Chan: 
"... apa itu yg dibocorkan keluar oleh bu Ani saat pilpres 2014 dan lalu 
dibantah SBY?"

Sayang sekali banyak beritanya yang sudah hilang (kemungkinan 
dilenyapkan). Beruntung ketemu yang satu ini dari Suara Pembaruan. 
Semoga menjawab apa yang Anda tanyakan. 

Bisa dibilang situasi sekarang tidak jauh beda dengan 5 tahun lalu; 
peran kenegaraan babinsa menjadi simalakama bagi kubu 
oligarki.https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/246646
Ke istri dan anak-anak sendiri saja tega, kenapa ke besan tidak?


-


Cikeas Tiba-Tiba Membantah, Ada Apa?

Suara Pembaruan
Minggu, 13 Juli 2014 - 15:30
Presiden SBY pun sudah tahu perolehan pasangan Prabowo-Hatta sebanyak 54%, jauh 
mengalahkan pasangan Jokowi-JK yang hanya 46%.
Perolehan suara versi Cikeas ini berbanding terbalik dengan hasil delapan 
lembaga survei yang sangat kredibel dan dipercayai oleh publik yang memenangkan 
pasangan Jokowi-JK sekitar 52%. 

Mata publik pun terbelalak. Ada apa Presiden SBY membuat tabulasi sendiri? 

Apa maksud Presiden SBY membuat tabulasi yang hasilnya sama dengan Pusat 
Tabulasi Nasional Form C1 yang dikelola PKS, yang menempatkan Prabowo-Hatta 
memperoleh 54% unggul atas Jokowi-JK yang memperoleh 46%. 

Padahal tabulasi versi PKS sudah dibantah banyak pihak karena berbohong dan 
manipulatif. Banyak pihak pun meminta PKS menjelaskan mengapa hasil tabulasinya 
sama dengan hasil survei pada 5 Juli 2014? 

Menurut laporan http://www.jurnal3.com/,  sebuah portal berita yang beralamat 
Dk. Gogor V/7A, Jajartunggal, Wiyung, Surabaya, Tel: 031-60780705, E-Mail: 
[email protected], hasil quick count yang diklaim dimenangkan oleh kubu 
Jokowi-Jusuf Kalla, sepertinya beda jauh dengan hasil real count dari 478.828 
TPS se-Indonesia.
Informasi yang diperoleh, dari data pusat tabulasi nasional di Cikeas Center, 
pasangan Prabowo-Hatta unggul atas pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. 

Tabulasi Cikeas Center itu sendiri pernah dipamerkan kepada Jokowi-JK dan 
Prabowo-Hatta, saat keduanya diundang SBY ke Cikeas pada Rabu (9/7) lalu. 

Data yang belum terkonfirmasi menyebut, pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 54% 
dan Jokowi-JK 46%. Data itu berasal dari 97% TPS (464.662 TPS dari total 
478.828 TPS) se-Indonesia. 

Hasil  real count di Cikeas Center ini hampir sama dengan Pusat Tabulasi 
Nasional Form C1 yang dikelola PKS, yang menempatkan Prabowo-Hatta memperoleh 
54% unggul atas Jokowi-JK yang memperoleh 46%. 

Juga sama dengan hasil real countKartanegara Centre dimana Prabowo-Hatta 54% 
dan Jokowi-JK 46%. 

Bedanya, real count di Pusat Tabulasi Nasional PKS itu baru berasal dari 91% 
data TPS (435.733 TPS dari 478.828) se-Indonesia. 

Presiden SBY sepertinya sudah tahu siapa pemenang riil Pilpres 2014 melalui 
pusat informasi di Cikeas, dimana data dari seluruh Polsek dan Koramil 
se-Indonesia, langsung masuk ke Cikeas Center. 

Cikeas Center mengambil data dari tiap TPS yang dihitung di desa hingga ke 
kecamatan dan menjadi didata oleh Polsek dan Koramil setempat, dengan 
penanggung jawab Kapolsek dan Danramil masing-masing, yang tentu saja 
presisinya mencapai 99% valid. 

Tak hanya itu, data yang diperoleh Polsek dan Koramil setempat itu sudah 
melalui proses verifikasi di tingkat desa melalui Babinsa, sehingga dengan 
cepat data bisa dikirim ke Cikeas Center. 

Kecepatan data real count Cikeas Center ini karena Presiden SBY menggunakan 
jalur Polri dan TNI yang ada di seluruh Indonesia, sehingga wilayah paling 
pelosok pun bisa dijangkau. 

Proses ini tidak dimiliki oleh tim real count dari pihak manapun. Sejak dimulai 
perhitungan pada 9 Juli 2014 pukul 13.00, setiap Kapolres dan Dandim sudah 
diharuskan memegang data dari Polsek dan Danramil masing-masing untuk 
selanjutnya disetor ke data yang langsung diakses ke Cikeas Center.@arun. 

Bantah 

Informasi ini sangat mengagetkan, karena Presiden SBY justru menggunakan aparat 
negara untuk kepentingannya. Polri dan TNI adalah alat negara yang netral, 
tetapi  Presiden SBY menjadikan alat negara itu untuk kepentingannya. 

Juru Bicara (Jubir) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Julian Aldrin Pasha 
mengatakan, tak pernah ada penghitungan suara hasil pemilihann presiden 
(pilpres) yang dilakukan di Cikeas, daerah kediaman pribadi presiden.

"Kami menegaskan, tidak pernah ada tabulasi penghitungan suara di Cikeas atau 
tabulasi Cikeas Center," kata Julian melalui siaran pers, Minggu (12/7).

Sehubungan berita yang menyebutkan penghitungan suara pilpres terkait adanya 
tabulasi Cikeas Center, Julian kembali menegaskan, bahwa hal itu tidak ada.

Yang ada di Cikeas kata Julian, hanya fasilitas video conference, dimana 
presiden bisa berkomunikasi dengan jajaran pimpinan Tentara Nasional Indonesia 
(TNI) baik di pusat maupun di daerah. Fasilitas ini bertujuan untuk mengetahui 
situasi di lapangan.

"Tidak ada hubungan dengan penghitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan 
Umum (KPU). Oleh karena itu, presiden mengajak masyarakat agar tenang dalam 
mengikuti dan menerima hasil tabulasi suara yang sedang dilakukan KPU," kata 
dia.

Julian meminta agar masyarakat tidak terprovokasi oleh berita yang menurutnya 
tidak bertanggung jawab. 

Sementara itu, nomor telepon 031-60780705 milik Redaksi Jurnal3.com tidak bisa 
dihubungi, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. 

Terkait hal ini, anggota Timses Jokowi-JK, Eva Kusuma Sundari di Jakarta, 
Minggu, mengatakan, sikap Cikeas yang langsung membantah berita tersebut adalah 
bukti Presiden SBY selalu memantau perkembangan informasi seputar pilpres. 

“Kita mengapresiasi kepada Presiden SBY yang cepat mengklarifikasi  pemberitaan 
tersebut. Di sini menunjukkan Presiden SBY ingin mendinginkan situasi dan 
menyerahkan kepada KPU untuk melaksanakan tugas dengan jujur dan transparan,” 
katanya. [L-8] 

Kirim email ke