Tulisan sebangsa ini banyak bung Lin, kalau anda mau setiap kali terima bisa 
saya kirim keanda. 
 Mengkin juga yg bikin malah buzer Jokowi.
 

---In [email protected], <ehhlin@...> wrote :

 Bg JG, SANG TUKANG KAYU.
 Pertama  siapa pengarangnya,  indonesia dgn 200 juta penduduk tentunya punya 
cukup banyak "karyawan" yg bisa dgn  "karya" yg memuji Jokowi atau 
"menyerangnya" secara halus litjik ..... dgn kedok memuji justru untuk 
menyerang. Tulisan,karya "satu" mahluk manusia tak bisa seperti gebiar uyah 
dicap "ini membangun
 kultus" bagi sang tukang kayu Jokowi" , soalnya siaran karya itu laku atau 
tidak dan bagimana sambutan publik.
 Nah kalau sang karyawan tersembunyi itu ber initial G..bagimana ya???
 Maka apa G benar2 dgn tulus menyanjung sang tukang kayu Jokowi atau agar masa 
luas sebel terhadap Jokowi dn "pilih"pasangan no. 02.
 Bg JG "karya" itu ...terlalu nyolok memuji muji sang tukang kayu dan terlalu  
panjang untuk menarik perhatian masa,.....membaca seperempat aja bikin saya 
sebel.....coba bandingkan dgn lagu klasik zaman lalu..."pilihlah aku 
major...dst" ..kan lebih nyaman dn nikmat didengar atau dinyanyikan.
 Just another CIA trick?!
 Lin





 
 On 08-May-2019 9:56 AM, "jonathangoeij@... mailto:jonathangoeij@... 
[GELORA45]" <[email protected] mailto:[email protected]> wrote:
   
 Special for Chan tulalit.
 Contoh tulisan kultus individu, branding Jokowi dengan Yesus
 ---
 

 Sang Tukang Kayu
 

 Sang Tukang Kayu telah tampil
 Berangkat dari Kota Mempelai
 Hendak mempersunting Nusantara
 
 Untuk menjadi kekasih sejati
 

 Perawakannya lembut bagai air
 Sikapnya merendah mengalir ke bawah
 Kelembutannya melunakkan yang keras
 Kerendahannya menaklukkan yang kuat
 

 Sang Tukang Kayu dikira hendak naik
 Padahal ia turun menjejak jurang
 Beliau disangka hendak makin berkuasa
 Nyatanya melenggang hingga ke akar
 

 Supaya rumput tetap hijau subur
 Dan padangnya penuh kawanan domba
 Supaya terus limpah susu dan madu
 Di tanah pusaka para leluhur
 

 Sang Tukang Kayu tampil bersahaja
 Anak manusia dari kalangan beriman
 Rakyat lebih tertegun daripada terkagum
 Bukan karna wibawa namun karna denyut nurani
 

 Apa yang hendak diceritakan
 Justru akan makin banyak dilihat
 Apa yang hendak didengar
 Justru akan makin banyak dipahami
 

 Sang Tukang Kayu jernih penuh rasa 
 Tidak memaksa diri untuk maju
 Namun paham menangkap kesempatan
 Dan berjuang dengan jalan yang wajar
 

 Kadang ia mundur untuk maju
 Juga memberi untuk mengambil
 Mendengar untuk memimpin hingga
 Bobotnya terasa nyaman di pundak rakyat
 

 Sang Tukang Kayu tak mudah dirayu
 Namun jika perlu ia membujuk para musuh
 Supaya ada keamanan di seluruh negeri
 Tanpa rakyat menyadari jasa-jasanya
 

 Ia rela untuk tidak terlelap petang dan pagi
 Dari apapun yang dahsyat menimpa
 Ia setia untuk terus terjaga siang dan malam
 Dari siapapun yang gelap memburu
 

 Sang Tukang Kayu melaju bijak
 Bagai seorang resi begawan
 Bertutur, bertindak dan berdampak
 Sesuai dengan sandaran kepada Sang Mahakuasa
 

 Kehadirannya adalah satria yang ketujuh
 Dari enam satria pendahulunya
 Sama seperti kiprah Tuannya yang tampil
 Setelah Ibrahim, Yusuf, Musa, Yosua, Samuel dan Daud
 

 Sang Tukang Kayu beringsut pasti
 Menghadapi cemoohan para Barabas
 Yang memang barbar dalam tutur dan tingkah
 Yang dengungnya bikin rakyat berdenging
 

 Karena padanya ada sesuatu yang unik
 Ada sebuah pertukaran yang istimewa
 Di kala ia kelihatan berserah pada nasib
 Nasib bangsa malah diserahkan padanya
 

 Sang Tukang Kayu berlenggang jaya
 Bukan karena nasib namun takdir
 Untuk mengantar Nusantara tercinta
 Dari sebuah awal zaman baru
 

 Kepada puncak penggenapan nan jaya
 Yang adalah masa keemasan sejati
 Supaya para pewaris negeri ini
 Menikmati warisan dengan seutuhnya

 







Kirim email ke