Islam transnasional itu yang bagaimana? Mengapa tidak disebutkan Wahabisme? hehehehheheheh
On Wed, Jun 5, 2019 at 3:01 AM Noroyono 1963 [email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote: > > > *Yaqut Cholil Qoumas* > *Ketua Umum PP GP Ansor* > > *Menjaga Rumah Pancasila dari* > *Ancaman Ideologi Islam Transnasional* > > *3 Juni 2019* > Di tengah sebagian besar masyarakat yang berjibaku mengatasi macet untuk > mudik ke kampung halaman, Sabtu, (1/6/2019) lalu, mayoritas aparatur sipil > negara (ASN) di seluruh nusantara mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila. > > Melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, Presiden Jokowi telah > menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Terhitung sejak 2017, 1 > Juni adalah hari libur nasional. Di luar perdebatan seputar kapan > kelahirannya, Pancasila sudah menjadi pilihan dan kesepakatan para pendiri > negara sebagai ideologi dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang > majemuk—tentu dengan proses dan perdebatan yang panjang. > > Konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan Sukarnon dalam > pidato “Lahirnya Pancasila” di sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan > Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) pada 1 Juni 1945. Dalam kesempatan > itu, Sukarno menyampaikan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka. > Pidato yang awalnya tanpa judul ini baru mendapat sebutan "Lahirnya > Pancasila" oleh mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata > pengantar sebuah buku berisi pidato yang dicetak BPUPKI. > > Disepakatinya Pancasila sebagai ideologi dan falsafah hidup bangsa juga > diterima Nahdlatul Ulama (NU). Pada Munas Ulama 1982, NU menerima Pancasila > sebagai asas dalam organisasi. Muktamar NU di Situbondo dua tahun kemudian > menyatakan Pancasila sudah final. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Rais > Aam Pengurus Besar NU KH Achmad Siddiq yang secara gamblang menyatakan > Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang menjadi asas bangsa > Indonesia. > > Hubungan Islam dan Pancasila dalam pandangan Kiai Achmad Siddiq bukan > berarti menyejajarkan Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. > Penyejajaran semacam itu dapat merendahkan Islam dengan ideologi atau > isme-isme tertentu.. Permasalahan ini muncul seiring isu yang berkembang di > kalangan umat Islam saat itu. > > Kiai Achmad Siddiq menegaskan bahwa Islam yang dicantumkan sebagai asas > dasar itu adalah Islam dalam artian ideologi, bukan Islam dalam artian > agama. Ini bukan berarti menafikan Islam sebagai agama, tetapi > mengontekstualisasikan Islam yang berperan bukan hanya sebagai jalan hidup, > tetapi juga ilmu pengetahuan dan tradisi pemikiran yang tidak lekang > seiring perubahan zaman. > > *Beberapa Masalah* > > Tantangan bangsa Indonesia belakangan ini kian besar. Setidaknya ada tiga > masalah besar yang tengah kita hadapi. *Pertama*, keberadaan sekelompok > kecil masyarakat yang ingin mengubah konsensus nasional, yaitu Pancasila, > UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Survei SMRC > <http://www.saifulmujani.com/highlight/4307>tahun 2017 menunjukkan > kenyataan ini. Meski terdapat 79,3 persen responden menyatakan bahwa NKRI > adalah yang terbaik bagi Indonesia, namun 9,2 persen responden setuju > apabila NKRI diganti menjadi negara khilafah atau negara Islam. > > Survei Alvara Research Center pada 2018 menunjukkan fenomena serupa. > Survei tersebut mendapati sebagian