https://suara-islam.com/tragedi-pemilu-2019-sinyal-buruk-demokrasi/


*Tragedi Pemilu 2019 Sinyal Buruk Demokrasi*

 10 Mei 2019


Ramadhan semestinya disambut dengan suka cita. Namun, faktanya mendung
gelap masih menaungi negeri tercinta. Pasca kontestasi Pemilu 2019, bukan
hanya kecurangan yang semakin tampak brutal dan nyata. Meninggalnya ratusan
petugas KPPS juga masih menjadi misteri yang tak kunjung terang.

Menjadi rahasia publik meninggalnya 500 petugas KPPS menjadi pusat
perhatian, baik nasional maupun internasional. Media seperti *Bloomberg,
South China Morning Post, The Straits Times*, hingga *Sputniknews *bahkan
menyorot fenomena yang tak biasa ini.

Meninggalnya ratusan petugas KPPS tentu menjadi tragedi yang menyesakkan
dada. Mirisnya, fenomena janggal tersebut tak mendapat perhatian semestinya
dari pemerintah. Bahkan dianggap kejadian biasa, efek dari kelelahan akibat
perhitungan surat suara.

Faktor kelelahan yang dijadikan kambing hitam, justru berbuntut munculnya
kecurigaan. Alasan kelelahan sebagai penyebab kematian pun mendatangkan
penolakan dari dunia medis dan kedokteran. Yogi Prabowo, anggota Presidium
MER-C dalam konferensi pers di Sekretariat MER-C, Jakarta Pusat, Jumat
(3/5/2019), mengatakan kelelahan tidak bisa dijadikan kambing hitam
penyebab kematian. Ia menambahkan dalam dunia medis, kelelahan tidak bisa
dijadikan alasan kuat sebagai penyebab kematian. Alasan seperti itu hanya
pantas diutarakan oleh orang awam. (*indonesiainside.id
<http://indonesiainside.id>,* 3/5/2019).

Pernyataan Yogi Prabowo senada dengan keterangan dr. Ani Hasibuan pada
program “Catatan Demokrasi” di *TVOne. *Dokter ahli syaraf tersebut menduga
ada unsur kelalaian dalam proses rekrutmen maupun proses lainnya yang
menjadi penyebab ratusan anggota KPPS tewas. Ia juga menduga ada misteri
penyebab kematian ratusan petugas KPPS. Sebagai dokter dan memiliki
kepekaan kuat atas insiden yang menimpa munculnya pembunuhan massal di
pesta demokrasi Indonesia, adalah sebagai bencana pembantaian. Ia pun
mengusulkan dilakukannya otopsi terhadap para korban penyelenggara Pemilu
2019 yang tewas. Karena peristiwa ini bukan kejadian yang wajar.

Dari investigasi yang dilakukan di Yogyakarta, dr. Ani Hasibuan
mengungkapkan tidak ada kaitan kelelahan dengan kematian anggota KPPS.
Artinya penyebab ratusan anggota KPPS tewas perlu diteliti lebih mendalam,
ini ada faktor X sehingga menjadi misteri. (*kabartoday.co.id
<http://kabartoday.co.id>*, 8/5/2019).

Berbeda sikap dengan dr. Ani Hasibuan yang prihatin dan menaruh perhatian
penuh terhadap misteri ini. Selevel presiden justru hanya mengucapkan bela
sungkawa untuk ratusan petugas KPPS yang meninggal di hadapan kepala daerah
pada Pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas)
Tahun 2019 di Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019).
Jika banyak pihak menganggap kontestasi Pemilu 2019 sebagai tragedi
demokrasi. Sebaliknya Presiden Jokowi menganggap Pemilu serentak 17 April
2019 telah berjalan lancar berkat kerjasama kepala daerah dan berbagai
pihak. (*merdeka.com <http://merdeka.com>*, 9/5/2019).

Miris dan ironis. Selevel presiden hanya dapat menyampaikan duka cita.
Tanpa diikuti dengan pengusutan misteri meninggalnya ratusan petugas KPPS.
Padahal satu nyawa melayang menjadi tanggung jawab penguasa di hadapan
Allah Ta’ala kelak. Apatah lagi ini ratusan nyawa yang menjadi tumbal
demokrasi.

Sementara di sisi Allah Ta’ala, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih
besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. Dari al-Barra’ bin Azib
radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda*, “Hilangnya
dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin
tanpa hak.”* (HR. Nasai dan Turmudzi). Sungguh sangat disayangkan, apabila
nyawa seorang Muslim harus hilang untuk sesuatu yang sangat tidak jelas.

Misteri ratusan petugas KPPS yang meninggal sebagai tragedi demokrasi juga
semakin menguatkan bukti. Bahwa demokrasi tak hanya membutuhkan biaya
tinggi, tapi juga diwarnai berbagai kecurangan yang menimbulkan korban
jiwa. Semua itu tak lain untuk meraih kekuasaan demi kepentingan para
kapitalis dan pundi-pundi rupiah.

Benarlah bahwa demokrasi telah menjadi alat untuk menghabisi dan merenggut
hak hidup manusia. Maka tidak salah jika John Adams mengatakan demokrasi
lebih berdarah ketimbang Aristokrasi atau Monarki. Dan ini bukanlah hal
yang mengagetkan mengingat Aristoteles dan Plato yang menjadi bidan
lahirnya demokrasi mengatakan bahwa demokrasi telah cacat sejak dari lahir.

Adalah sebuah pilihan cerdas meninggalkan demokrasi. Di satu sisi menjadi
pilihan terbaik di bulan Ramadhan yang mulia ini untuk kembali kepada
aturan Ilahi. Sebab hanya Islam yang mampu mengantarkan umat ke arah
perubahan hakiki. Ditempuh sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alayhi wa
Sallam contohkan. Serta dituntun oleh wahyu Ilahi demi tegaknya syariat
Allah Ta’ala di tengah umat. Inilah perubahan yang sebenar-benarnya menuju
kemaslahatan umat untuk menyambut tegaknya peradaban gemilang. *Insyaallah.
Wallahu’alam.*

*Ummu Naflah*
*Penulis, Member AMK*

Kirim email ke