https://news.detik.com/kolom/d-4573104/pancasila-dan-tantangan-milenial?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199271342.1447663909.1559413728-1501295201.1559413728
Sabtu 01 Juni 2019, 11:38 WIB
Kolom
Pancasila dan Tantangan Milenial
Mardiyanto - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/mardiyanto2323>
Mardiyanto <https://connect.detik.com/dashboard/public/mardiyanto2323>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4573104/pancasila-dan-tantangan-milenial?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199271342.1447663909.1559413728-1501295201.1559413728#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4573104/pancasila-dan-tantangan-milenial?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199271342.1447663909.1559413728-1501295201.1559413728#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4573104/pancasila-dan-tantangan-milenial?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199271342.1447663909.1559413728-1501295201.1559413728#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4573104/pancasila-dan-tantangan-milenial?tag_from=wp_cb_kolom_list&_ga=2.199271342.1447663909.1559413728-1501295201.1559413728#>
Pancasila dan Tantangan Milenial Presiden Jokowi pimpin upacara
Peringatan Hari Lahir Pancasila (Foto: Ray Jordan)
*Jakarta* -
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia merupakan
seperangkat nilai yang menjadi pandangan hidup (/way of life/) bagi
negara Indonesia. Kondisi itu meniscayakan bahwa fondasi bernegara dan
praktik kehidupan berbangsa dan bernegara harus berlandaskan nilai-nilai
yang terkandung di dalam Pancasila.
Konsensus cerdas para pendiri negara tersebut berangkat dari sebuah
paham kebangsaan yang terbentuk dari kesamaan nasib, sepenanggungan, dan
sejarah serta adanya cita bersama untuk menjadi bangsa yang bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur dalam sebuah negara kesatuan.
Adanya prinsip bersatu dalam perbedaan membuat Pancasila menjadi semakin
kuat dan layak sebagai sebuah ideologi bagi negara Indonesia yang khas
dengan keanekaragamannya. Konsep persatuan yang ideal dengan
mengkondisikan setiap warga negara hidup berdampingan dan gotong royong
tanpa menghilangkan identitas suku bangsa, adat istiadat, ras, ataupun
agama.
Dalam definisi tertentu, Pancasila sebenarnya Indonesia itu sendiri.
Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan spirit/ruh kebangsaan; Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab merupakan watak, karakter, dan kepribadian bangsa;
Persatuan Indonesia merupakan ikatan kebangsaan; Kerakyatan yang
Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
merupakan media/wadah dan alat kebangsaan; dan Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia merupakan tujuan kebangsaan.
*Masih Relevan
*
1 Juni 2019 menjadi penanda bahwa Pancasila sudah berusia 74 tahun.
Rentan waktu yang begitu panjang dan dinamika perkembangan masyarakat
Indonesia yang signifikan menimbulkan beberapa pertanyaan baru di
kalangan petinggi negara, akademisi, dan kita semua. Apakah Pancasila
masih relevan dengan kondisi negara dewasa ini? Apakah Pancasila masih
mampu menjawab setiap tantangan di era perkembangan teknologi, revolusi
industri 4.0?
Apakah Pancasila masih bisa menjadi bintang pemandu bagi rakyat
Indonesia, khususnya generasi milenial?
Kondisi negara Indonesia sudah sangat jauh berubah dari semenjak awal
kemerdekaan. Perkembangan dan perubahan adalah hal yang tidak bisa
dihindari sebagai prasyarat untuk mencapai kemajuan dan tujuan
kemerdekaan. Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah mendatangkan
manfaat sekaligus dan dampak buruk bagi masyarakat. Kemudahan,
kecepatan, dan efektivitas merupakan gambaran umum dampak kemajuan
teknologi.
Kemajuan teknologi yang tidak dikendalikan dan dikontrol akan
menghasilkan masalah baru yang dapat menghambat atau merusak suatu
negara. Generasi milenial adalah generasi yang sangat familier dengan
teknologi karena generasi ini lahir ke dunia di mana segala aspek fisik
(manusia dan tempat) mempunyai ekuivalen digital.
Di Indonesia populasi generasi milenial mencapai 90 juta jiwa. Itu
menandakan kelompok milenial mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap perkembangan dan kemajuan Indonesia. Ditambah dengan jumlah
aktivitas warga negara di dunia maya didominasi oleh anak muda milenial.
Generasi milenial menjadi penyokong utama peredaran informasi di dunia
virtual.