kalangan milenial atau generasi > kelahiran akhir 1980-an dan awal 1990-an menyetujui konsep khilafah sebagai > bentuk negara. Survei dilakukan terhadap 4.200 responden yang terdiri dari > 1.800 mahasiswa dan 2.400 pelajar SMA di seluruh Indonesia. > > *Baca juga: Setara Institute Sebut 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme > <https://tirto.id/setara-institute-sebut-10-kampus-terpapar-paham-radikalisme-d9nh>* > > Menurut survei Alvara, mayoritas milenial memang memilih Negara Kesatuan > Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara. Namun, ada 17,8 persen > mahasiswa dan 18,4 persen pelajar yang setuju khilafah sebagai bentuk > negara ideal. Alvara juga melakukan survei terhadap 1.200 kalangan > profesional. Sebanyak 15,5 persen dari kalangan ini menyepakati Islam > sebagai ideologi Indonesia. > Kedua survei tersebut memperlihatkan bahwa ideologi Islam transnasional > sangat dominan memengaruhi sikap dan pandangan sebagian kecil masyarakat > terhadap Pancasila dan NKRI sebagai ideologi dan bentuk negara. Sekelompok > masyarakat itu adalah Al-Ikhwanu al-Muslimun (IM) yang sejak 1980-an masuk > ke Indonesia dan berkembang di kampus-kampus negeri serta berkeinginan > mendirikan negara Islam. > > Selain IM, terdapat pula Hizbut Tahrir (HT) yang masuk Indonesia pada > kurun waktu yang sama, berkembang di kampus-kampus negeri, dan bercita-cita > mendirikan khilafah Islamiyah. Dari pengaruh mereka—IM dan HT—sekarang kita > bisa melihat gambaran sikap dan pandangan sebagian kecil umat Islam di > Indonesia yang menginginkan perubahan dasar dan bentuk negara. Setidaknya > itulah yang tercermin dalam survei SMRC dan Alvara. > > Masalah *kedua* adalah klaim kebenaran (Islam) sepihak. Sebagian kecil > umat Islam— yang biasa disebut “salafi” atau “wahabi”—menganggap gagasan > dan praktik keberislaman merekalah yang benar, sementara di luar kelompok > mereka adalah salah, sesat, kafir, musyrik, dll. > > Klaim kebenaran tersebut mulai marak di tengah-tengah muslim perkotaan.. > Salah satu cara yang ditempuh kelompok ini adalah mempromosikan konsep > hijrah. Narasinya kira-kira berbunyi seperti ini: sebelum ‘hijrah’ mereka > adalah orang-orang yang salah dalam berislam, namun setelah ‘hijrah’, orang > Islam selain dirinya adalah salah. Mereka sangat mudah menyalahkan dan > mengkafirkan orang lain yang berbeda pandangan. > > Bibit intoleransi di Indonesia salah satunya lahir dari ajaran > salafi/wahabi, yang bertentangan dengan sikap bangsa Indonesia yang serba > saling menolong, gotong royong, dan *teposeliro *terhadap orang lain. > > Kebencian dan permusuhan terhadap segala hal yang berada di luar diri dan > kelompok Islam transnasional ini semakin besar ketika mendapatkan landasan > teologis dari *nash-nash* ajaran Islam yang mereka pahami secara > serampangan. Dari situ muncullah cita-cita politik sektarian dengan > mengusung identitas Islam > <https://books.google.com/books/about/Radikalisme_agama_di_Jabodetabek_Jawa_Ba.html?id=vkWRngEACAAJ> > di > mana setiap sistem politik yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka > disebut thoghut,kafir, dan anti-Islam > <https://books.google.co.id/books?id=6vV3swEACAAJ&dq=Catatan+Hitam+Hizbut+Tahrir&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiC3rGal8riAhVCeH0KHbLSCVkQ6AEIKTAA)> > . > > Padahal, persoalan bentuk negara dan kepemimpinan dalam Islam, misalnya, sudah > lama selesai dibahas > <http://opac.fah.uinjkt.ac.id/index.php?p=show_detail&id=2297> oleh para > ulama *ahlussunnah