Menkeu pastikan kebijakan APBN countercyclical untuk jaga pertumbuhan
Jumat, 17 Mei 2019 00:46 WIB
Menkeu pastikan kebijakan APBN countercyclical untuk jaga pertumbuhan
Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan konferensi pers APBN KiTa di
kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (16/5/2019). Realisasi defisit APBN
hingga 30 April 2019 mencapai Rp101,04 triliun atau 0,63 persen dari
Produk Domestik Bruto (PDB). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras. (ANTARA
FOTO/SIGID KURNIAWAN)
Kita tidak menyangkal, tapi tetap waspada terhadap berbagai risiko
maupun tantangan tersebut, dan melihat berbagai indikator yang ada
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan
adanya kebijakan APBN yang/countercyclical/atau mendukung adanya
stimulus bagi pertumbuhan dalam menghadapi dinamika kondisi global yang
melambat dan masih diliputi ketidakpastian.
"Strategi pemerintah menerapkan kebijakan/countercyclical/ini didukung
dalam kinerja positif APBN dari sisi pendapatan, belanja maupun
pembiayaan," kata Sri Mulyani dalam jumpa pers perkembangan APBN di
Jakarta, Kamis.
Sri Mulyani mengatakan APBN sebagai alat kebijakan fiskal bisa
memberikan stimulus ketika kondisi ekonomi dalam negeri menghadapi
tantangan global yang berpotensi menghambat kinerja pertumbuhan
sepanjang tahun 2019.
Hal itu telah dilakukan pemerintah untuk mendorong kegiatan ekonomi pada
periode Januari-April 2019 dengan melaksanakan program restitusi pajak
kepada masyarakat maupun badan usaha hingga total mencapai Rp62 triliun.
Selain itu, pemerintah juga menggencarkan pemberian bantuan sosial,
hingga 55,64 persen dari pagu, untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat miskin, yang dalam jangka pendek mampu menjaga tingkat
konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2019.
"APBN sebagai/fiscal tools/tidak berdiri sendiri, tapi juga mencerminkan
kondisi ekonomi. Melalui/countercyclical/kita jaga spending meski
pendapatan lemah. Kita tetap melaksanakan UU APBN sesuai rencana, meski
defisit melebar," ujarnya.
Sri Mulyani mengakui kebijakan countercyclical ini telah mempengaruhi
penerimaan pajak, terutama Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang tumbuh
negatif 4,3 persen dibandingkan periode April 2018 sebesar 14 persen,
karena kebijakan restitusi pajak.
Meski demikian, upaya stimulus ini, yang disertai pemberian insentif
bagi penguatan iklim investasi dan peningkatan kualitas pendidikan
vokasi, dapat memberikan sinyal positif terhadap perkembangan ekonomi
nasional ke depan.
"Kita tidak menyangkal, tapi tetap waspada terhadap berbagai risiko
maupun tantangan tersebut, dan melihat berbagai indikator yang ada,"
ujar Sri Mulyani.
Saat ini, perlambatan ekonomi dunia masih dipengaruhi berbagai isu,
seperti tingginya tensi perang dagang antara AS-China dan pelemahan
harga komoditas dunia, yang ikut mengganggu kinerja ekspor maupun impor
Indonesia di awal 2019.
Kondisi tersebut telah menyebabkan neraca perdagangan nasional pada
Januari-April 2019 mengalami defisit sebesar 2,56 miliar dolar AS dan
penerimaan pajak dari sektor pertambangan mengalami penurunan karena
berkurangnya permintaan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil
Nazara mengharapkan pertumbuhan ekonomi pada akhir 2019 dapat mencapai
5,3 persen sesuai asumsi, meski saat ini terdapat berbagai tantangan
eksternal.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, yang pada triwulan I-2019
tercatat mencapai 5,07 persen, Suahasil mengharapkan adanya perbaikan
kinerja investasi, terutama setelah pulihnya kepercayaan pemilik modal
usai penyelenggaraan pemilu.
"Harapannya investasi, melalui pemberian insentif, dan kepercayaan yang
lebih baik kepada ekonomi setelah pemilu. Semoga juga ada perbaikan dari
kondisi ekonomi global," katanya.
*Baca juga:Menkeu: APBN instrumen kebijakan untuk sejahterakan rakyat
<https://www.antaranews.com/berita/660883/menkeu-apbn-instrumen-kebijakan-untuk-sejahterakan-rakyat>
Baca juga:Kemenkeu terus pantau APBN terkait kondisi global
<https://www.antaranews.com/berita/608826/kemenkeu-terus-pantau-apbn-terkait-kondisi-global>*
Pewarta: Satyagraha
Editor: Ahmad Wijaya
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com