Saya pengin ketawa membaca tulisannya asyari usman ini. Yg katanya mantan 
wartawan dan lari kekubu Prabowo ini sangat suka menulis yg mboten2 ttg Jokowi, 
PDIP sampai2 PPP yg skrng lagi mendukung Jokowi juga jadi sasarannya. Dari 
masalah “PKI dikubu Jokowi” s/d “dungu itu takdir”, asyari usman terus ngobok2 
jokowi, PDIP dan simpatisannya. Alasannya apa? Sederhana fahamnya islam arab. 
Makanya asyari usman juga memaki istilah islam nusantara. Lucu kan? Koq islam 
nusantara dikritik, sedangkan NU, Muhammadiyah yg adalah wujud islam nusantara 
dari dulu sudah ada. Lebih lucu lagi si asyari usman ini bilang penyebaran 
islam nusantara dengan senam. Ini bukan lucu lagi, goblok namanya, koq bisa 
katanya membela islam, tetapi islam nusantara ditertawakan krn ada senamnya. 
Klaimnya: penyebaran islam nusantara menggunakan senam yg kayak taichi yoga 
pocho2 kali ya hehehehehehe

 

Ttg SBY dan mega itu dulunya mega masih benci sama SBY yg dianggap penghianat. 
Ini saja. Ini personal. Ttp setelah ani meninggal, silahturami terjadi dan 
bergabunglah democrat kekubu Jokowi. AHY akan menjadi sosok yg akan 
diperhatikan dipolitik Indonesia nantinya. AHY ini masih lebih beres dprd anies 
atau sandi.

 

Sayang sekali segitu banyak orang baek ttp kebanyakan duduk dipinggiran sambil 
menggerutu. Bener kata banyak orang system politik dan suasana politik yg baik 
dan benar itu mahal di Indonesia.

 

Nesare





 

From: [email protected] <[email protected]> 
Sent: Friday, June 7, 2019 10:20 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] kepribadian

 

  

 

Saya sering baca partai lama yang tidak mencalonkan presiden pd pemilu sekarang 
(2019) tidak boleh ikut pemilu berikutnya (2024). Jdnya Demokrat harus ikut 
salah satu kubu capres bila mau maju pilpres 2024.

 

 

---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <djiekh@.... 
<mailto:djiekh@...> > wrote :

Ja, itu komentar saya. Yang tahu jawabannya, ya silahkan beri informasi.

 

Pada tanggal Jum, 7 Jun 2019 pukul 10.48 'Lusi D.'  <mailto:lusi_d@...> 
lusi_d@... [GELORA45] < <mailto:[email protected]> 
[email protected]> menulis:

Pertanyaan terakhir ulasan bung itu ditujukan kpd siapa?

Am Fri, 7 Jun
2019 10:14:45 +0200 schrieb "kh djie  <mailto:djiekh@...> djiekh@... [GELORA45]"
< <mailto:[email protected]> [email protected]>:

> Kutipan :
> Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung
> PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti
> Yudhoyono (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres 2019
> ini Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres.
> Di mana ada aturannya AHJ tidak boleh mencalonkan diri apabila di
> pilpres 2019
> ini partai Demokrat tidak masuk salah satu kubu capres ?
> 
> Pada tanggal Jum, 7 Jun 2019 pukul 09.07 'Lusi D.'  <mailto:lusi_d@...> 
> lusi_d@...
> [GELORA45] < <mailto:[email protected]> [email protected]> 
> menulis:
> 
> >
> >
> > Tulisan Asyari ini saya unggah untuk melihat karakter dua
> > kepribadian dalam dunia politik.
> > Salam
> > Lusi.-
> >
> > SEPUTAR BERITA Am 06.06.2019 veröffentlicht
> >
> > Oleh: Asyari Usman
> >
> > Koreksi Prabowo Soal Pilihan Bu Ani, SBY Tunjukkan Jatidiri
> >
> > APAKAH salah Prabowo Subanto (PS) mengenang kebaikan almarhumah Bu
> > Ani terkait pilihan politik almarhumah? Sama sekali tidak.
> >
> > Lumrah saja seseorang mengenang kebaikan orang lain. Bahkan
> > dianjurkan orang yang bertakziah menceritakan kebaikan seseorang
> > yang meninggal dunia.
> >
> > Ketika ditanya para wartawan tentang kenangan dari almarhumah, Pak
> > PS langsung menjawab kebaikan Bu Ani pada 2014 dan 2019.
> >
> > “Beliau memilih saya,” kata Pak PS. Tidak ada yang aneh dengan
> > jawaban ini. Jawaban itu baru menjadi aneh setelah SBY malah
> > mengoreksinya. Andaikata dibiarkan berlalu, tidak akan ada orang
> > yang akan mempersoalkannya. Bukankah SBY dan Demokrat secara resmi
> > masih berkoalisi dengan Prabowo?
> >
> > Jadi, tidak ada yang salah. Tapi, SBY ‘kan sedang berduka? Juga
> > bukan masalah besar. Tidak ada yang sensitif. Pak PS hanya
> > menjelaskan kebaikan almarhumah Bu Ani. Bagi Pak Prabowo, itu
> > kebaikan yang sangat besar.
> >
> > Entah dengan alasan apa, SBY tersinggung ketika Pak PS menceritakan
> > pilihan almarhumah di pilpres 2014 dan 2019. Reaksi SBY inilah yang
> > berlebihan. Di sini, SBY menunjukkan jati dirinya terkait
> > pencapresan Prabowo. Reaksi SBY itu yang malah sangat politis.
> > Dalam arti, dia tidak mau publik tahu tentang kemungkinan adanya
> > “hypocrisy” (kemunafikan) di balik semua ini.
> >
> > Tampak sekali dengan nyata bahwa SBY, pada dasarnya, sangat tidak
> > suka kepada Prabowo. Dia hanya pura-pura mendukung. Kalau SBY benar
> > sepenuh hati mendukung, mengapa dia berkeberatan ketika Pak PS
> > menceritakan kebaikan Bu Ani? Mengapa dia harus harus meluruskan
> > pernyataan Prabowo itu?
> >
> > Ini jelas menunjukkan bahwa sejak awal SBY memang terpaksa mendukung
> > PS. Terpaksa karena pada pilpres 2024 anaknya, Agus Harimurti
> > Yudhoyono (AHY), tidak boleh mencalonkan diri apabila di pilpres
> > 2019 ini Demokrat tidak masuk ke salah satu kubu capres.
> >
> > Waktu itu, ke kubu Jokowi tidak bisa bergabung karena ditolak oleh
> > Megawati. Akhirnya mengemis ke kubu Prabowo di saat-saat akhir.
> > Prabowo terlalu baik menerima AHY. Padahal, tidak ada efek sama
> > sekali terhadap kemenangan Prabowo yang dirampok itu.
> >
> > Eh, sekarang setelah hajat mereka terpenuhi, yaitu tidak lagi ada
> > ancaman AHY terdisualifikasikan di pilpres 2024, SBY langsung
> > menusuk PS. Dia tak mau lagi dikait-kaitkan dengan Prabowo.
> > Betul-betul licik. Tak bisa dipercaya.
> >
> > Kata orang, SBY itu ahli strategi. Kalau saya berpendapat, SBY malah
> > ahli berbohong. Ahli bermunafik.
> >
> > Dari insiden koreksi ucapan Prabowo itu, saya malah yakin SBY tidak
> > mencoblos tanda gambar paslonpres 02 di TPS, 17 April. Bukti
> > tambahan? Dia sangat sibuk menjadi mediator antara Jokowi dan
> > Prabowo. SBY berusaha sekuat tenaga supaya Prabowo mengalah. Dia
> > puja-puji Prabowo sebagai “champion of democracy”, dlsb, kalau
> > menerima keputusan KPU.
> >
> > Kemudian SBY mendesak supaya PS bertemu dengan Jokowi. Semua anjuran
> > ini bermuara pada: sudahlah, terima saja kecurangan pilpres itu.
> > Itulah yang ingin dilakukan oleh SBY. Memang betul-betul…
> >
> > Tapi, tidak heran juga sesungguhnya. Di pilpres 2014, SBY malah
> > tidak membela besan dia sendiri, Hatta Radjasa, yang mendampingi
> > Prabowo. Besan dia saja dibiarkan, apalagi Prabowo.
> >
> > Saya paham hari-hari ini adalah hari duka SBY dan keluarganya. Tapi,
> > koreksi langsung yang sangat tidak perlu atas stetmen Prabowo,
> > sungguh tidak etis. Apa urgensinya meluruskan pernyataan itu? Toh,
> > pilpres sudah lewat.
> >
> > Pak PS bukan mencari dukungan ketika mau melayat ke Cikeas. Dia
> > hanya menuturkan kenangan baik dari Bu Ani. Tidak lebih dari itu
> > 
> > 

 



Kirim email ke