waljamaah* yang otoritatif. > > Masalah *ketiga* adalah kalangan mayoritas yang cenderung diam (*silent > majority*). Meski kelompok yang menginginkan Pancasila sebagai ideologi > negara ditanggalkan jumlahnya tak signifikan, namun karena *silent > majority* yang hanya memilih ‘diam’ dan tidak bergerak ‘melawan’ dan > bersikap tak acuh, pengaruh propaganda khilafah pun meluas. > > *Narasi Kebencian* > > Ideologi politik Islam transnasional ini belakangan menjadi semakin > populer. Ada yang dibawa oleh tokoh-tokoh > <https://books.google.com/books/about/Radikalisme_agama_di_Jabodetabek_Jawa_Ba.html?id=vkWRngEACAAJ> > yang > memiliki hubungan dengan kelompok-kelompok politik Islam di luar negeri, > ada pula yang masuk ke dalam keyakinan seseorang melalui apa yang disebut > oleh Caroline Joan Picart sebagai *self-radicalization * > <https://www.cambridgescholars.com/american-self-radicalizing-terrorists-and-the-allure-of-jihadi-coolchic-2>(radikalisasi > diri). Proses yang terakhir ini terjadi ketika seseorang mengonsumsi > konten-konten yang mengandung ajaran radikal dengan kemauan sendiri tanpa > ada ajakan dari orang yang dikenalnya. > > Indonesia memang semakin terancam oleh sektarianisme yang disokong tafsir > radikal atas nama agama, baik yang dinyatakan lewat sikap politik, kegiatan > keagamaan, tindakan terorisme, ujaran kebencian, perilaku intoleran > terhadap sesama warganegara, hingga intimidasi terhadap kelompok lain yang > berbeda pendapat atau pilihan politik. > > Dengan keyakinan dan pemahaman radikalnya, para pengusung Islam Politik > ingin memaksakan pandangan dan keyakinannya kepada semua muslim di > Indonesia. Jika tidak mungkin dilakukan, maka mereka merasa berkewajiban > untuk mengambil alih kekuasaan dengan cara apapun, sehingga bisa menerapkan > sistem pemerintahan yang mereka anggap paling benar menurut Islam. > (Selengkapnya bisa dibaca di laporan kajian Hasyim Muzadi, anggota > Wantimpres, dalam *Pengaruh Jaringan Islam Lokal dan Trans-Nasional > Terhadap Instabilitas Negara*, Jakarta, Wantimpres, 2015, hlm. 104-108). > > *Baca juga: Pemilu 2019: Ketika Partai-Partai Islam "Merebut" Pancasila > <https://tirto.id/pemilu-2019-ketika-partai-partai-islam-merebut-pancasila-dgDY>* > > Masih menurut klaim kelompok ini, umat Islam yang merupakan mayoritas > penduduk Indonesia berhak menentukan bentuk negara dan sistem pemerintahan > yang diterapkan di Indonesia. Namun, mayoritas umat Islam di Indonesia > berpaham moderat > <https://news.detik.com/berita/d-3839810/survei-mayoritas-muslim-indonesia-antiormas-radikal-yang-pro-9> > dan > tidak pernah setuju dengan cita-cita politik yang dijajakan oleh ideologi > Islam politik. Karena tidak sejalan dengan cita-cita mereka, tak heran jika > kelompok Islam moderat menjadi sasaran ujaran kebencian dan berbagai macam > tuduhan. Bentrokan-bentrokan kecil tidak jarang terjadi di antara kedua > kubu. > > Sebagian pengamat dan peneliti telah menunjukkan keberadaan pihak-pihak > tertentu yang sengaja memancing kerusuhan untuk menciptakan ketidakstabilan > politik, sehingga mereka bisa melancarkan agenda politiknya. Beberapa aksi > politik kelompok-kelompok sektarian ini kerap sengaja digiring untuk > menciptakan kondisi politik > <https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-48329778> yang seolah-olah kacau > dan tak terkendali dengan tujuan > <https://tirto.id/investigasi-allan-nairn-ahok-hanyalah-dalih-untuk-makar-cm2X>melemahkan > pemerintahan yang sah. > > Sementara itu, masyarakat