https://news.detik.com/kolom/d-4571812/dua-tantangan-berat-jokowi


mat 31 Mei 2019, 11:27 WIB
*Kolom* *Dua Tantangan Berat Jokowi*

Fuad Bawazier - detikNews

*Fuad Bawazier*
<https://news.detik.com/kolom/d-4571812/dua-tantangan-berat-jokowi#>

[image: Dua Tantangan Berat Jokowi]Presiden Joko Widodo (Foto: Istimewa)

*Jakarta* - Menurut saya isu yang paling harus diwaspadai sekarang ini
adalah ancaman disintegrasi bangsa yang bukan tidak mungkin akan
diintervensi asing. Pernyataan mantan Panglima GAM Sdr. Mualem dari Aceh
yang ingin memisahkan diri dari Indonesia jangan dianggap sepele, sebab ini
bisa diikuti oleh daerah-daerah lain. Termasuk yang dulunya kerajaan atau
kesultanan yang secara sukarela bergabung ke RI. Salah satu alasan utamanya
adalah karena di bawah Presiden Jokowi, Indonesia akan dikuasai asing (baca
China).

Saya menduga Sdr. Mualem dan banyak kalangan lain di Indonesia memang sudah
lama khawatir dengan masuknya tenaga kerja China yang di percayai cepat
atau lambat akan menetap di sini dan semakin mencengkeram Indonesia.
Sebelum hal itu terjadi, Aceh ingin memisahkan diri lebih dulu melalui
referendum seperti Timtim 1999.

Tantangan kedua adalah karena ekonomi dan keuangan negara (APBN) yang
sedang berat dan dalam tekanan yang luar biasa. Dalam 4 bulan ini
penerimaan pajak hanya naik 1% sementara targetnya dalam APBN naik 20%.
Makanya defisit APBN terus menggelembung, sehingga mau tidak mau harus
ditopang dari utang. Artinya tanpa utang, roda pemerintahan tidak jalan
karena kekurangan dana. Saya kira untuk Anggaran Rutin termasuk THR,
dibayar dari dana utangan. Dalam 4 bulan ini defisit APBN sudah mendekati
Rp 300 T.




Itulah sebabnya sudah sejak lama saya mengusulkan agar batasan utang tidak
semata mata diukur dari rasionya terhadap PDB, tapi yang lebih penting
adalah dari kemampuan APBN membayar yang diukur dari pemasukan negara dari
pajak. Kini, pertumbuhan utang lebih tinggi dari pertumbuhan penerimaan
pajak. Sementara itu pemerintah belum merumuskan terobosan darurat apa yang
perlu diambil selain dari menarik utang baru, masih
*business as usual.*
Jelas utang kita semakin membengkak dan berbunga mahal, dan cepat atau
lambat akan kesulitan mencari utang di pasar bebas, karena kreditur akan
was-was kalau-kalau pemerintah nantinya gagal atau kesulitan membayar
cicilan dan bunganya. Alasannya, sekarang saja utang-utang yang jatuh tempo
praktis dibayar dengan utang baru alias gali lubang tutup lubang. Untuk
menambah cadangan devisa dan menjaga nilai tukar rupiah, pemerintah juga
berusaha keras menarik utang barunya dalam valas.

Dalam waktu dekat ini, misalnya, pemerintah akan menerbitkan Samurai Bonds
sebesar 177 miliar Yen (sekitar USD 1,62 miliar). Tetapi ini juga membawa
risiko kurs karena ketika nilai tukar rupiah melemah berarti utang negara
dalam rupiah membengkak dan memerlukan uang pajak yang lebih banyak lagi
untuk membayarnya.

Sementara itu defisit transaksi berjalan pada 2019 ini (sampai dengan
April) sudah mencapai USD 7 miliar dan tampaknya akan terus memburuk
sejalan dengan geliat perdagangan internasional yang memburuk dan volume
ekspor-impor Indonesia yang cenderung defisit. Dalam April 2019 ini saja
defisit neraca perdagangan mencapai USD 2,5 miliar. Dengan demikian kurs
rupiah semakin melemah seperti kurs per 29 Mei 2019 yang mencapai di atas
Rp 14,400.

Mengingat besarnya barang-barang konsumsi yang berasal dari import,
semestinya inflasi juga akan meningkat. Memang mulai terasa ada tekanan
terhadap inflasi meski masih terkendali karena lemahnya daya beli
masyarakat. Tetapi *imported inflatio*n tetap akan terjadi.

Kesimpulannya, pemerintahan Jokowi agar tidak sibuk dengan politik semata
tapi perlu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap sektor ekonomi
dan keuangan negara (APBN) yang suram.

*Fuad Bawazier* *pengamat ekonomi*

Kirim email ke