Pada waktu yang sama ancaman bangsa terus terus berkembang di setiap
bidang. Bidang ideologi (ancaman ekstremisme, paham radikal), bidang
politik (permasalahan pemilu, pejabat negara yang terjerat korupsi),
bidang ekonomi (kesenjangan yang masih tinggi), bidang sosial budaya
(pengangguran, kekerasan dalam rumah tangga), bidang pertahanan dan
keamanan (terorisme, konflik SARA, /ilegal fishing/). Revolusi industri
4.0 juga membawa/disruption and bridging generations/. Terdapat /gap/
antargenerasi dalam sebuah pola komunikasi sehingga terjadilah disrupsi
atau perubahan mendasar terhadap suatu realitas.
Fakta sosiologis di atas seolah menciptakan sebuah ilusi bahwa Pancasila
telah gagal menjawab setiap tantangan zaman. Kegagalan mendiagnosis
permasalahan yang ada menyebabkan lahirnya ide penyelesaian yang tidak
solutif dan memperburuk keadaan. Apabila kita melihat secara
komprehensif dan merasakan suasana kebatinan setiap masalah yang ada
maka sebenarnya yang terjadi adalah terdapatnya upaya untuk menggantikan
atau melunturkan Pancasila sebagai jati diri bangsa dan pegangan dalam
kehidupan bernegara. Sehingga internalisasi Pancasila dengan metode yang
tepat adalah solusi di tengah krisis nasionalisme yang terjadi saat ini.
*Menjawab Problematika
*
Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia merupakan sebuah
sistem nilai kebaikan universal yang bisa diterapkan dalam konteks
apapun baik pada masa hari ini, besok, dan masa yang akan datang. Itu
artinya Pancasila dengan basis filosofinya yang mendalam sebenarnya
mampu untuk menjawab setiap problematika yang ada.
Terdapat dua syarat agar Pancasila dapat beroperasi secara optimal dalam
masyarakat. Pertama, Pancasila harus terpahami dan terinternalisasi pada
setiap individu. Kedua, mampu menggunakan Pancasila sebagai alat
penyelesaian masalah.
Pancasila sebagai nilai universal masih sangat relevan dengan generasi
hari ini. Pancasila hanya perlu terinternalisasi dengan baik ke setiap
generasi yang ada khususnya generasi milenial yang akan menjadi salah
satu tokoh pergerakan kemajuan negara yang kita cintai ini.
Nilai-nilai ketuhanan, Indonesia adalah negara religius yang menjadikan
nilai-nilai religiusitas sebagai sumber etika dan spiritualitas dalam
bersikap tindak termasuk sikap tindak dalam dunia virtual. Menghargai
perbedaan agama dan kepercayaan dalam bermedia sosial akan menghantarkan
kesedepaan dalam kehidupan beragama. Tidak melontarkan konten penghinaan
atau menyudutkan agama dan kepercayaan tertentu membuat kehidupan
beragama menjadi tentram dan damai.
Nila-nilai kemanusiaan, memahami dan menghargai hak dan kewajiban setiap
orang dalam berselancar di dunia maya adalah salah satu ciri /netizen/
yang humanis. Tidak menyebarkan konten /hoax/ dan provokasi karena hal
tersebut merupakan tindakan yang tidak beradab.
Nilai-nilai persatuan, forum-forum dunia maya juga dapat dijadikan media
untuk memperkuat semangat nasionalisme. Memprioritaskan persatuan dan
kesatuan bangsa di atas kepentingan golongan atau pribadi saat diskusi
di forum-forum dunia maya. Selalu menjunjung tinggi bhinneka tunggal ika
dalam setiap perbedaan di dalam forum /online/.
Nilai-nilai musyawarah dalam hikmat kebijaksanaan, berlaku santun
terhadap setiap pandangan politik setiap orang dalam dunia maya. Ikut
serta menjalankan setiap keputusan yang dihasilkan melalui diskusi
online. Menyelesaikan setiap perdebatan di grup /online/ dengan
mengedepankan musyawarah.
Nilai-nilai keadilan sosial, setiap orang mempunyai hak dan kewajiban
yang sama untuk mengakses informasi dan berkumpul dalam
kelompok-kelompok dunia maya dengan tetap menghargai hak asasi manusia
setiap orang.
Oleh karena itu, di tengah krisis nasionalisme yang sedang melanda
negeri ini, Pancasila adalah cahaya penuntun untuk mengenal kembali jati
diri bangsa dan perekat untuk mempersatukan perbedaan. Semoga Tuhan yang
Maha Esa merahmati dan mencerahkan hati dan pikiran kita semua.
*Mardiyanto, S.H* /Ketua Umum Human Illumination DKI Jakarta, mahasiswa
Magister Hukum Universitas Pancasila, penggiat diskusi Pancasila/
*(mmu/mmu)
*
**