Kalau garis  keras berasal dari garis lembut, dan garis lembut ini tidak
konsiten dan sewaktu-waktu berubah menjadi garis keras. Lihat saja pada
fatwa-fatwa yang dikeluarkan apakah yang barangkali dikenal sebagai garis
lembut bersuara menentang apa yang sebetulnya tidak perlu ada, contohnya
pengiriman laskar Jihad ke Sulawesi Tengah dan Maluku. Garis lembut yang
mana yang  menentang atau resmi bersuara mentang pengriman tsb? Pengebrekan
kaum Siya di Madura dan Lombok mana ada suara partai-partai langitan yang
menentang.  Pemboman di Surabaya pada permulaan tahun lalu , apakah para
lembut-lembut itu membuka suara secara organisasi?

Kirim email ke