Indonesia yang tidak beragama Islam merasa > terancam dengan sikap dan tindakan kelompok-kelompok intoleran yang > mengusung ideologi Islam Politik ini. Sebutan “kafir” atau “non-pribumi” > yang ditujukan kepada kelompok minoritas agama dan etnis, serta kekerasan > verbal maupun fisik bermotif kebencian telah menghantui masyarakat > non-muslim Indonesia. Tak sekali dua kali mereka jadi korban. > > Dari kasus-kasus yang ada tentu kita bisa ingat: ketika kerusuhan sudah > terjadi dan meluas skalanya, baik muslim maupun non-muslim sama-sama bisa > menjadi korban. > > *Baca juga: Nahdlatul Ulama Didirikan untuk Membendung Puritanisme Agama > <https://tirto.id/nahdlatul-ulama-didirikan-untuk-membendung-puritanisme-agama-cDLL>* > > Dalam pengamatan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), > kelompok-kelompok pengusung politik identitas yang membawa nama Islam ini > sengaja menyebarkan konten-konten tertentu dengan bertujuan untuk > menanamkan pemahaman radikal. Mereka bahkan tak segan menggunakan > kebohongan dalam narasi-narasinya. Setidaknya ada empat macam narasi yang > disebarluaskan kelompok-kelompok ini untuk memperkuat politik identitas > sektarian. > > *Pertama*, narasi militansi yang mengajak orang untuk membenci orang lain > yang berbeda agama, ras, atau bahkan sekadar berbeda pendapat. > > *Kedua*, narasi terzalimi untuk meyakinkan orang bahwa eksistensi mereka > sedang terancam pemerintah dan kelompok tertentu. Yang diharapkan dari > narasi ini adalah kebencian dan perlawanan terhadap pemerintah atau > kelompok yang mereka anggap musuh. > > *Ketiga*, narasi intoleran yang dibuat dengan menggunakan kebohongan > tentang kelompok lain yang bersifat merendahkan, menghina, dan memusuhi. > Narasi ini disertai ajakan untuk membalas dan melawan. > > *Keempat*, narasi konspiratif yang berisi tuduhan bahwa pemerintah > bekerjasama dengan asing untuk menindas Islam, sehingga harus dilawan > dengan aksi kekerasan, termasuk tindakan teror. > > Meskipun tak jarang berbeda pendapat dan bertikai di kalangan mereka > sendiri > <https://kumparan.com/@kumparannews/polri-ungkap-perang-ideologi-antar-kelompok-teroris-di-indonesia>, > tetapi kelompok-kelompok intoleran di Indonesia menggunakan narasi-narasi > yang sama untuk mencapai tujuannya. Pancasila—yang selama ini diterima > sebagai jalan kemaslahatan hidup berbangsa dan mampu menengahi berbagai > macam perbedaan—akhirnya dijadikan musuh bersama. Padahal, kelahiran dan > disepakatinya > <https://books.google.co.id/books/about/Negara_Pancasila.html?hl=id&id=rIgNAQAAMAAJ&redir_esc=y> > Pancasila > sebagai dasar negara dan perekat berbagai macam perbedaan di dalam tubuh > Indonesia sudah melalui perjalanan panjang dan banyak pertimbangan. > > Rongrongan ideologi Islam transnasional terhadap Pancasila hari ini > semakin nyata. Sebagai bangsa, kita sedang diuji untuk bisa bersama-sama > merawat Pancasila sebagai satu-satunya asas dan—saya yakin—sebagai > *kalimatun sawa’ *alias titik temu antar suku, agama, etnis, ras, dan > ragam identitas lainnya. > > **) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak > menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id <https://tirto.id/>.* > > *Karena tak sejalan dengan cita-cita Islam politik,* > *Islam moderat di Indonesia menjadi * > *Sasaran ujaran kebencian.* > > *https://tirto.id/menjaga-rumah-pancasila-dari-ancaman-ideologi-islam-transnasional-d9qY > <https://tirto.id/menjaga-rumah-pancasila-dari-ancaman-ideologi-islam-transnasional-d9qY>* > > > >
