https://news.detik.com/kolom/d-4542515/politik-wong-cilik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.61933348.988445927.1557425610-286002871.1557425610
Kamis 09 Mei 2019, 13:15 WIB
Kolom
Politik "Wong Cilik"
Sabiq Carebesth - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/sabiqcarebesth>
Sabiq Carebesth <https://connect.detik.com/dashboard/public/sabiqcarebesth>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4542515/politik-wong-cilik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.61933348.988445927.1557425610-286002871.1557425610#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4542515/politik-wong-cilik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.61933348.988445927.1557425610-286002871.1557425610#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4542515/politik-wong-cilik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.61933348.988445927.1557425610-286002871.1557425610#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4542515/politik-wong-cilik?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.61933348.988445927.1557425610-286002871.1557425610#>
Politik Wong Cilik Foto: Muhajir Arifin
*Jakarta* -
/Wong cilik/ rupanya memiliki mekanisme dan nalar politik yang tidak
bisa dikatakan kalah modern dari mereka yang umum disebut "elite" dalam
politik. Terbukti /wong cilik/ lebih punya daya rasionalitas sehingga
memiliki kemampuan kultural untuk menahan diri, juga rasionalitas dalam
mengedepankan kepentingan kewargaan-kebhinekaan.
Politik /wong cilik/ adalah politik kultural —dalam andaian ia bukan
eksistensi yang dilatarbelakangi semata sebagai eksistensi natural
sebagaimana pandangan Aristotelian (/Homo politicus/). Politik/wong
cilik/ juga tidak dalam praktik mengedepankan konfigurasi menang-kalah
atau kuat-lemah seperti andaian esensialisme Hobbesian.
Sebagai politik kultural ia adalah eksistensi yang mewujud dalam
konfigurasi politik praktis, tapi juga sekaligus dalam tujuan yang
transenden —sebab ia menyangkut nillai-nilai keluhuran atas nama
eksistensi negara-bangsa di mana /wong cilik/ menyelenggarakan "praksis"
politiknya yang khas. Ia tanpa panji-panji, tapi suaranya bisa
menentukan yang praktis (kekuasaan).
Dalam pertunjukan drama politik sebagaimana berlangsung lima tahun ke
belakang dan memuncak pada setahun terakhir menjelang pilpres, /wong
cilik/ telah terbukti mampu menjalankan peran krusial politiknya. Yaitu,
memberi panggung bagi para lakon utama —umumnya mereka narsis dan tidak
stabil dalam kontrol emosi— karena kerap tuntutan peran sebagai "aktor
politik" lebih mendominasi kesadaran dan alam pikirnya ketimbang
eksistensi utamanya sebagai manusia dan warga suatu bangsa.
Kemenangan politik /wong cilik/ juga dalam andaian atas kemampuannya
dalam mengendalikan aktor-aktor politik yang berpotensi "keluar dari
skenario" yang mengharuskan mengutamakan persatuan bagi bangsa yang
bhineka ini. Supaya panggung tidak roboh dan teater republik kesatuan
tidak bubar.
Dengan caranya yang khas, /wong cilik/ adalah pengatur ritme dan penabuh
irama, yang hakikatnya menentukan, bahkan mengendalikan jalan dan puncak
dari pementasan politik demokrasi Indonesia saat ini. Dalam andaian
semacam itu, demokrasi politik sejatinya adalah tentang rakyat,
menyangkut kesadaran /wong cilik/ sebagai penentu irama dan ritme.
Tidak pernah, bagaimana pun tampaknya, /wong cilik/ bisa sepenuhnya
dikendalikan oleh para elite yang merupakan lakon di atas panggung utama
politik. Bahkan improvisasi dan dramatisasi bisa dengan mudah dilakukan
/wong cilik/; seketika mengelabui dan memberi kejutan, tapi selalu
akhirnya/wong cilik/-lah yang menentukan akhir cerita. Sekaligus
memastikan tujuan keindonesiaan dalam jalan yang benar.
*Tidak Disorot
*Usai cerita berakhir, /wong cilik/ tidak disorot oleh para awak media,
tidak dipuja oleh penonton, tidak dielu-elukan dan dibebani "amanat"
sebagaimana para pemain utama yang diharapkan bisa memainkan peran
terbaiknya bagi jalannya cerita keindonesiaan yang memuncak pada tujuan
Indonesia yang adil dan kokoh kebhinekaannya.
Tetapi jika para pemain utama gagal memainkan perannya, maka /wong
cilik/ dengan eksistensinya yang khas bisa seketika membuat
kebisingannya sendiri dan mengembalikan/setting/ cerita dan ruang publik
kepada apa yang mereka inginkan, yaitu kesejahteraan di atas budaya
kebhinekaan.
Usai tugas kebangsaannya ditunaikan, /wong cilik/ pada gilirannya
meminta "upah" kolektif mereka, yaitu kondisi kewargaan yang tertib
dalam tata laku hukum dan budaya yang memungkinkan mereka bisa menjalani
kehidupan dalam peran utama sebagai penanggung jawab harmoni sosial
dalam realitas kebhinekaan Indonesia.
Maka tiap upaya yang menghalangi politik /wong cilik/ untuk mendapat
tempat utama mencapai tujuannya akan berhadapan dengan spektrum politik
ala /wong cilik/ yang tidak siapa pun bisa menerka dan menakar
kekuatannya. Itulah kenapa politik /wong cilik/ bersifat kultural, sebab
ia tidak hanya eksistensi untuk praktis kekuasaan, melainkan juga spirit
dan transenden. Postulat "rakyat pasti menang" dalam sejarah memang tak
pernah terbantahkan.
*Bukan Perahu Retak
*Indonesia merupakan bangsa besar dengan reputasi sejarah sebagai bangsa
yang selalu mampu mengatasi potensi keretakan. Dinamika politik pilpres
hari ini harus dijadikan momentum untuk kembali memenangkan agenda /wong
cilik/, sebab toh itulah tujuan utama kita berdemokrasi.
Maka sudah sepantasnya, kalah-menang dalam kontestasi pemilu tidak
menghalangi peran baik yang bisa dimainkan baik oleh kalangan elite
maupun /wong cilik/. Politik harus memfasilitasi tujuan kultural
keindonesiaan yang utama, yaitu persatuan Indonesia. Dengan persatuan
itulah gotong-royong meneruskan proses berindonesia bisa didorong pada
tujuannya yang lebih maju.
Kita semua harus belajar, tak ada gunanya kekuasaan di hadapan realitas
kebangsaan yang retak. Kita semua akan tenggelam jika perahu
keindonesiaan dibiarkan retak dan terbelah. Itulah konteks memajukan
politik kebudayaan Indonesia.
*Sabiq Carebesth* /penyair dan penulis lepas/
*(mmu/mmu)
*
**