebelum kaya’. Kita harus seperti bangsa Jepang yang
masyarakatnya tetap hidup sehat dan sejahtera meski usianya semakin tua.
Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya berpikir untuk hari ini.
Pembangunan yang kita lakukan sekarang merupakan investasi untuk jangka
panjang. Investasi bukan hanya untuk kita ketika kelak sudah semakin
tua, melainkan juga untuk anak-cucu kita. Tugas kita untuk memberikan
modal ekonomi dan modal sosial yang kuat agar generasi muda tinggal
memacu negara ini ke arah kemajuan.