https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1535-gosip-kabinet
/*Gosip Kabinet*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Senin, 10 Jun
2019, 05:30 WIB podium <https://mediaindonesia.com/podiums>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1535-gosip-kabinet>
<https://twitter.com/home/?status=Gosip Kabinet
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1535-gosip-kabinet via
@mediaindonesia>
Gosip Kabinet
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/06/dd71acef40c2a41574e3794d3fa45aab.jpg>
/MI/
Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
KENAPA kita suka gosip? Kata pemenang Nobel Ekonomi (2002) Daniel
Kahneman, karena gosip jauh lebih mudah dicerna, sepanjang gosip itu
menyenangkan kita.
Dalam hal apa gosip mudah dicerna dan menyenangkan kita? Dalam hal
mengidentifikasi dan menandai kesalahan orang lain daripada untuk
mengenali kesalahan kita.
Begitulah gosip menyenangkan sepanjang mengenai orang lain. Sebaliknya,
gosip tidak menyenangkan bila menyangkut diri sendiri.
Bukankah menyenangkan digosipkan masuk ke kabinet Jokowi-Amin? Kerap
digosipkan menjadi menteri ternyata pepesan kosong, jelas bukan perkara
yang menyenangkan bagi yang berambisi. Padahal, itu kemungkinan besar
terjadi.
Di situlah letak perbedaan utama gosip masuk kabinet jika dibandingkan
dengan gosip artis kawin-cerai. Dalam gosip selebritas/entertainment
yang bersangkutan umumnya membantah isu selingkuh, isu kawin-cerai, tapi
kemudian perjalanan waktu yang tidak terlalu lama membuktikan
sebaliknya. Gosip itu benar. Karena tidak menyangkut diri kita, kita
mudah mencernanya, menikmatinya sebagai hiburan.
Gosip masuk kabinet bisa saja dilakukan diri yang ingin jadi menteri
dengan cara memakai tangan orang lain, tangan gatal melalui media
sosial. Inilah diri yang tidak percaya diri, bahkan tidak tahu diri. Dia
mengira mengorbitkan namanya dalam gosip masuk kabinet itu dapat membuat
Jokowi menimbang-nimbang namanya. Uji ombak, test the water, bahasa
gagahnya. Jokowi kok dites. Ono-ono wae.
Salah satu gosip sedap ialah gosip zaken kabinet, yaitu kabinet yang
menteri-menterinya berasal dari kalangan ahli di bidangnya. Tidak
sepenuhnya gosip karena pernah diberitakan zaken kabinet ini diusulkan
anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Ahmad
Syafii Maarif. Buya Syafii tokoh terpandang dan tepercaya, karena itu
saya menyebutnya sebagai gosip sedap. Usul itu masuk akal dalam sistem
presidensial yang normal.
Faktanya sistem presidensial kita belum normal benar. Parlemen
berkemampuan merecoki kabinet/pemerintah dengan macam-macam haknya.
Bahkan, ada menteri di era Jokowi yang ditolak kehadirannya di DPR
sampai sekarang.
Satu atau dua menteri elok ahli atau profesional di bidangnya, seperti
Menteri Kesehatan. Akan tetapi, lebih elok lagi kalau sang ahli juga
punya 'sense' dalam politik. Kabinet dapat tenang bekerja justru bila
koalisi pemerintahan juga merefleksikan koalisi parlemen. Tentu saja
dengan moral politik konstitusional yang tegas dan jelas, bahwa
mengangkat atau memberhentikan menteri merupakan hak prerogatif
presiden. Bos menteri bukan ketua umum partainya, tapi Presiden RI.
Gosip paling cantik ialah Jokowi bakal membawa Gerindra ke dalam
kabinet. Alasannya, siapa pun terpilih menjadi presiden, termasuk
Jokowi, presiden semua anak bangsa, termasuk presiden rakyat Indonesia
yang memilih Gerindra dalam pileg dan memilih Prabowo dalam pilpres.
Dalam perspektif itu membawa masuk Gerindra ke dalam kabinet perkara
yang indah.
Akan tetapi, keindahan itu bakal mengurangi keindahan lainnya, yaitu
indahnya checks and balances dalam demokrasi. Maka secantik-cantiknya
perkara baiklah Gerindra gagah perkasa sebagai oposisi yang berkeadaban
politik di DPR. Rasa hormat pada pemerintah yang dikritik dan dikontrol
tidak mengurangi keperkasaan oposisi.
Gosip kabinet ini sebetulnya gosip yang kurang sopan karena siapa
pemenang pilpres masih disengketakan di MK. Setidaknya gosip ini
mencerminkan ada orang-orang yang tidak sabaran, yang ngiler jabatan.
Bukankah presiden hasil Pilpres 17 April 2019 dilantik 20 Oktober 2019?
Kiranya baiklah air liur jabatan itu, ngeces itu ditahan tidak keluar di
ruang publik selama empat bulan ini. Elite mampu menahan diri kiranya
bagus untuk Indonesia.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1535-gosip-kabinet>
<https://twitter.com/home/?status=Gosip Kabinet
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1535-gosip-kabinet via
@mediaindonesia>