Ya, benar. Terimakasih. Mahfud merujuk Undang-undang nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu). Pasal 235 ayat 5 menyebutkan bahwa "*dalam hal partai politik atau Gabungan Partai Politik yang memenuhi syarat mengajukan Pasangan Calon tidak mengajukan bakal Pasangan Calon, partai politik bersangkutan dikenai sanksi tidak mengikuti pemilu berikutnya*". https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180731084516-32-318260/gelanggang-sby-atur-koalisi-demi-amankan-tiket-pilpres-2024
Pada tanggal Jum, 7 Jun 2019 pukul 16.24 Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > Saya sering baca partai lama yang tidak mencalonkan presiden pd pemilu > sekarang (2019) tidak boleh ikut pemilu berikutnya (2024). Jdnya Demokrat > harus ikut salah satu kubu capres bila mau maju pilpres 2024. > > > ---In [email protected], <djiekh@...> wrote : > > Ja, itu komentar saya. Yang tahu jawabannya, ya silahkan beri informasi. > > Pada tanggal Jum, 7 Jun 2019 pukul 10.48 'Lusi D.' lusi_d@... [GELORA45] < > [email protected]> menulis: > > Pertanyaan terakhir ulasan bung itu ditujukan kpd siapa? > > Am Fri, 7 Jun > 2019 10:14:45 +0200 schrieb "kh djie djiekh@... [GELORA45]" > <[email protected]>: > > > Kutipan : > > Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung > > PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti > > Yudhoyono (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019 > > ini Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres. > > Di mana ada aturannya AHJ tidak boleh mencalonkan diri apabila di > > pilpres 2019 > > ini partai Demokrat tidak masuk salah satu kubu capres ? > > > > Pada tanggal Jum, 7 Jun 2019 pukul 09.07 'Lusi D.' lusi_d@... > > [GELORA45] <[email protected]> menulis: > > > > > > > > > > > Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua > > > kepribadian dalam dunia politik. > > > Salam > > > Lusi.- > > > > > > SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht > > > > > > Oleh: Asyari Usman > > > > > > Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri > > > > > > APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah Bu > > > Ani terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak. > > > > > > Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan > > > dianjurkan orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang > > > yang meninggal dunia. > > > > > > Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, Pak > > > PS langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019. > > > > > > “Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan > > > jawaban ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah > > > mengoreksinya. Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang > > > yang akan mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi > > > masih berkoalisi dengan Prabowo? > > > > > > Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga > > > bukan masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya > > > menjelaskan kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu > > > kebaikan yang sangat besar. > > > > > > Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS menceritakan > > > pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah yang > > > berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait > > > pencapresan Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis. > > > Dalam arti, dia tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya > > > “hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini. > > > > > > Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat tidak > > > suka kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar > > > sepenuh hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS > > > menceritakan kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan > > > pernyataan Prabowo itu? > > > > > > Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung > > > PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti > > > Yudhoyono (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres > > > 2019 ini Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres. > > > > > > Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh > > > Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir. > > > Prabowo terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama > > > sekali terhadap kemenangan Prabowo yang dirampok itu. > > > > > > Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada > > > ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung > > > menusuk PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo. > > > Betul-betul licik. Tak bisa dipercaya. > > > > > > Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY malah > > > ahli berbohong. Ahli bermunafik. > > > > > > Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY tidak > > > mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti > > > tambahan? Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan > > > Prabowo. SBY berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia > > > puja-puji Prabowo sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau > > > menerima keputusan KPU. > > > > > > Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua anjuran > > > ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres itu. > > > Itulah yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul… > > > > > > Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah > > > tidak membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi > > > Prabowo. Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo. > > > > > > Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. Tapi, > > > koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo, > > > sungguh tidak etis.. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh, > > > pilpres sudah lewat. > > > > > > Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia > > > hanya menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu > > > > > > > > > >
