Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua
kepribadian dalam dunia politik.
Salam
Lusi.-




SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht

Oleh: Asyari Usman

Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri


APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah Bu Ani
terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak.

Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan dianjurkan
orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang yang meninggal
dunia.

Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, Pak PS
langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019.

“Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan jawaban
ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah mengoreksinya.
Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang yang akan
mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi masih
berkoalisi dengan Prabowo?

Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga bukan
masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya menjelaskan
kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu kebaikan yang sangat
besar.

Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS menceritakan
pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah yang
berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait pencapresan
Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis. Dalam arti, dia
tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya
“hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini.

Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat tidak suka
kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar sepenuh
hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS menceritakan
kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan pernyataan Prabowo
itu?

Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung
PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti Yudhoyono
(AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 ini
Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres.

Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh
Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir. Prabowo
terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama sekali terhadap
kemenangan Prabowo yang dirampok itu.

Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada
ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung menusuk
PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo. Betul-betul licik.
Tak bisa dipercaya.

Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY malah
ahli berbohong. Ahli bermunafik.

Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY tidak
mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti tambahan?
Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan Prabowo. SBY
berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia puja-puji Prabowo
sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau menerima keputusan KPU.

Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua anjuran
ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres itu. Itulah
yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul…

Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah tidak
membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi Prabowo.
Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo.

Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. Tapi,
koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo, sungguh
tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh, pilpres
sudah lewat.

Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia hanya
menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu

Kirim email ke