Ya, sudah jadi tradisi sejak jaman Bu Tien, dengan tien procentnya.....
Pejabat minta suap. Tidak mau beri suap, tidak dapat project.
Jadi yang dapat project pasti nyuap ?
Di negeri Belanda lain lagi. Tidak disuap waktu dapat project.
Selesai project, diberi terimakasih dan diberi uang puluhan ribu.
Yang terima, orang asal Indonesia, yang pernah belajar Di Eropa Timur
jadi kaget, menolak.
Omong-omong dengan koleganya, justru dia yang ditertawai.
Biasa begitu. Kamu kan tidak disuap oleh dia. Hanya dia mengharapkan
lain kali dapat project dari kamu lagi..............karena sudah ada
hubungan
baik.

Pada tanggal Sel, 7 Mei 2019 pukul 18.17 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
>
>
> https://kolom.tempo.co/read/1201150/korupsi-proyek-infrastruktur-di-timur/full&view=ok
>
>
> Korupsi Proyek Infrastruktur di Timur
> Oleh : Emilianus Yakob Sese Tolo
> Kamis, 2 Mei 2019 07:30 WIB
>
> Emilianus Yakob Sese Tolo
> *New Mandala Indonesia Fellow, Australian National University’s College of
> Asia and the Pacific, Canberra, Australia*
>
> Proyek infrastruktur pemerintah, baik yang dibiayai oleh dana desa maupun
> anggaran pemerintah provinsi dan pusat, cenderung dikorupsi oleh para
> politikus dan birokrat di Indonesia timur. Di Flores, misalnya, Petrus
> Kanisius, mantan Kepala Desa Runut, Kabupaten Sikka, dipenjara 3 tahun
> karena melakukan korupsi sekitar Rp 379 juta dari dana desa pada 2017.
> Selain itu, menurut seorang kontraktor di Flores, seorang kontraktor proyek
> selalu diminta memberikan 10 persen dari total nilai proyek, entah kepada
> bupati, Ketua DPRD, atau kepala dinas, sebelum mendapat kontrak proyek
> infrastruktur tertentu. Dalam beberapa kasus, beberapa pejabat politik dan
> birokrat berbeda sama-sama menuntut pembayaran 10 persen dari total nilai
> satu proyek.
>
> Dampaknya, banyak pembangunan infrastruktur yang bermutu buruk. Sebuah
> gedung perkantoran di Kecamatan Boawae, Flores, misalnya, tidak digunakan
> setelah pembangunannya selesai dua tahun lalu. Para pegawai mengaku takut
> menggunakannya karena kualitas gedung yang buruk. Sementara itu, di Borong,
> Flores, jalan yang menghubungkan Desa Lehong dan Peot, yang dibangun dengan
> biaya Rp 9 miliar, hanya digunakan selama satu tahun, lalu rusak oleh hujan
> deras pada 2017. Demikian pula, pada Desember 2018, jalan yang
> menghubungkan Desa Bugis, Cambir, dan Sola di Kabupaten Manggarai Timur
> sudah dalam kondisi buruk setelah digunakan selama satu bulan saja.
>
> Banyak contoh proyek infrastruktur, seperti jalan dan jembatan, yang
> sengaja dibangun selama atau dekat musim hujan agar jika bangunannya rusak,
> yang dipersalahkan adalah alam, seperti hujan dan banjir. Pemerintah daerah
> kemudian memiliki alasan untuk meminta dana pembangunan baru ke pemerintah
> pusat untuk memperbaiki bangunan yang rusak itu. Biasanya, anggaran baru
> ini lebih tinggi dari sebelumnya. Di Kabupaten Lembata, misalnya,
> pemerintah daerah membangun jembatan di Waima dengan biaya Rp 1,6 miliar.
> Ketika jembatan runtuh karena banjir, pemerintah daerah meminta dana Rp 30
> miliar untuk membangunnya kembali.
>
> Mengapa korupsi proyek infrastruktur merajalela di Indonesia timur? Hal
> ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pers yang tidak kritis, media
> sosial digital yang kurang berkembang, dan masih kentalnya budaya permisif.
>
> Di sana, tidak sulit untuk membeli pengaruh di media. Media lokal jarang
> mengkritik pemerintah. Namun masyarakat pun tidak dapat mengandalkan media
> nasional, yang sangat Jakarta-sentris. Sebab, media nasional, seperti yang
> ditulis Ross Tapsell (2018: 119) dalam Kuasa Media di Indonesia: Kaum
> Oligarki, Warga dan Revolusi Digital, hanya memberikan 10-20 persen konten
> lokal dalam liputannya. Akibatnya, lembaga pemberantasan korupsi, seperti
> Badan Pemeriksa Keuangan dan Komisi Pemberantasan Korupsi, cenderung tidak
> mengetahui kasus korupsi di Indonesia timur.
>
> Media sosial digital juga belum berkembang dengan baik. Penetrasi
> Internet, menurut Tapsell (2018), hanya 25 persen di Indonesia timur. Di
> banyak wilayah, satu-satunya koneksi Internet yang dapat diandalkan adalah
> Telkomsel, yang jauh lebih mahal daripada provider lain di Jawa. Hal ini
> menyebabkan tidak semua orang di Indonesia timur bisa mengakses layanan
> Internet. Selain itu, ada banyak orang yang juga tidak memiliki ponsel.
> Akibatnya, masyarakat tak dapat secara maksimal menggunakan media digital
> yang sedang berkembang hari ini untuk mengontrol politikus dan birokrat
> korup.
>
> Korupsi juga disebabkan oleh norma budaya yang masih permisif terhadap
> korupsi. Ada kecenderungan umum di masyarakat untuk tidak melaporkan kasus
> korupsi. Seorang pejabat Badan Pengawas Pemilu di Flores mengatakan kepada
> saya bahwa lembaganya sangat menyadari permainan politik uang yang terjadi
> di kabupatennya. Namun, walaupun lembaganya mengetahui terjadi kecurangan
> seperti ini, mereka hanya akan membawa tindakan kecurangan itu ke ranah
> hukum jika media terus menekan mereka untuk melakukannya. Padahal politik
> uang adalah akar dari budaya korupsi di Indonesia timur.
>
> 
>

Kirim email ke